Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Hal yang Paling Disesali Saat Ini


Sepanjang hidup saya hingga detik ini. Saya banyak sekali mengalami kekecewaan, sakit hati, namun saya juga tidak memungkiri bahwa Allah sudah banyak sekali memberi saya nikmat. Nikmat yang berkali-kali lipat lebih banyak dari kesedihan yang saya terima sepanjang hidup.

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan"

Kalau dibreak down:
فَبِأَيِّ Fabiayyi = maka yang manakah?
 آَلَاءِ alaaaai = nikmat-nikmat
رَبِّكُمَا rabbikuma = Tuhan kalian berdua (jin & manusia)
 تُكَذِّبَانِ tukadzdzibaan = yang kamu dustakan

Sebuah ayat Al Quran yang 'menampar' saya berkali-kali bila saya hendak menangis meraung-raung atas drama kehidupan yang saya pikir terlalu berat untuk saya. Ayat dalam surah  Ar Rahman itu diulang sebanyak 31 kali. 

Tentang mengapa ayat ini diulang hingga 31 kali? Tentu saja itu adalah hak prerogatif Allah. Hanya Allah yang tahu hakikat di baliknya. Namun di antara hikmah yang bisa dipetik, selain mengingatkan agar jin dan manusia menyadari bahwa seluruh nikmat itu datangnya dari Allah, pengulangan itu juga menunjukkan betapa pentingnya syukur atas nikmat-nikmat tersebut

Kalau dipikir, hidup saja sudah merupakan nikmat yang tak berhingga. Coba bayangkan bagaimana saudara-saudara kita di luar sana yang harus bergantung kepada alat pacu jantung atau alat bantu pernafasan hanya demi bisa menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.

Saya ingat salah seorang kolega saya yang harus merogoh kocek hingga puluhan juta perhari demi bertahan hidup di ruang ICU, karena jantung dan paru-paru yang sudah tak berfungsi sempurna. Coba kalau Allah juga menerapkan bayaran yang sama atas setiap oksigen yang kita hidup dan atas setiap gas karbondioksida yang dilepaskan?

Segitu pemurahnya Allah, semuanya gratis. Tak perlu bayar. Kita hanya perlu bersyukur atas segala karunia-Nya. 

Belum lagi fungsi fisiologis dan biologis lainnya yang sudah dirancang sedemikan sempurnanya oleh Allah untuk kita. Rasanya malu kalau merutuk Allah tak adil.

Sebelum hari ini, saya telah melewati banyak sekali drama kehidupan yang mungkin tidak terbayangkan bagi sebagian besar orang. Terlalu pedih untuk diiceritakan dan rasanya hanya akan membuka luka lama yang sudah setengah mati saya kubur.

Ada satu episode dalam hidup saya yang berawal dari ketergesa-gesaan saya memilih. Dan itu menjadi prahara dalam hidup saya hampir selama 10 tahun belakangan. Saya pernah menyesali pilihan saya, namun saya menyadari bahwa ini adalah takdir terbaik yang Allah kasih untuk saya.

Mungkin kalau saya hati-hati memilih jalan hidup. Saya tidak akan mengalami drama kehidupan yang sedemikian menyakitkan, mungkin saya akan hidup bahagia tanpa beban. Dan sudah pasti, mungkin saya terlalu bahagia untuk berdoa dan merintih kepada Allah di malam-malam panjang. 

Justru rentetan masalah membuat saya mendekat kepada Allah. Ketika saya memohon, "Ya Allah, kau boleh saja mengambil semua kebahagiaan dari dalam hidup saya. Asal jangan pernah sedetik pun tinggalkan saya!" Saya menangis dan merintih. Takut, ujian yang berat malah membuat saya 'gila' atau nekad 'bunuh diri'.

Dan Allah malah mendekatkan saya dengan Al Quran. Hafalan Quran pertama saya saat itu adalah Ar Rahman. Tepat pada saat saya sedang jatuh. Allah seakan ingin mengatakan bahwa nikmat yang diberikannya lebih banyak dari ujian yang diberikan.

Dan Allah malah mendekatkan saya dengan komunitas pencinta Quran sambil saya menghafal Quran dan belajar Quran lagi. Hingga Allah kasih saya kesempatan untuk hijrah dan mengajar hafalan Quran ke ratusan orang. Satu hal yang tak pernah terpikirkan di masa lampau. 

Dan ketika ujian lain menghadang dan lebih berat, terpaksa saya harus banting stir dan kembali bekerja. Tapi Allah tetap mendekatkan saya dengan Al Quran seperti permintaan saya dahulu. 

Saya mungkin pernah salah memilih jalan hidup hingga ujian datang menghadang berkali-kali. Tapi semakin ke sini, kesalahan itu adalah salah satu yang saya syukuri. Karena kesalahan itu telah mengubah saya hingga seperti ini. 

Jadi mengapa harus menyesali? 




Comments

  1. Yup betul banget mbak, setiap pernah ada penyesalan, saya selalu mengoreksi diri, apa saya tidak bersyukur ya, drpd mikir penyesalan meningan melangkah memikirkan masa depan dan selalu bersyukur :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak