Kesibukan Ramadhan Tahun Ini

Image
Masih lama dari deadline pendaftaran 1 Mei 2018. Tapi panitia sudah mulai sibuk, cetak-cetak yang perlu dicetak, video editing dan narasi sudah mulai digarap oleh tim ahli.  Karena Insya Allah, tahun ini BEDA. 
Hafalan tahun ini didukung dengan audio visual yang mumpuni untuk mempermudah proses hafalan ala metode Kauny ini. Insya Allah menggunakan 'fun theory' tapi tetap syar'i. 
Memang cuma 2 hari tapi 'full schedule'. Meski ada target hafalan, peserta juga akan mendapatkan materi lain untuk pemahaman surah Al Kahfi. Ada juga games untuk memudahkan proses hafalan dengan menggunakan flash card khusus, makanya workshop menghafal ini cocok dari anak-anak, sampai dewasa. 
Tim kami tak hanya digawangi oleh Majelis Al Kahfi, ibu-ibu yang sudah duluan menghafal Al kahfi, juga ada para profesional lulusan universitas dan pesantren ternama.
Kami sebetulnya hanya kumpulan orang fakir ilmu yang masih akan terus belajar sampai mati, sambil mentransfer sedikit ilmu kami. Kala…

Topeng


Banyak diantara kita, tanpa sadar selalu bertopeng. Tanpa pernah sedikitpun mencoba untuk melepaskannya. 

Ada yang memakai topeng 'sok alim' di balik jubah agamisnya, padahal di kalangan orang terdekatnya, ia sama sekali bukan orang baik. Ada yang memilih topeng 'orang biasa', padahal di baliknya sungguh luar biasa.  Ada yang memilih topeng 'sok kaya' padahal aslinya 'kere'. Ada juga yang hanya memakai topeng agar tidak menampakkan drama hidupnya.

Fenomena ini semakin menjadi ketika media sosial muncul. Siapa yang sangka kalau di balik postingan 'agamis'-nya, dia adalah sosok yang bahkan di kalangan kaum awam saja dia sudah keterlaluan. Media sosial adalah topeng yang sempurna, sekaligus pelarian yang melelahkan.

Saya pernah beberapa kali mengalami pengalaman buruk dengan orang-orang sok alim yang memakai topeng agamis. Dan parahnya saya pernah menaruh harap pada salah satunya. 

Saya pikir dia yang hobi 'berdakwah' kepada orang lain, lengkap dengan atribut agamisnya seperti berjenggot adalah jaminan bahwa dia setidaknya mengerti agama. Tetapi ternyata tidak! Tampilan luar yang memikat orang awam sehingga mereka melabeli-nya sebagai muslim yang baik, ternyata menyimpan segala sisi buruk yang mati-matian dia sembunyikan. 

Saya ingat pesan guru ngaji saya, "Jangan menyampaikan sesuatu tanpa ilmu, yang bahkan kamu belum melakukannya!" 

Sebelum menceramahi orang dari A-Z atau pamer betapa agamisnya kamu, mending kamu memperbaiki kualitas ibadah. Ngajinya sudah bener belum? Sudah berapa juz yang kamu hafal? Haditsnya sudah dihafal dan dipahami?

Sorry to say! Justru parahnya orang-orang yang memakai topeng kepalsuan itu sering dijadikan acuan orang tentang kriteria muslim yang baik. Padahal bahkan mungkin dia masih belum bisa membedakan pelafalan makhraj ح (ha) dengan ه (ha)

Ketika banyak orang yang memilih topeng 'sok alim' di media sosial. Saya justru memilih berekspresi menjadi pujangga. Setidaknya saya tidak capek-capek berbohong menjelaskan bahwa saya orang baik!








Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset