Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Hutan, Garda Terdepan dalam Penyerapan Karbon


Frances Seymour dalam buku ilmiahnya yang berjudul Why Forest? Why Now? The Science, Economics, Politic of Tropical Forests and Climate Change mengatakan bahwa, "hutan adalah teknologi paling maju di dunia dalam menyerap karbon". 

Bayangkan! Ternyata solusi dari beragam efek rumah kaca yang membuat pusing para ilmuwan dunia karena bumi yang semakin memanas, es-es di kutub mencair dan secara drastis menurunkan populasi beruang kutub, dan bukan hal mustahil kalau es di kutub mencair semua maka bumi juga akan tenggelam oleh lelehan es. Dan bisa jadi kejadian di film 'Underwater' benar-benar akan jadi nyata. 

Pernah lihat rumah kaca? Itu loh bangunan yang terbuat dari kaca yang digunakan untuk bercocok tanam bunga, sayuran, atau buah-buahan terutama di negara 4 musim. Gunanya agar udara di dalam rumah kaca tetap hangat walau di musim salju sekalipun. Jadi tanaman tetap tumbuh dengan baik. 

Hal itulah yang dijadikan analogi ilmuwan untuk menggunakan istilah efek rumah kaca. Efek rumah kaca merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan bumi memiliki efek seperti rumah kaca diatas dimana panas matahari terperangkap oleh atmosfer bumi. Gas-gas di atmosfer seperti karbon dioksida (CO2) dapat menahan panas matahari sehingga panas matahari terperangkap di dalam atmosfer bumi. Normalnya, pada siang hari matahari menyinari bumi sehingga permukaan bumi menjadi hangat, dan pada malam hari permukaan bumi mendingin. Akan tetapi, akibat adanya efek rumah kaca, sebagian panas yang harusnya dipantulkan permukaan bumi diperangkap oleh gas-gas rumah kaca di atmosfer. Inilah mengapa bumi menjadi semakin hangat dari tahun-ketahun.



Lalu apa hubungannya dengan hutan?

Bagi Anda yang pernah belajar biologi di bangku sekolah pasti tahu apa itu proses fotosintesis. Dalam fotosintesis pohon (tanaman) menyerap CO2dan H2O dibantu dengan sinar matahari diubah menjadi glukosa yang merupakan sumber energi (sebelumnya diubah dulu melalui proses respirasi) tanaman tersebut dan juga menghasilkan H2O dan O2 yang merupakan suatu unsur yang dibutuhkan oleh oranisme untuk melangsungkan kehidupan (bernapas).

Dan hutan adalah sekumpulan dari pohon yang memiliki aktivitas biologis berupa fotosintesis dan respirasi. Siang hari saat manusia sibuk beraktivitas, hutan akan menyerap karbon sebanyak-banyaknya. 

Indonesia adalah hutan terluas kesembilan di dunia. Tetapi Indonesia adalah hutan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Kongo yang memiliki keaneka-ragaman hayati paling besar. Makanya Indonesia menjadi tumpuan harapan dunia untuk menjaga hutannya. Namun, sayangnya hutan Sumatera dan Kalimantan termasuk dalam 11 wilayah di dunia yang berkontribusi terhadap lebih dari 80% deforestasi secara global hingga tahun 2030. Dan penyebab terbesar deforestasi hutan di Indonesia ini terutama di Sumatera dan Kalimantan adalah karena pembukaan lahan untuk kemudian dijadikan perkebunan kelapa sawit.

Itulah sebabnya negara maju telah menjanjikan lebih dari 14 miliar dolar AS untuk pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan plus konservasi ( Reducing Emissions from Deforestation and forest Degradation plus Conservation/REDD+) sejak tahun 2016. Insentif tersebut merupakan hadiah dari negara maju terhadap negara berkembang untuk menekan laju deforestasi hutan, termasuk Indonesia.

Karena terjadinya deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia berhubungan erat dengan hajat hidup orang banyak yang menggantungkan hidup pada hutan. Mulai dari penebangan kayu, pembukaan lahan pertanian dan perkebunan hingga pemukiman. Perlu insentif yang win-win solution untuk semuanya. 

Di Indonesia sendiri uang insentif itu digunakan oleh Kementerian/lembaga/Pemda/Akademisi terkait untuk mengubah perilaku semua pihak terhadap lingkungan. Istilahnya boleh memanfaatkan hutan dengan arif tanpa perlu merusak ekosistem hutan. Jadi sekiranya ada lahan baru yang sedang dibuka maka lahan lama yang ditinggalkan harus segera direboisasi.

Pasalnya, hutan yang sedang tumbuh (hutan yang masih muda) akan berfungsi sangat baik sebagai carbon sinks, karena vegetasi di sana secara cepat akan menyerap banyak gas karbon dioksida pada proses fotosintesa dalam rangka tumbuh dan berkembangnya vegetasi. Vegetasi akan kembali melepaskan karbon dioksida ke atmosfer ketika mereka mati. Secara alamiah, dengan mengabaikan aktivitas manusia, proses terserap dan terlepasnya karbon dioksida ke atmosfer akan berjalan secara berimbang atau netral. Artinya, jumlah gas karbon dioksida di atmosfer relatif tetap terhadap waktu.

Sayangnya, meskipun sebenarnya pemerintah Indonesia sudah melakukan banyak hal dalam rangka REDD+ dengan kucuran dana yang tak sedikit. Tak banyak orang yang tahu, apa dan bagaimana REDD+ itu  berjalan. 

Sebenarnya kita rakyat jelata mau bantu loh...Tapi tidak tahu apa yang mesti dibantu?  Lah wong dikomunikasikan saja belum.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak