Kamu Dimana?

Image
Hari mulai senja, sambil menyeruput kopi dingin di sebuah kafe bernama Kafe Kenangan. Satu persatu kenangan akan dirimu berseliweran tanpa permisi di pelupuk mata. Senyum manis yang tersungging di wajah perpaduan Arab dan Batak, pupil mata coklat, dan bulu mata lentikmu seakan nyata di depanku. 
Kamu tahu kan, kalau aku tidak pernah menyukai kopi. Asam lambungku bisa naik bila menyesap kopi. Meski sama-sama kafein, lambungku lebih bersahabat dengan teh. Tapi sore ini, atas nama kenangan, aku ingin menyicipi kopi kegemaranmu.
Tiba-tiba, alam pikiranku mundur ke hampir 19 tahun lalu. Gadis manis berwajah Arab itu duduk tanpa kerudung di kelas yang masih sepi. Aku berbasa-basi sejenak, sebelum menyodorkan tangan kananku. "Risma..."
Kamu bingung, mata coklatmu menatapku tajam. Kemudian tersenyum dan menyambut tanganku, "Khadijah Hasibuan..."
"Oh....orang Batak?" Tanyaku sok tahu.
"Tepatnya Tapanuli Selatan..."
Dan aku ber-o ria. 
"Aku dari Jak…

Memaafkan Tapi Tidak Melupakan


Siapa yang tidak pernah marah sepanjang hidupnya? Saya yakin pasti tidak ada orang yang tidak pernah marah. 

Tetapi pernah tidak kamu marah dengan seseorang yang sudah sangat keterlaluan melukai kamu, hingga kamu sulit memaafkan. Meskipun akhirnya kamu memilih untuk memaafkannya, tetapi rasanya berat sekali untuk melupakan setiap goresan yang pernah melukai hati kamu oleh ulahnya.

Saya pernah!

Kalau saja, Allah yang Maha Pemaaf tidak menyuruh umat-Nya untuk memaafkan. Mungkin saya pilih untuk tidak memaafkan selama-lamanya. 

Akhirnya saya memang memaafkan, tetapi saya belum bisa melupakannya. Makanya saya pilih menghilang dan menghindar hingga waktu membantu saya melupakannya. Apalagi ini kesalahannya terlalu banyak, dan ditutup dengan kesalahan terfatal. Jadi saya susah untuk menghapusnya dari memori.

Forgivebut please don't forgetForgive and forget are not synonymous



Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset