Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Hello 2019!


Tidur kemarin malam jadi tidur terpanjang saya di sepanjang tahun 2018. Sudah menarik selimut dari jam delapan malam tanggal 31 Desember 2018, setelah shalat Isya. Dan saya baru terjaga di sepertiga malam tahun berikutnya, 1 Januari 2019. Alhamdulillah...! Masih diberi kesempatan hidup di tahun 2019.

Akhirnya tahun 2018 yang mengerikan terlewati juga. Alhamdulillah!

Saya hampir tak yakin bisa melewati tahun 2018 dengan perasaan riang. Padahal hati saya pernah luluh lantak oleh kecewa.

Allah memang Maha Baik. Allah menguatkan saya sebelum akhirnya Allah mempertemukan saya dengan 'musibah'. Sukabakti Menghafal, memandu hafalan Quran Surah As Sajdah sepanjang Ramadhan kepada lebih dari 100 peserta adalah cara Allah menguatkan saya. Tentang mengapa surat As Sajdah yang dipilih bukan yang lain? Mungkin itu cara Allah juga membuat saya selalu ingat bahwa se-drama apapun hidup, tetaplah bersujud kepada Allah Sang Pembuat Skenario.

Bahkan Allah, memberi saya kesempatan sekali lagi untuk menyampaikan surah Ar Rahman. Membersamai beberapa santri yang sedang melewati 'musibah' dengan ayat-ayat pengingat bahwa, "Nikmat Tuhanmu manakah yang kalian dustakan?"

Saya diberi sakit, dan akhirnya penguat keputusan untuk 'move on', memulai hidup baru di tempat baru. Bahkan saya tidak membawa satu barang pun dari rumah lama, agar lebih mudah untuk 'move on'. 

Kalau ditanya mengapa saya membuat keputusan besar untuk 'move on'?

Pertama, karena peristiwa yang sempat saya 'limbung' meski tak sampai jatuh. Tetiba saya ingat 'deretan kode' dari Allah yang sudah berkali-kali saya terima namun saya abaikan.

Kedua, karena saya dan anak saya punya cita-cita, yang mungkin mustahil untuk diraih kalau tidak 'move on'. 

Mata saya berkaca-kaca ketika saya ada di ruang ujian akhir semester pertama, Sydney. Di ruangan berukuran 3 X 5 meter itu hanya ada Sydney, tiga orang ustadzah penguji dan saya. Selama satu setengah jam, Sydney diuji kecakapan Shalat dari awal sampai akhir, beserta dzikir setelah shalat, hafalan Al Quran, Hafalan hadits, doa-doa, bacaan Quran, membaca, menulis dan berhitung. Allahu Akbar!

Sydney 3 bulan lalu sungguh berbeda. Saya terharu, setidaknya langkah saya untuk 'move on' demi cita-cita kami tidaklah salah. 

Meski kini saya sibuk mengejar cita-cita kembali ke dunia profesional, namun Alhamdulillah hati saya masih terpaut dengan Al Quran. Sesibuk-sibuknya saya, saya berusaha tetap memenuhi target tilawah dan murojaah harian. Saya masih jadi reviewer hafalan Quran di Hafiz on The Street. 

Resolusi saya tahun 2019 itu sederhana, agar saya dan anak saya tetap istiqomah menghafal Quran. Menghafal Quran tidak sekedar menghafal bacaan, ada komitmen yang mengharuskan kami meminimalisasi maksiat, kalau ingin hafalan tetap nempel. Setidaknya, bila dunia tak mampu membuat kami bahagia. Kami ada harapan untuk kebahagiaan di akhirat. Aamiin.

Ketiga, karena hati saya sudah tidak sepenuhnya di Sukabakti. Saya tidak ingin terpasung dalam pengabdian yang justru mengorbankan masa depan saya dan anak saya. Dan saya pun tak ingin terlibat dalam drama tak berkesudahan. Untuk apa mempertahankan sesuatu yang tak cukup layak untuk dipertahankan. Meskipun saya mencintai mereka.

Selamat tinggal 2018! Terima kasih untuk setiap kenangan indah dan pahit sepanjang 2018. Selamat datang 2019! Insya Allah saya siap!

Comments

  1. Masyaallah semoga tahun baru membawa keberkahan yang lebih banyak ya mbak. Salam kenal dari Lampung

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak