Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Menjajal Lezatnya Gebum, Geblek Bumbu Khas Purworejo



Pernah dengar nama Purworejo? Kota kecil di Jawa Tengah tempat kelahiran Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya.

Di kota itu pula, ayah dan ibu saya dilahirkan. Tidak di kotanya, tapi di sebuah desa pelosok Kaligesing, salah satu penghasil durian terenak di Indonesia. Kelezatan durian Monthong masih kalah dibandingkan durian Kaligesing. Dan sesungguhnya, durian Monthong itu pun dahulu adalah durian Indonesia yang dikembangkan oleh Pemerintah Thailand atas bantuan insinyur pertanian IPB. Hahaha....tepok jidat! 

Kali ini saya tidak mau cerita soal durian. Saya mau cerita salah satu makanan khas Purworejo yang namanya 'Geblek'. Ada yang tahu? Saya yakin Anda yang bukan orang Jawa akan menyebut 'geblek' dengan pronounciation yang kacau dan membuat kami yang orang Jawa akan terpingkal-pingkal sambil memegang perut. Eh, saya yang kelahiran Jakarta juga baru belakangan ini fasih menyebut 'geblek'. 

Sekilas geblek ini memang mirip cireng (alias aci goreng). Tapi rasanya beda. Kalau cireng dibuat dari sagu. Sedangkan geblek dibuat dari 'pathi' (hayooo...bisa tidak menyebutnya?). Pathi ini nama lain dari tepung kanji/tapioka yang dibuat dari singkong. Tingkat kekenyalannya kurang lebih sama dengan 'mpek-mpek' Palembang. 


Adonan pathi yang diberi bumbu bawang kemudian dibentuk-bentuk ala angka 8. Mengapa angka 8? Mungkin ini mengadopsi filosofi Cina tentang angka 8 yang berarti keberuntungan yang tidak terputus. 

Geblek harus dinikmati panas-panas agar tidak alot. Bisa dimakan dengan cabe rawit yang diceplus atau dicocol dengan bumbu pecel. Jangan lupa kopi atau teh panasnya. 

Penasaran dengan citarasa Geblek Bumbu Pecel atau Gebum khas Purworejo tapi tidak sempat mampir ke Purworejo? Coba aja whatsapp bakul Gebum mbak Ani 0858 8061 2832 

Gebum-nya Mbak Ani dibuat dari Pathi pilihan mirip dengan citarasa aslinya. Mungkin lebih enak. Diproduksi setiap hari, jadi semua bahan dijamin 'fresh'. Gebum dijual dalam bentuk siap goreng, plus sebungkus sambal pecel untuk cocolan. 


Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak