Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

PIHU


Kemarin sewaktu saya berselancar di Instagram. Tak sengaja saya melihat trailer film India berjudul 'Pihu'. Konon film yang tayang 16 November 2018 lalu di India mendapatkan banyak penghargaan internasional. Film ini diangkat dari kisah nyata.

Satu menit trailer yang membuat saya akhirnya browsing demi bisa melihat full movie. Saya malah menemukannya di Facebook Watch. Film berdurasi 1,5 jam yang disutradarai oleh Vinod Kapri. 

Sebetulnya inti kisah dari film ini adalah tentang petualangan seorang anak berusia 2 tahun, Pihu (Myra Vishwakarma) di rumahnya sendiri. Meski hanya di rumah sendiri, bocah yang baru saja berulang-tahun itu harus mengalami peristiwa-peristiwa paling mencekam untuk bocah seusia dia tanpa pengawasan orang dewasa sama sekali. 

Kisah dimulai pada pagi hari seusai pesta ulang tahun yang meninggalkan sampah dan barang-barang sisa pesta yang berceceran. Pihu yang baru bangun tidur berusaha memanggil ibunya yang terlihat sedang tidur dengan wajah pucat. Namun sekeras apapun upaya Pihu membangunkan sang ibu, tak juga membuahkan hasil. Sang ibu tetap tak membuka mata. 

Tetiba Pihu ingin buang air besar. Pihu yang panik akhirnya berusaha menutupi kepanikannya. Pergi ke toilet, memasang potty training di WC duduk, membuka celana dengan susah payah, pup dan berikutnya Pihu tak tahu bagaimana harus membersihkan diri.

Telepon berbunyi, rupanya dari sang ayah yang sedang perjalanan dinas tapi marah dengan ibu Pihu. Pihu tak mengerti kenapa sang ayah marah-marah, padahal Pihu pun bingung menghadapi kesendiriannya. 

Pihu lagi-lagi berupaya membangunkan sang ibu. Sang ibu tetap tak bergemin, tetiba sebuah botol berisi pil obat penenang, terjatuh dari genggaman sang ibu. Pihu memunguti pil yang berceceran. Sambil menimang-nimang untuk mencicipi obat ibunya itu.

Tetiba Pihu lapar. Susu di botolnya yang dengan susah payah diraih, jatuh dan tumpah ke lantai. Pihu jalan ke dapur menemukan sisa chapatti (roti India). Ia mencoba menghangatkannya di microwave. Tentu saja Pihu tidak tahu bagaimana menyalakan, mengatur lama penghangatan dan mematikannya. Akhirnya rotinya gosong tak bisa dimakan. 

Pihu tak menyerah, ia mencoba menyalakan kompor gas untuk memanggangnya. Dan yah, Pihu berhasil menyalakan tetapi tidak tahu cara mematikannya. Akhirnya rotinya gosong juga. 

Di dapurnya itu ada keran air yang terbuka. Airnya mulai luber. Di lantai ada stop kontak, belum lagi pemanas air yang menyala dan kompor yang menyala. 

Pihu akhirnya menemukan makanan di kulkas. Setelah membuat roti dengan selai dan memakannya. Ia pun membawakan juga untuk sang ibu. Namun sayang sang ibu tidak juga bangun.

Sang ibu mati overdosis obat penenang setelah berantem dengan sang ayah. Sang ibu marah karena suaminya dianggap berselingkuh dengan perempuan lain. Kebetulan saat itu suaminya harus berangkat untuk meeting di Kolkata.

Di dalam kamar, tak kalah horor. Ada setrikaan menyala dan bahkan sudah membakar baju Pihu. Sebenarnya sang ayah menelepon istrinya berkali-kali agar segera mencabut setrikaan, hanya saja karena sang ibu sudah meninggal. Hanya Pihu yang menerima telepon. 

Konon Vinod Kapri, sang sutradara adalah salah satu sutradara kenamaan di India. Berkat kelihaiannya meramu cerita, film berdurasi 1,5 jam ini menjadi film dengan cerita yang tak biasa. Penonton diajak melihat sebuah monolog yang dilakukan oleh anak berusia dua tahun dengan gaya dan bahasanya sendiri, tanpa ada orang lain! 

Myra melakoni perannya dengan sangat baik, bahkan aktingnya terlihat sangat natural. Semua mimpi buruk tiap orang tua ketika meninggalkan anaknya seorang diri tanpa pengawasan, dihadirkan Vinod dengan sempurna, dari bahaya kesetrum, terbakar, kena pecahan beling botol yang jatuh kelantai, jatuh dari ketinggian, bahkan keracunan obat. 

Vinod pun berani mengeksploitasi elemen-elemen paling berbahaya untuk anak-anak yang ada di sebuah rumah. Semua elemen ini dikembangkan dalam tiap scene yang diperankan oleh artis belia ini. 

Inti cerita yang yang sangat sederhana ini dikembangkan Vinod menjadi sebuah sosio-thriller solid yang sangat mencekam hingga akhir, bahkan dapat disejajarkan oleh film-film Hollywood seperti “Cast Away” (2000) yang menganut aliran ‘one man film’.

Satu kata! Ini film keren! 

Satu hal yang tidak saya sukai di film itu adalah sang ibu yang digambarkan perempuan lemah, lebih pilih bunuh diri. Daripada bunuh diri mencelakai anak, mending kawin lagi buk! Ngapain juga mencelakai diri dan masa depan anak demi laki-laki macam dia.


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya