Lelaki Dayuts


ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ
Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya (dayuts).” (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain)
Lalu siapakah lelaki Dayuts itu?
Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu tetap menganggap baik pada keluarganya (padahal ada kemungkaran yang nyata -pen), kita berlindung kepada Allâh dari hal itu. [Al-Kabâ-ir, hlm. 137]
Imam Ibnul Manzhûr berkata, “Dayûts adalah orang yang tidak cemburu kepada keluarganya”. [Lisânul ‘Arab, 4/456]
Sedang Imam ‘Ali al-Qâri rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu dengan mendiamkannya. Yang masuk dalam ketagoeri keluarganya yaitu istrinya, budak wanitanya, atau kerabat wanitanya. Sedangkan keburukan yang dimaksud adalah zina, atau permulaannya. Termasuk keburukan adalah seluruh kemaksiatan, seperti minum khamr, tidak mandi junub, dan semacamnya. Ath-Thîbiy berkata, “Dayûts adalah orang yang melihat pada mereka (keluarganya yang wanita) sesuatu yang menyusahkannya (yaitu kemungkaran-pen), tetapi dia tidak cemburu kepada mereka dan tidak melarang mereka, sehingga dia membenarkan kekejian atau keburukan pada keluarganya.” [Mirqâtul Mafâtih, 7/241]
Dan Syaikh Abdulaziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang ridha adanya perbuatan keji pada keluarganya (istrinya), yaitu mendiamkannya terhadap perbuatan zina, tidak melarangnya, tidak marah karena Allâh Azza wa Jalla , karena rasa cemburunya sedikit dan imannya lemah. Adapun orang yang telah berusaha mengingkarinya dan menghalanginya dari perbuatan keji, maka orang ini tidak disebut dayûts”. [Fatâwâ Islâmiyyah, 3/118]
Yang dimaksud tidak punya rasa cemburu dari suami adalah membiarkan keluarganya bermaksiat tanpa mau mengingatkan. Bentuknya pada masa sekarang adalah:
1- Membiarkan istri atau anak perempuannya posting foto di media sosial dengan maksud memamerkan kecantikan atau keseksian tubuh.
2. Membiarkan istri atau anak perempuannya keluyuran tanpa hijab, parahnya berbaju seksi dan menampakkan aurat dan mengundang birahi.
3. Membiarkan istri dan anak perempuannya berdandan menor (tabarruj) di luar rumah.
4. Membiarkan anak perempuan atau anggota keluarga perempuan berhubungan via telepon atau messenger dengan laki-laki yang bukan mahram. Mereka saling berbincang hangat, sambil bercumbu rayu, padahal tidak halal.
5- Mengizinkan anggota keluarga perempuan berpacaran dengan lelaki bukan mahram.
6- Mentolerir kemaksiatan anggota keluarga seperti minum minuman keras, berzina atas nama cinta dan sayang.
Demi Allah, Allah akan MENGHARAMKAN lelaki macam itu untuk masuk SURGA.
Mengapa tanggung jawab atas keluarga terutama kaum perempuan ada di tangan laki-laki, baik suami atau ayah? Karena Allâh  telah menjadikan kepemimpinan bagi laki-laki terhadap istrinya. Kepemimpinan di sini untuk menjaga kebaikan-kebaikan yang berkaitan dengan dunia dan agama. Sehingga termasuk kepemimpinan suami adalah mendorongnya untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allâh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. [An-Nisaa’/4: 34]
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita dengan mengharuskan para wanita melaksanakan hak-hak Allâh, yaitu menjaga kewajiban-kewajiban dari Allâh, dan mencegah kaum wanita dari keburukan-keburukan”. [Tafsir As-Sa’di]
Hal ini sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [At-Tahrîm/66: 6]
Seorang lelaki(kepala rumah tangga) adalah pemimpin/pengatur terhadap keluaganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya
Seorang lelaki tidak akan ditanya, bagaimana karir istrinya di dunia, prestasi duniawi anaknya di dunia, seberapa hebat istrinya menyimpan uang dan berinvestasi, dan lain sebagainya. 
Seorang lelaki akan ditanya, seberapa baik sang istri dan anak perempuannya menjaga kehormatannya dengan tidak mengumbar aurat. Seberapa baik istrinya mengaji dan mendidik anaknya supaya menjadi muslim yang baik dan berakhlakul karimah. 
Lucunya banyak lelaki muslim yang bangga sekali ketika istri dan anaknya dibilang cantik dan seksi oleh 'dunia'. Dan bangga sekali melihat istri dan anak perempuannya sukses duniawi, tak mengapa pamer aurat asal muslim?
Naudzubillahimindzalik. 
"Perempuan baik-baik hanya untuk lelaki baik-baik. Bila perempuan baik-baik terpaksa berpasangan dengan lelaki tidak baik maka Allah akan pisahkan mereka secara paksa. Agar sang perempuan baik-baik mendapatkan imam terbaik di dunia dan akhirat." 




Comments

Popular posts from this blog

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019