Resolusi Tahun 2020

Image
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di awal tahun 2020. Tahun yang dulu saya pikir sangat 'sophisticated' seperti film The Matrix dan Science Fiction lainnya yang mengumbar kecanggihan tahun 2020. Atau malah awal dari apocalypse dunia.
Ternyata tahun 2020 tidak seheboh bayangan masa kecil saya, dimana dunia sudah sedemikian canggih dan penuh robot. Walau memang lebih canggih untuk beberapa inovasi, tapi ya masih tidak terlalu signifikan. 
"Yang canggih mah canggih. Yang terbelakang ya tetap terbelakang, susah listrik apalagi jaringan internet."
Lalu apa resolusi tahun barumu? Masihkah target-target dunia masuk dalam list?
Al-Qur’an surat al-Anbiyâ’ (21): 35 dan al-Ankabût (29): 57 menyebutkan bahwa semua yang bernyawa akan mati. Bahkan dalam surat al-A’râf (7): 34 ditegaskan bahwa semua umat mempunyai ajal (batas waktu) yang telah ditentukan oleh Allah. Ketika ajal tersebut sudah tiba, maka tidak bisa ditunda ataupun dipercepat barang sesaatpun. Namun demikian, kematian bu…

Topeng


Banyak diantara kita, tanpa sadar selalu bertopeng. Tanpa pernah sedikitpun mencoba untuk melepaskannya. 

Ada yang memakai topeng 'sok alim' di balik jubah agamisnya, padahal di kalangan orang terdekatnya, ia sama sekali bukan orang baik. Ada yang memilih topeng 'orang biasa', padahal di baliknya sungguh luar biasa.  Ada yang memilih topeng 'sok kaya' padahal aslinya 'kere'. Ada juga yang hanya memakai topeng agar tidak menampakkan drama hidupnya.

Fenomena ini semakin menjadi ketika media sosial muncul. Siapa yang sangka kalau di balik postingan 'agamis'-nya, dia adalah sosok yang bahkan di kalangan kaum awam saja dia sudah keterlaluan. Media sosial adalah topeng yang sempurna, sekaligus pelarian yang melelahkan.

Saya pernah beberapa kali mengalami pengalaman buruk dengan orang-orang sok alim yang memakai topeng agamis. Dan parahnya saya pernah menaruh harap pada salah satunya. 

Saya pikir dia yang hobi 'berdakwah' kepada orang lain, lengkap dengan atribut agamisnya seperti berjenggot adalah jaminan bahwa dia setidaknya mengerti agama. Tetapi ternyata tidak! Tampilan luar yang memikat orang awam sehingga mereka melabeli-nya sebagai muslim yang baik, ternyata menyimpan segala sisi buruk yang mati-matian dia sembunyikan. 

Saya ingat pesan guru ngaji saya, "Jangan menyampaikan sesuatu tanpa ilmu, yang bahkan kamu belum melakukannya!" 

Sebelum menceramahi orang dari A-Z atau pamer betapa agamisnya kamu, mending kamu memperbaiki kualitas ibadah. Ngajinya sudah bener belum? Sudah berapa juz yang kamu hafal? Haditsnya sudah dihafal dan dipahami?

Sorry to say! Justru parahnya orang-orang yang memakai topeng kepalsuan itu sering dijadikan acuan orang tentang kriteria muslim yang baik. Padahal bahkan mungkin dia masih belum bisa membedakan pelafalan makhraj ح (ha) dengan ه (ha)

Ketika banyak orang yang memilih topeng 'sok alim' di media sosial. Saya justru memilih berekspresi menjadi pujangga. Setidaknya saya tidak capek-capek berbohong menjelaskan bahwa saya orang baik!








Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak

Pecak Timun Betawi