Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Lelaki itu...


Siang itu mata saya basah oleh haru menatap adegan seorang lelaki pasien stroke yang susah payah menyuap buah ke mulutnya. Tangannya kebas, namun dia berupaya keras melatih tangannya. 
Matanya berkaca-kaca, terkadang saya melihat kilatan marah juga di sana. Mata memang tidak bisa bohong. Di balik ketegarannya, matanya masih tak mampu menyembunyikan kesedihan tiada tara juga perasaan gagal menjadi lelaki untuk pertama kalinya.

Bagaimana tidak, lelaki berperawakan sedang yang terbiasa mengangkat beban berat sehari-harinya kini terbaring lemah tak berdaya. Jangankan mengangkat kayu yang biasa digunakan untuk berkarya. Mengangkat sepotong melon saja tak kuat.

"Allah..." bisik lelaki itu yang geram, betapa tangan kanannya tak lagi bisa diajak kompromi. Sepotong melonnya berkali-kali jatuh. Ia hampir menyerah, kalau saja ia tak ingat ada istri, dan 3 anak yang masih kecil dan membutuhkannya. Seorang ayah dan suami yang kuat. Ia pun mencobanya lagi dan lagi dengan mata yang memerah. 

Lelaki itu adalah sosok ayah dan suami yang baik, tidak neko-neko bahkan terlalu penyabar. Setiap tetes keringat yang keluar adalah untuk mencari nafkah demi menghidupi istri dan ketiga anaknya. Hidupnya memang tak mudah, namun keteguhannya sudah lebih dari cukup membuat hidup anak dan istrinya menjadi mudah dengan memilikinya.

Tak punya pekerjaan tetap, tak membuat dirinya patah arang untuk mensejahterakan anak istrinya dengan rizki yang halal. Bahkan walau dia harus menggunakan tenaganya demi untuk menjemput rizki.

Lelaki itu hampir tidak pernah sakit, karena dia benar-benar bertekad untuk selalu bugar demi anak dan istrinya. Dan ketika tetiba stroke menghampirnya maka dunianya seakan hancur berkeping-keping. Lelaki yang harusnya menjadi pelindung dan pencari nafkah tetiba harus kehilangan daya, lumpuh entah sampai kapan.

Istri lelaki itu adalah sahabat saya, maka saya membisiki sahabat saya. "Demi Allah...jangan tinggalkan dia. Temani dia dengan ikhlas. Dia lelaki baik yang sedang tak berdaya. Insyaa Allah badai akan segera berlalu. Aku bantu doa."

Dan sahabat saya tergugu. Tanpa banyak bicara.

Dalam hati saya berdoa, "Ya Allah, sembuhkan lelaki itu. Berikan ketabahan pada keluarganya untuk melewati ini. Cukupkan keluarga mereka lewat rizki yang tidak disangka-sangka."

Miris....Ada lelaki yang sedang stroke sedih bukan kepalang karena tak mampu menafkahi anak istrinya lagi. Namun banyak di luar sana, lelaki sehat bugar banyak uang tapi pelit atau bahkan tak mau menafkahi anak istrinya. Karena mereka lebih suka mempergunakan uangnya untuk kesenangan sendiri. Naudzubillahimindzalik...! Semoga mereka masih diberi waktu untuk menyadari kesalahannya sebelum meninggal. Karena Allah mengancam para lelaki yang menyia-nyiakan anak-istrinya karena kebakhilannya. 

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya