Lelaki Dayuts

Image
ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya (dayuts).” (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Lalu siapakah lelaki Dayuts itu? Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu tetap menganggap baik pada keluarganya (padahal ada kemungkaran yang nyata -pen), kita berlindung kepada Allâh dari hal itu. [Al-Kabâ-ir, hlm. 137] Imam Ibnul Manzhûr berkata, “Dayûts adalah orang yang tidak cemburu kepada keluarganya”. [Lisânul ‘Arab, 4/456] Sedang Imam ‘Ali al-Qâri rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu dengan mendiamkannya. Yang masuk dalam ketagoeri keluarganya yaitu istriny…

Kamu Dimana?


Hari mulai senja, sambil menyeruput kopi dingin di sebuah kafe bernama Kafe Kenangan. Satu persatu kenangan akan dirimu berseliweran tanpa permisi di pelupuk mata. Senyum manis yang tersungging di wajah perpaduan Arab dan Batak, pupil mata coklat, dan bulu mata lentikmu seakan nyata di depanku. 

Kamu tahu kan, kalau aku tidak pernah menyukai kopi. Asam lambungku bisa naik bila menyesap kopi. Meski sama-sama kafein, lambungku lebih bersahabat dengan teh. Tapi sore ini, atas nama kenangan, aku ingin menyicipi kopi kegemaranmu.

Tiba-tiba, alam pikiranku mundur ke hampir 19 tahun lalu. Gadis manis berwajah Arab itu duduk tanpa kerudung di kelas yang masih sepi. Aku berbasa-basi sejenak, sebelum menyodorkan tangan kananku. "Risma..."

Kamu bingung, mata coklatmu menatapku tajam. Kemudian tersenyum dan menyambut tanganku, "Khadijah Hasibuan..."

"Oh....orang Batak?" Tanyaku sok tahu.

"Tepatnya Tapanuli Selatan..."

Dan aku ber-o ria. 

"Aku dari Jakarta..." aku memperkenalkan diri dengan sopan.

"Iya tau....dari gayanya sudah terlihat...." Khadijah yang dikemudian hari kupanggil DJ pun menyahut dengan logat khas Bataknya. Dan sejak itu kami berteman.

Pertemanan kami jelas bukan pertemanan biasa. Semakin hari, derajat pertemanan kami meningkat, lama-lama aku merasa dia lebih cocok kusebut sahabat dibanding hanya teman biasa.

Sepanjang masa kuliah, aku menghabiskan masa-masa indah dengan dia dan keempat sahabatku yang lain; Widi, Dewi, Irma dan Ari. Sesekali memang Isma menjadi bagian dari kelompok kita. 

Kamu masih ingat kan, masa-masa indah kita di desa-desa tempat kita menghabiskan masa praktikum kuliah pertanian. Kamu mengajari aku untuk tangguh dan tidak menjadi cengeng. Aku pikir kamu itu perempuan tegar. Hidup yang keras mengajari kamu untuk tegar.

Kita pun bertumbuh bersama, lulus dari universitas negeri dan kamu memilih mengadu nasib di ibukota. Kesibukan kita kala itu, tidak menghalangi aku dan kamu untuk selalu bersama, setidaknya menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Terkadang malah kamu menemaniku berhari-hari hanya untuk sekedar bercerita tentang hal-hal remeh hingga serius.

Kita kami semua menikah dan punya anak, kamu mulai menjauh. Dan tiba-tiba secara perlahan lenyap dari aku, Widi, Dewi, Irma dan Ari.

Aku mencari kamu DJ! Kami mencarimu. 

Terbayang tidak, dari sahabat terdekat kemudian kamu menghilang tanpa jejak. Tanpa jejak! Semua orang yang kupikir bisa menghubungkan aku denganmu lagi tetiba tutup mulut.

Kamu tahu kalau aku social media enthusiast. Maka kamu menutup semua akunmu, membiarkannya tak bertuan.

Hampir 4 tahun, kamu hilang tanpa jejak. Tetapi setiap saat aku tak lupa berdoa, semoga kamu baik-baik saja. 

Kamu tahu kan kemana harus menghubungi aku? 

Comments

Popular posts from this blog

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019