Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Topeng


Banyak diantara kita, tanpa sadar selalu bertopeng. Tanpa pernah sedikitpun mencoba untuk melepaskannya. 

Ada yang memakai topeng 'sok alim' di balik jubah agamisnya, padahal di kalangan orang terdekatnya, ia sama sekali bukan orang baik. Ada yang memilih topeng 'orang biasa', padahal di baliknya sungguh luar biasa.  Ada yang memilih topeng 'sok kaya' padahal aslinya 'kere'. Ada juga yang hanya memakai topeng agar tidak menampakkan drama hidupnya.

Fenomena ini semakin menjadi ketika media sosial muncul. Siapa yang sangka kalau di balik postingan 'agamis'-nya, dia adalah sosok yang bahkan di kalangan kaum awam saja dia sudah keterlaluan. Media sosial adalah topeng yang sempurna, sekaligus pelarian yang melelahkan.

Saya pernah beberapa kali mengalami pengalaman buruk dengan orang-orang sok alim yang memakai topeng agamis. Dan parahnya saya pernah menaruh harap pada salah satunya. 

Saya pikir dia yang hobi 'berdakwah' kepada orang lain, lengkap dengan atribut agamisnya seperti berjenggot adalah jaminan bahwa dia setidaknya mengerti agama. Tetapi ternyata tidak! Tampilan luar yang memikat orang awam sehingga mereka melabeli-nya sebagai muslim yang baik, ternyata menyimpan segala sisi buruk yang mati-matian dia sembunyikan. 

Saya ingat pesan guru ngaji saya, "Jangan menyampaikan sesuatu tanpa ilmu, yang bahkan kamu belum melakukannya!" 

Sebelum menceramahi orang dari A-Z atau pamer betapa agamisnya kamu, mending kamu memperbaiki kualitas ibadah. Ngajinya sudah bener belum? Sudah berapa juz yang kamu hafal? Haditsnya sudah dihafal dan dipahami?

Sorry to say! Justru parahnya orang-orang yang memakai topeng kepalsuan itu sering dijadikan acuan orang tentang kriteria muslim yang baik. Padahal bahkan mungkin dia masih belum bisa membedakan pelafalan makhraj ح (ha) dengan ه (ha)

Ketika banyak orang yang memilih topeng 'sok alim' di media sosial. Saya justru memilih berekspresi menjadi pujangga. Setidaknya saya tidak capek-capek berbohong menjelaskan bahwa saya orang baik!








Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak