Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Hello 2019!


Tidur kemarin malam jadi tidur terpanjang saya di sepanjang tahun 2018. Sudah menarik selimut dari jam delapan malam tanggal 31 Desember 2018, setelah shalat Isya. Dan saya baru terjaga di sepertiga malam tahun berikutnya, 1 Januari 2019. Alhamdulillah...! Masih diberi kesempatan hidup di tahun 2019.

Akhirnya tahun 2018 yang mengerikan terlewati juga. Alhamdulillah!

Saya hampir tak yakin bisa melewati tahun 2018 dengan perasaan riang. Padahal hati saya pernah luluh lantak oleh kecewa.

Allah memang Maha Baik. Allah menguatkan saya sebelum akhirnya Allah mempertemukan saya dengan 'musibah'. Sukabakti Menghafal, memandu hafalan Quran Surah As Sajdah sepanjang Ramadhan kepada lebih dari 100 peserta adalah cara Allah menguatkan saya. Tentang mengapa surat As Sajdah yang dipilih bukan yang lain? Mungkin itu cara Allah juga membuat saya selalu ingat bahwa se-drama apapun hidup, tetaplah bersujud kepada Allah Sang Pembuat Skenario.

Bahkan Allah, memberi saya kesempatan sekali lagi untuk menyampaikan surah Ar Rahman. Membersamai beberapa santri yang sedang melewati 'musibah' dengan ayat-ayat pengingat bahwa, "Nikmat Tuhanmu manakah yang kalian dustakan?"

Saya diberi sakit, dan akhirnya penguat keputusan untuk 'move on', memulai hidup baru di tempat baru. Bahkan saya tidak membawa satu barang pun dari rumah lama, agar lebih mudah untuk 'move on'. 

Kalau ditanya mengapa saya membuat keputusan besar untuk 'move on'?

Pertama, karena peristiwa yang sempat saya 'limbung' meski tak sampai jatuh. Tetiba saya ingat 'deretan kode' dari Allah yang sudah berkali-kali saya terima namun saya abaikan.

Kedua, karena saya dan anak saya punya cita-cita, yang mungkin mustahil untuk diraih kalau tidak 'move on'. 

Mata saya berkaca-kaca ketika saya ada di ruang ujian akhir semester pertama, Sydney. Di ruangan berukuran 3 X 5 meter itu hanya ada Sydney, tiga orang ustadzah penguji dan saya. Selama satu setengah jam, Sydney diuji kecakapan Shalat dari awal sampai akhir, beserta dzikir setelah shalat, hafalan Al Quran, Hafalan hadits, doa-doa, bacaan Quran, membaca, menulis dan berhitung. Allahu Akbar!

Sydney 3 bulan lalu sungguh berbeda. Saya terharu, setidaknya langkah saya untuk 'move on' demi cita-cita kami tidaklah salah. 

Meski kini saya sibuk mengejar cita-cita kembali ke dunia profesional, namun Alhamdulillah hati saya masih terpaut dengan Al Quran. Sesibuk-sibuknya saya, saya berusaha tetap memenuhi target tilawah dan murojaah harian. Saya masih jadi reviewer hafalan Quran di Hafiz on The Street. 

Resolusi saya tahun 2019 itu sederhana, agar saya dan anak saya tetap istiqomah menghafal Quran. Menghafal Quran tidak sekedar menghafal bacaan, ada komitmen yang mengharuskan kami meminimalisasi maksiat, kalau ingin hafalan tetap nempel. Setidaknya, bila dunia tak mampu membuat kami bahagia. Kami ada harapan untuk kebahagiaan di akhirat. Aamiin.

Ketiga, karena hati saya sudah tidak sepenuhnya di Sukabakti. Saya tidak ingin terpasung dalam pengabdian yang justru mengorbankan masa depan saya dan anak saya. Dan saya pun tak ingin terlibat dalam drama tak berkesudahan. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang tak cukup layak untuk dipertahankan. Meskipun saya mencintai mereka.

Selamat tinggal 2018! Terima kasih untuk setiap kenangan indah dan pahit sepanjang 2018. Selamat datang 2019! Insya Allah saya siap!

Comments

  1. Masyaallah semoga tahun baru membawa keberkahan yang lebih banyak ya mbak. Salam kenal dari Lampung

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya