Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Pada Suatu Hari....



Kalau ditanya, apa kenangan Ramadhan paling berkesan sewaktu kecil. Saya pasti akan jawab, "hampir semuanya berkesan."

Saya mulai berlatih puasa hingga Maghrib sejak di bangku TK. Tidak selalu sehari penuh. Tapi setidaknya sejak TK hingga masa baligh saya sudah terbiasa puasa penuh di bulan Ramadhan. Apalah yang diincar oleh anak bau kencur selain hadiah lebaran untuk yang rajin puasa.

Saat bulan puasa, saya tetap dapat jatah uang jajan. Bukan untuk jajan makanan memang. Tetapi beragam mainan dari kartu, bola bekel, monopoli, congklak dan lainnya. 

Siang hari bolong, menunggu waktu berbuka yang masih lama tanpa gadget. Maka kami biasa berkumpul untuk bermain bola bekel, kartu dan lainnya. Baru bubar saat azan Ashar. Setelah azan Ashar, situasi lebih kondusif, karena layar kaca di zaman itu sudah dipenuhi aneka tayangan ramah anak untuk menunggu berbuka puasa.

Berbuka puasa menjadi saat yang sangat ditunggu. Rasanya saat berbuka puasa di keluarga kami yang sederhana jadi terlihat agak 'wah'. Tidak hanya nasi, sayur dan lauk yang terhidang. Tetapi juga ada es atau kolak dan gorengan. Semua bikinan ibu. Lucunya, kenyang makan masih tergoda untuk berburu jajanan sepulang taraweh dengan sedikit uang jajan yang tersisa. 

Mau tahu bagaimana semangatnya kami para bocah untuk tarawih. Buka puasa masih setengah jalan, sudah langsung lari membawa mukena dan sajadah ke masjid terdekat untuk berebut tempat tarawih. Hanya sekedar menggelar sajadah di saf yang 'cozy' lalu pulang lagi melanjutkan makan. Kelar tarawih langsung tadarus di masjid. Pasalnya, saat itu masjid menyediakan uang THR bagi anak-anak yang rajin tadarus. Keren kan?

Selepas sahur biasanya kami langsung bergegas ke masjid untuk ikut shalat Subuh berjamaah. Baru kemudian tadarus atau ikut kultum Subuh. Kok rajin?

Iya, karena anak sekolah pada zaman itu mendapat buku agenda Ramadhan yang mengharuskan kita menyontreng ibadah yang kami lakukan selama bulan Ramadhan, dari shalat lima waktu, tarawih, dan lainnya. Bahkan kami harus meminta tanda-tangan ustadz yang berceramah atau menjadi imam shalat Tarawih. 

Kelar libur lebaran, semuanya harus dikumpulkan ke guru agama dan dinilai. Kira-kira seseru itu Ramadhan di masa kecil saya.

Kalau kamu bagaimana?

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak