Kamu Dimana?

Image
Hari mulai senja, sambil menyeruput kopi dingin di sebuah kafe bernama Kafe Kenangan. Satu persatu kenangan akan dirimu berseliweran tanpa permisi di pelupuk mata. Senyum manis yang tersungging di wajah perpaduan Arab dan Batak, pupil mata coklat, dan bulu mata lentikmu seakan nyata di depanku. 
Kamu tahu kan, kalau aku tidak pernah menyukai kopi. Asam lambungku bisa naik bila menyesap kopi. Meski sama-sama kafein, lambungku lebih bersahabat dengan teh. Tapi sore ini, atas nama kenangan, aku ingin menyicipi kopi kegemaranmu.
Tiba-tiba, alam pikiranku mundur ke hampir 19 tahun lalu. Gadis manis berwajah Arab itu duduk tanpa kerudung di kelas yang masih sepi. Aku berbasa-basi sejenak, sebelum menyodorkan tangan kananku. "Risma..."
Kamu bingung, mata coklatmu menatapku tajam. Kemudian tersenyum dan menyambut tanganku, "Khadijah Hasibuan..."
"Oh....orang Batak?" Tanyaku sok tahu.
"Tepatnya Tapanuli Selatan..."
Dan aku ber-o ria. 
"Aku dari Jak…

Pilpres Rasa Lebaran


Lama tak menulis, sepertinya saya harus mengabadikan salah satu momen seru di hari pencoblosan tanggal 17 April 2019 kemarin. Pilpres kemarin beda. Bukan hanya karena atmosfer politik yang agak memanas selama musim Pilpres juga karena ada momen seru yang tak terlupakan. Saya  bertemu dengan saudara yang bahkan sudah lama tak terlintas di pikiran saya. Sudah lebih dari 10 tahun tak bertemu dan saling kontak.

Alkisah, saudara saya ini sedang merantau ke Jakarta, kerjanya di Bekasi. Tempat tinggal asalnya di Bojonegoro. Jelang Pilpres, mereka kebingungan karena undangan DPT malah sampai di rumah orang tua mereka di Bojonegoro, bukan di alamat sekarang. Karena tak ingin kehilangan hak pilih, mereka mencoba ikhtiar untuk mendaftar DPT tambahan. Keliling Bekasi dan Jakarta, penuh semua. 

Namun, beruntung menjelang deadline mereka akhirnya dapat DPT tambahan di wilayah yang bahkan mereka belum pernah menginjakkan kaki sebelumnya, yaitu di TPS 55. Dan Qadarallah, itu tempat saya mencoblos. Karena dia DPT tambahan, maka hanya berhak memilih presiden.

Saudara saya Hakam dan istrinya yang juga penghafal Quran tetiba teringat akan keluarga kami yang tinggal di seputaran Ciputat. Dapat nomer kami dari salah satu kerapat di Jawa, langsung menghubungi kami. Dan yeah.... dia pun mengunjungi rumah kami yang cuma sepelemparan. Sungguh sebuah pertemuan yang tak terduga untuk sebuah reuni keluarga.

Tetiba saya ingat tentang kisah keluarga Hakam. Dari Hakam dan adiknya masih kecil, di rumah mereka memang tidak ada TV. Mereka fokus belajar dan menghafal Quran, makanya tak heran kalau Hakam dan adiknya pandai. Sewaktu saya kecil, mereka ini semacam family goals banget untuk saya. 

Kebahagiaan keluarga itu sempat berhenti sejenak, saat ibunda Hakam meninggal dunia karena sakit. Ayah, Hakam dan sang adik laki-laki amat bersedih kehilangan sosok lembut yang menciptakan surga di rumah. Tapi hidup harus tetap berjalan bukan. Mereka bertiga pun kembali melanjutkan hidup dengan tertatih-tatih.

Qadarallah, akhirnya ayah Hakam menikah lagi. Dan Subhanallah, Allah memilihkannya juga perempuan penghafal Quran. Dan ternyata, ibu sambungnya dahulu adalah perawat rumah sakit tempat ibunda Hakam menghembuskan nafas terakhir. Lama tak jumpa, malah dijodohkan dan menikah. 

Wah, takdir Allah itu keren ya! Kalau tidak ada Pilpres kemarin mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi di Jakarta, dan kisah keluarga mereka mungkin akan terus terkubur di memori saya yang paling dalam.

Jadi Pilpres kali ini benar-benar berasa lebaran. Selain karena jalanan sepi, silaturahmi yang sudah sekian lama terputus juga tersambung.

Menyoal soal Pilpres, jauh sebelum kita dilahirkan, segala sesuatu yang terjadi sekarang sudah tercatat di lauhul mahfuz termasuk siapakah presiden yang akan terpilih, dan segala bentuk kecurangan yang terjadi. Takdir Allah pasti baik. Sekalipun curang kalau Allah menakdirkan menang ya menang. Tapi nanti segala sesuatu pasti akan diperhitungkan di akhirat nanti. Termasuk kita para pemilih dan simpatisan. Semua ada perhitungannya masing-masing.

Sabar saja menunggu hasil, tak perlu saling ejek. Perhitungan suara real count baru 4 %. Quick Count itu menggunakan metode statistika random sampling, pemilihan sample acak. Jadi bukan keseluruhan TPS yang berjumlah 813.350 TPS. 

Tak perlu jumawa kalau menang, tak perlu sedih kalau kalah. Menang kalah itu biasa, tak perlu adu argumen, santai saja. Ada Allah! Di akhirat nanti semua akan diperhitungkan, kenyinyiran kita yang saling tuding pihak sebelah, kecurangan kita, dan lainnya.

Soal politik uang itu memang benar. Demi Allah keluarga kami mendapat amplop senilai 150 ribu untuk memilih salah satu caleg. Uangnya diterima karena 'dipaksa' tetangga. Padahal tanpa disuap, pasti kami pilih tetangga yang caleg. 

Alhamdulillah uangnya diterima, tapi itu uang tergeletak di meja, tidak ada yang berani nyentuh. Akhirnya masuk kotak amal juga. Sebenarnya sempat tergoda untuk beli makanan dan pasir untuk kucing saya di rumah. Tapi urung juga, takut si Glen jadi sakit atau sulit diatur karena makan uang suap. 

Eh kok, jadi cerita ngalor-ngidul. Sudah dulu ya.... Lain kali disambung kalau tidak terlalu sibuk dan sedikit galau.



Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset