Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Menjajal Lezatnya Gebum, Geblek Bumbu Khas Purworejo



Pernah dengar nama Purworejo? Kota kecil di Jawa Tengah tempat kelahiran Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya.

Di kota itu pula, ayah dan ibu saya dilahirkan. Tidak di kotanya, tapi di sebuah desa pelosok Kaligesing, salah satu penghasil durian terenak di Indonesia. Kelezatan durian Monthong masih kalah dibandingkan durian Kaligesing. Dan sesungguhnya, durian Monthong itu pun dahulu adalah durian Indonesia yang dikembangkan oleh Pemerintah Thailand atas bantuan insinyur pertanian IPB. Hahaha....tepok jidat! 

Kali ini saya tidak mau cerita soal durian. Saya mau cerita salah satu makanan khas Purworejo yang namanya 'Geblek'. Ada yang tahu? Saya yakin Anda yang bukan orang Jawa akan menyebut 'geblek' dengan pronounciation yang kacau dan membuat kami yang orang Jawa akan terpingkal-pingkal sambil memegang perut. Eh, saya yang kelahiran Jakarta juga baru belakangan ini fasih menyebut 'geblek'. 

Sekilas geblek ini memang mirip cireng (alias aci goreng). Tapi rasanya beda. Kalau cireng dibuat dari sagu. Sedangkan geblek dibuat dari 'pathi' (hayooo...bisa tidak menyebutnya?). Pathi ini nama lain dari tepung kanji/tapioka yang dibuat dari singkong. Tingkat kekenyalannya kurang lebih sama dengan 'mpek-mpek' Palembang. 


Adonan pathi yang diberi bumbu bawang kemudian dibentuk-bentuk ala angka 8. Mengapa angka 8? Mungkin ini mengadopsi filosofi Cina tentang angka 8 yang berarti keberuntungan yang tidak terputus. 

Geblek harus dinikmati panas-panas agar tidak alot. Bisa dimakan dengan cabe rawit yang diceplus atau dicocol dengan bumbu pecel. Jangan lupa kopi atau teh panasnya. 

Penasaran dengan citarasa Geblek Bumbu Pecel atau Gebum khas Purworejo tapi tidak sempat mampir ke Purworejo? Coba aja whatsapp bakul Gebum mbak Ani 0858 8061 2832 

Gebum-nya Mbak Ani dibuat dari Pathi pilihan mirip dengan citarasa aslinya. Mungkin lebih enak. Diproduksi setiap hari, jadi semua bahan dijamin 'fresh'. Gebum dijual dalam bentuk siap goreng, plus sebungkus sambal pecel untuk cocolan. 


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya