Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Pada Suatu Hari....



Kalau ditanya, apa kenangan Ramadhan paling berkesan sewaktu kecil. Saya pasti akan jawab, "hampir semuanya berkesan."

Saya mulai berlatih puasa hingga Maghrib sejak di bangku TK. Tidak selalu sehari penuh. Tapi setidaknya sejak TK hingga masa baligh saya sudah terbiasa puasa penuh di bulan Ramadhan. Apalah yang diincar oleh anak bau kencur selain hadiah lebaran untuk yang rajin puasa.

Saat bulan puasa, saya tetap dapat jatah uang jajan. Bukan untuk jajan makanan memang. Tetapi beragam mainan dari kartu, bola bekel, monopoli, congklak dan lainnya. 

Siang hari bolong, menunggu waktu berbuka yang masih lama tanpa gadget. Maka kami biasa berkumpul untuk bermain bola bekel, kartu dan lainnya. Baru bubar saat azan Ashar. Setelah azan Ashar, situasi lebih kondusif, karena layar kaca di zaman itu sudah dipenuhi aneka tayangan ramah anak untuk menunggu berbuka puasa.

Berbuka puasa menjadi saat yang sangat ditunggu. Rasanya saat berbuka puasa di keluarga kami yang sederhana jadi terlihat agak 'wah'. Tidak hanya nasi, sayur dan lauk yang terhidang. Tetapi juga ada es atau kolak dan gorengan. Semua bikinan ibu. Lucunya, kenyang makan masih tergoda untuk berburu jajanan sepulang taraweh dengan sedikit uang jajan yang tersisa. 

Mau tahu bagaimana semangatnya kami para bocah untuk tarawih. Buka puasa masih setengah jalan, sudah langsung lari membawa mukena dan sajadah ke masjid terdekat untuk berebut tempat tarawih. Hanya sekedar menggelar sajadah di saf yang 'cozy' lalu pulang lagi melanjutkan makan. Kelar tarawih langsung tadarus di masjid. Pasalnya, saat itu masjid menyediakan uang THR bagi anak-anak yang rajin tadarus. Keren kan?

Selepas sahur biasanya kami langsung bergegas ke masjid untuk ikut shalat Subuh berjamaah. Baru kemudian tadarus atau ikut kultum Subuh. Kok rajin?

Iya, karena anak sekolah pada zaman itu mendapat buku agenda Ramadhan yang mengharuskan kita menyontreng ibadah yang kami lakukan selama bulan Ramadhan, dari shalat lima waktu, tarawih, dan lainnya. Bahkan kami harus meminta tanda-tangan ustadz yang berceramah atau menjadi imam shalat Tarawih. 

Kelar libur lebaran, semuanya harus dikumpulkan ke guru agama dan dinilai. Kira-kira seseru itu Ramadhan di masa kecil saya.

Kalau kamu bagaimana?

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya