Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Topeng


Banyak diantara kita, tanpa sadar selalu bertopeng. Tanpa pernah sedikitpun mencoba untuk melepaskannya. 

Ada yang memakai topeng 'sok alim' di balik jubah agamisnya, padahal di kalangan orang terdekatnya, ia sama sekali bukan orang baik. Ada yang memilih topeng 'orang biasa', padahal di baliknya sungguh luar biasa.  Ada yang memilih topeng 'sok kaya' padahal aslinya 'kere'. Ada juga yang hanya memakai topeng agar tidak menampakkan drama hidupnya.

Fenomena ini semakin menjadi ketika media sosial muncul. Siapa yang sangka kalau di balik postingan 'agamis'-nya, dia adalah sosok yang bahkan di kalangan kaum awam saja dia sudah keterlaluan. Media sosial adalah topeng yang sempurna, sekaligus pelarian yang melelahkan.

Saya pernah beberapa kali mengalami pengalaman buruk dengan orang-orang sok alim yang memakai topeng agamis. Dan parahnya saya pernah menaruh harap pada salah satunya. 

Saya pikir dia yang hobi 'berdakwah' kepada orang lain, lengkap dengan atribut agamisnya seperti berjenggot adalah jaminan bahwa dia setidaknya mengerti agama. Tetapi ternyata tidak! Tampilan luar yang memikat orang awam sehingga mereka melabeli-nya sebagai muslim yang baik, ternyata menyimpan segala sisi buruk yang mati-matian dia sembunyikan. 

Saya ingat pesan guru ngaji saya, "Jangan menyampaikan sesuatu tanpa ilmu, yang bahkan kamu belum melakukannya!" 

Sebelum menceramahi orang dari A-Z atau pamer betapa agamisnya kamu, mending kamu memperbaiki kualitas ibadah. Ngajinya sudah bener belum? Sudah berapa juz yang kamu hafal? Haditsnya sudah dihafal dan dipahami?

Sorry to say! Justru parahnya orang-orang yang memakai topeng kepalsuan itu sering dijadikan acuan orang tentang kriteria muslim yang baik. Padahal bahkan mungkin dia masih belum bisa membedakan pelafalan makhraj ح (ha) dengan ه (ha)

Ketika banyak orang yang memilih topeng 'sok alim' di media sosial. Saya justru memilih berekspresi menjadi pujangga. Setidaknya saya tidak capek-capek berbohong menjelaskan bahwa saya orang baik!








Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset