Kamu Dimana?

Image
Hari mulai senja, sambil menyeruput kopi dingin di sebuah kafe bernama Kafe Kenangan. Satu persatu kenangan akan dirimu berseliweran tanpa permisi di pelupuk mata. Senyum manis yang tersungging di wajah perpaduan Arab dan Batak, pupil mata coklat, dan bulu mata lentikmu seakan nyata di depanku. 
Kamu tahu kan, kalau aku tidak pernah menyukai kopi. Asam lambungku bisa naik bila menyesap kopi. Meski sama-sama kafein, lambungku lebih bersahabat dengan teh. Tapi sore ini, atas nama kenangan, aku ingin menyicipi kopi kegemaranmu.
Tiba-tiba, alam pikiranku mundur ke hampir 19 tahun lalu. Gadis manis berwajah Arab itu duduk tanpa kerudung di kelas yang masih sepi. Aku berbasa-basi sejenak, sebelum menyodorkan tangan kananku. "Risma..."
Kamu bingung, mata coklatmu menatapku tajam. Kemudian tersenyum dan menyambut tanganku, "Khadijah Hasibuan..."
"Oh....orang Batak?" Tanyaku sok tahu.
"Tepatnya Tapanuli Selatan..."
Dan aku ber-o ria. 
"Aku dari Jak…

Baju untuk Shalat

Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 

Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.

Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 

Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring sambil naik turun bukit di medan berbatu dan tanah lempung.

Kami pun tiba di persinggahan pertama, rumah nenek tua yang lebih mirip kandang kambing.  Lengkap dengan tumpukan kayu bakar dan daun kelapa kering. Kami mengucap salam, seorang nenek yang konon tinggal sebatang kara keluar dari gubuk bambunya. Rambut putih awut-awutan lengkap dengan kemben dari karung goni bekas terigu yang juga sudah compang-camping. 

Saya dan Aqil terpana, tak percaya kalau orang yang masuk daftar 'separah' itu. Saya mengusap air mata yang tanpa permisi mengalir keluar. Sedang Aqil berupaya mengajak bicara sang nenek dengan bahasa Jawa halus. Sang nenek seperti sedang memasak, karena ada panci tanah liat di atas tungku tanah liat yang menyala. Sesekali nenek mengatur kayu bakar.

Mata liar saya berkeliling ke gubuk bambu beralaskan tanah berukuran 2X3 M. Tidak ada ranjang, hanya ada 'amben' kayu tempat dia merebah dengan gombalan, di depan tungku. Malam dengan dingin yang menggigit pasti agak hangat dengan tidur di dekat tungku sisa pembakaran. Apalagi angin malam bisa masuk dengan bebas lewat sela-sela bambu. 

Saya terlalu terpana, sampai tak sempat memfoto atau memvideokan. Baru ingat foto saat kami hendak pamit. Si nenek pun mohon diri untuk berganti pakaian yang lebih layak. Baju biru dan jilbab, satu-satunya pakaian terbaik yang dimilikinya. 

Di rumah target lainnya pun tak kalah mengenaskan. Ada seorang lelaki tua duduk di bangku kayu  gubug bambunya. Lelaki tua itu tidak berbaju, hanya celana panjang lusuh yang digulung sampai betis. Lelaki tua itu mohon maaf karena menerima kami tanpa pakaian layak.

Lelaki tua ini adalah salah satu binaan, sepupu saya yang da'i di kampung. Kata Mas Soeb, sepupu yang da'i kampung tempo hari saat pendataan warga muslim. Lelaki yang tak pernah terlihat datang ke masjid walaupun untuk shalat Eid setahun 2 kali, itu selalu luput dari pemberian santunan karena rumahnya di gunung, susah dijangkau dan jarang terlihat.

Lelaki itu mengaku sudah bertahun-tahun tidak shalat karena tidak punya baju layak untuk shalat. Subhanallah, dada saya bergemuruh, air mata nyaris tumpah. Dan rasanya saya ingin meraung-raung, mengingat betapa saya punya koleksi baju yang bahkan beberapa belum pernah dipakai.

Sepupu saya memberikan beberapa baju koko dan sarung, lelaki itu pun rajin shalat. Dia sangat senang, saking senangnya bajunya dipakai hanya saat menghadap Allah. Akhirnya sehari-hari tetap bertelanjang dada. Atau dipakai saat ada acara penting saja.

Saya pun bercerita dengan keluarga, dan sahabat tentang temuan saya itu. Saya bilang dengan Mas Soeb untuk kembali mendata jumlah keluarga fakir miskin, terutama mereka yang butuh baju dan perlengkapan shalat. Insyaa Allah, lain kali saya akan kembali kali ini bersama pasukan sedekah rombongan untuk berbagi pakaian baru dan bekas yang masih sangat layak dipakai, juga kebutuhan lain. 

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ
Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122 dan Tirmidzi no. 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Kalau kita sehat,  masih punya tempat berteduh, makanan yang dimakan hari ini, dan pakaian layak pakai. Maka sesungguhnya kita kaya raya! Ada sebagian harta kita milik mereka yang membutuhkan. 

Nah, itu koleksi pakaian sedekahkan saja! Biar tidak kelamaan dihisabnya.


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset