Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Jangan Menangis, Bobby!


Pagi-pagi buta Bobby sudah bersedih. Akibat postingan dari suatu media online yang sedang hits. Kucing milik politikus Prabowo yang aktif di sosial media dengan akun Instagram @bobbythek4t itu ceritanya kesal karena media tersebut menyorotinya sebagai kucing posesif Prabowo. Mengapa dari sekian banyak postingan bobby yang disoroti adalah sifat-sifat kelewat sayangnya bobby pada adopternya. 

Bobby memang hanya seekor kucing kampung yang kebetulan diadopsi sama orang yang namanya kini mencuat karena dia salah satu Capres. Dan kalau akhirnya Bobby yang hanya kucing kampung bisa menginspirasi banyak orang terutama penggiat anti kekerasan satwa yang tergabung di @gardasatwaindonesia. Itu karena Bobby adalah  kucing yang peduli nasib kucing lainnya.

Well, rasanya agak sulit bagi orang yang bukan pencinta kucing untuk bisa menikmati postingan-postingan Bobby. Karena kebetulan Bobby kucingnya Prabowo, mungkin isinya juga banyak menjurus soal adopternya dilihat dari kacamata kucing. 

Kalau Bobby kucing saya pasti isinya ya tentang kegalauan-kegalauan saya sebagai adopternya yang pujangga. Siapa tahu Bobby juga ikutan menghafal Quran seperti kucing saya Glen.

Tidak salah juga kalau ada pihak yang tidak suka dan menganggap Bobby adalah media kampanye. Bagus dong itu media kampanye kreatif. Target audience-nya para kucing milenial atau adopter kucing, yang peduli pada nasib kucing liar. Itu jauh lebih bagus daripada menebar hoax untuk tujuan menjatuhkan pihak lawan.

Bebas kok kalau tim medsos pihak lain mau memakai sosok burung hantu, kecebong, kodok, ikan, atau apalah untuk menarik simpati. Kami sih netizen fine-fine aja.

Akhir kata, jangan menangis Bobby! Biarkan saja orang mau bilang apa. Tetaplah menjadi kucing kampung kebanggaan kami.

Oh iya Bobby, sudah baca fiksi saya yang ini belum http://www.anginrindu.com/2018/11/namaku-bobby.html? 


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya