Lelaki Dayuts

Image
ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya (dayuts).” (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Lalu siapakah lelaki Dayuts itu? Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu tetap menganggap baik pada keluarganya (padahal ada kemungkaran yang nyata -pen), kita berlindung kepada Allâh dari hal itu. [Al-Kabâ-ir, hlm. 137] Imam Ibnul Manzhûr berkata, “Dayûts adalah orang yang tidak cemburu kepada keluarganya”. [Lisânul ‘Arab, 4/456] Sedang Imam ‘Ali al-Qâri rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu dengan mendiamkannya. Yang masuk dalam ketagoeri keluarganya yaitu istriny…

Pada Suatu Hari....



Kalau ditanya, apa kenangan Ramadhan paling berkesan sewaktu kecil. Saya pasti akan jawab, "hampir semuanya berkesan."

Saya mulai berlatih puasa hingga Maghrib sejak di bangku TK. Tidak selalu sehari penuh. Tapi setidaknya sejak TK hingga masa baligh saya sudah terbiasa puasa penuh di bulan Ramadhan. Apalah yang diincar oleh anak bau kencur selain hadiah lebaran untuk yang rajin puasa.

Saat bulan puasa, saya tetap dapat jatah uang jajan. Bukan untuk jajan makanan memang. Tetapi beragam mainan dari kartu, bola bekel, monopoli, congklak dan lainnya. 

Siang hari bolong, menunggu waktu berbuka yang masih lama tanpa gadget. Maka kami biasa berkumpul untuk bermain bola bekel, kartu dan lainnya. Baru bubar saat azan Ashar. Setelah azan Ashar, situasi lebih kondusif, karena layar kaca di zaman itu sudah dipenuhi aneka tayangan ramah anak untuk menunggu berbuka puasa.

Berbuka puasa menjadi saat yang sangat ditunggu. Rasanya saat berbuka puasa di keluarga kami yang sederhana jadi terlihat agak 'wah'. Tidak hanya nasi, sayur dan lauk yang terhidang. Tetapi juga ada es atau kolak dan gorengan. Semua bikinan ibu. Lucunya, kenyang makan masih tergoda untuk berburu jajanan sepulang taraweh dengan sedikit uang jajan yang tersisa. 

Mau tahu bagaimana semangatnya kami para bocah untuk tarawih. Buka puasa masih setengah jalan, sudah langsung lari membawa mukena dan sajadah ke masjid terdekat untuk berebut tempat tarawih. Hanya sekedar menggelar sajadah di saf yang 'cozy' lalu pulang lagi melanjutkan makan. Kelar tarawih langsung tadarus di masjid. Pasalnya, saat itu masjid menyediakan uang THR bagi anak-anak yang rajin tadarus. Keren kan?

Selepas sahur biasanya kami langsung bergegas ke masjid untuk ikut shalat Subuh berjamaah. Baru kemudian tadarus atau ikut kultum Subuh. Kok rajin?

Iya, karena anak sekolah pada zaman itu mendapat buku agenda Ramadhan yang mengharuskan kita menyontreng ibadah yang kami lakukan selama bulan Ramadhan, dari shalat lima waktu, tarawih, dan lainnya. Bahkan kami harus meminta tanda-tangan ustadz yang berceramah atau menjadi imam shalat Tarawih. 

Kelar libur lebaran, semuanya harus dikumpulkan ke guru agama dan dinilai. Kira-kira seseru itu Ramadhan di masa kecil saya.

Kalau kamu bagaimana?

Comments

Popular posts from this blog

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019