Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Bahagia Itu ...



Banyak orang yang bekerja mati-matian dari pagi sampai malam demi mencapai definisi kebahagiaan menurut kacamatanya. Ia bahkan mengabaikan keluarganya, padahal nanti saat kita menghadapi sakaratul maut, keluarganya yang paling dibutuhkan di sisinya, bukan bos atau kolega bisnisnya.

Padahal bahagia itu sederhana, sesederhana kita bisa bernafas dengan lega tanpa bantuan alat nafas yang mahal. Tetapi tentu saja definisi kebahagiaan setiap orang berbeda-beda.  Ada yang bahagia bagi mereka adalah kebahagiaan yang serba duniawi. Ada yang mati-matian ibadah dan mengabaikan dunia demi mendapatkan kebahagiaan akhirat. Baiknya sih, meraih kebahagiaan duniawi dengan cara-cara baik agar kebahagiaannya kekal sampai kita berpulang nanti. Bahagia dunia akhirat! Bahagia untuk sehat dan punya keluarga bahagia,  punya harta yang cukup untuk berzakat, sedekah, haji/umrah, bangun masjid atau rumah tahfiz. Di akhirat pun bahagia karena selama di dunia kita hampir tidak pernah menyakiti orang, ibadahnya pun masuk standar ke surga, 

Kebahagiaan duniawi seseorang juga berbeda. Ada yang sudah cukup bahagia pulang pergi naik motor ada juga yang masih kurang bahagia, pulang pergi naik mobil Fortuner. Ada yang makan di warteg itu sudah bahagia, ada yang makan di MC Donalds itu biasa saja. 

Kalau bahagia menurut saya adalah:

1. Bahagia itu Sehat 
Semua pasti akan setuju bahwa kebahagiaan hakiki didapat ketika kita merasa sehat walafiat dalam menjalani hidup. Kita bisa melompat, berlari, berjalan, atau melakukan semua hal yang kita senangi. 

Istilahnya, kalau sehat, makan nasi dengan garam saja rasanya nikmat sekali. Kalau sakit, walau uangnya milyaran, tetap saja mau makan yang mahal dan enak-enak pun tak nafsu. Terpaksa harus  diasup infus. 

2. Bahagia itu Menjadi Diri Sendiri

Definisi lain dari bahagia adalah menjadi diri sendiri dan bebas menjadi apa yang kita mau. Kita tidak perlu merubah diri sendiri demi untuk bisa  menyenangkan semua orang. Kita bebas mengatur hidup dengan arah dan tujuan hidup kita tanpa ada orang lain yang mencoba mencampuri dan mempengaruhi diri kita asalkan semua masih sesuai dengan norma yang berlaku.

3. Bahagia itu Dicintai dan Dihargai

Siapa yang tak suka dicintai dan dihargai? Semua orang, termasuk saya, akan berbahagia ketika merasa dicintai dan dihargai kehadirannya di suatu tempat atau komunitas. Perasaan itu bisa jadi dua kali lipat ketika kita bisa memberikan kontribusi yang maksimal untuk orang-orang di sekitar kita. 

Tentu saja, definisi bahagia ini tak bisa kita dapatkan serta merta. Kita harus berjuang sehingga orang lain akan dengan sepenuh hati mencintai dan menghargai kehadiran kita di sana. Jika kedua hal dan perasaan ini sudah kita dapat, hidup kita tentu akan semakin indah dan bahagia dengan definisi bahagia yang tepat.

4. Bahagia itu Memberi

Arti bahagia yang lain bagi saya adalah jika saya bisa memberi sesuatu kepada orang lain, terutama yang membutuhkan. 

Saya memang bukan orang kaya, tetapi memberi sesuatu sudah jadi kegemaran saya sejak kecil. Saya akan berusaha memberi apa saja yang yang bisa saya berikan, entah itu ilmu atau sedikit uang saya miliki. Saya bisa tersiksa kalau tidak bisa memberi apapun untuk orang lain. 

5. Bahagia Itu Berkarya
Banyak orang mendapatkan kebahagian ketika berhasil menghasilkan sebuah karya yang bisa dinikmati oleh orang lain, dan saya adalah salah satunya. Apalagi, ketika karya itu dipuji dan diapresiasi sebagai sebuah karya yang bagus. Wah, perasaannya luar biasa bahagia!

Dan sudah beberapa tahun ini belum ada novel atau buku saya yang beredar di toko buku. Karena saya terlalu sibuk dengan drama kehidupan yang menyesakkan dada.

Ah tidak juga! Saya sibuk berkarya di bidang lain. Karena hidup itu untuk berkarya. Bukan hanya 'nyinyir' ke orang lain. Alhamdulillah! 


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya