Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Akhir dari Petualangan Bolt

Sudah hampir 4 tahun belakangan ini, modem Bolt hampir tak pernah jauh dari saya. Meski biasanya ponsel pintar saya juga sudah terkoneksi internet, saya bisa kelimpungan kalau tahu modem bolt tidak ada di pouch saya. Saya butuh koneksi internet ekstra untuk laptop. Apalagi saya sering menghabiskan waktu di depan laptop untuk bekerja dan berkarya.

Modem Bolt selalu bisa diandalkan untuk sahabat saya berkarya. Kecepatan internet yang luar biasa dengan harga yang murah meriah, membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya bahkan tak tahu lagi, apa koneksi internet lain yang bisa mengimbangi Bolt. 

Bertahun-tahun menjadi pelanggan setia Bolt menjadi penggemar fanatik. Rasanya kalau modem Bolt bermasalah, dunia seakan runtuh.

Sebulan ini memang koneksi internet Bolt semakin sering bermasalah. Sinyal yang tertiba blank lebih dari 24 jam dan lainnya. Saya masih bersabar, saya pikir mungkin modem saya yang sudah jadul dan perlu diganti.

Hingga akhirnya sudah 4 hari, tetiba kecepatan internet semakin lemot. Ternyata memang kuota umlimited saya sudah melebihi target, jadi otomatis kecepatan berkurang. Berulang kali berupaya tambah kuota booster di aplikasi ataupun telpon, tidak bisa. Dan saya pun yang kesal, curcol di twitter, dibalas oleh @Boltcare sebuah notifikasi yang menohok. Bahwa Bolt sudah tidak melayani transaksi top up kuota atau booster, baik pelanggan pasca bayar atau prabayar. Saya tanya mengapa, mereka hanya menjawab tunggu keterangan lebih lanjut dari corporate. Loh?!?

Saya semacam mencium bau-bau kebangkrutan. Lalu bagaimana nasib saya sebagai pelanggan pasca bayar yang bergantung sekali dengan koneksi internet Bolt?

Saya yang penasaran langsung meluncur ke Boltzone terdekat. Kebetulan yang terdekat dari domisili saya adalah Bolt Express Living Plaza Bintaro. Ternyata di depan saya sudah ada bapak-bapak yang mengamuk karena kasus yang sama. Tidak bisa top up! Namun bedanya dia pelanggan prabayar.

Dan keterangan yang saya dapat pun sama. Semua layanan penjualan dihentikan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Ada kemungkinan penghentian usaha sama sekali. What?!? Mengapa? Untung saya tidak nangis di sana. 

Singkatnya, langkah ini diambil First Media yang merupakan induk perusahaan Bolt karena mereka harus membayar hutang plus denda dari penggunaan frekuensi yang mencapai lebih dari 600 milyar rupiah.

Semoga ini bukan akhir dari petualangan modem Bolt. Dan semoga First Media bisa menyelesaikan dengan baik agar kami para pelanggannya juga tidak merasa ditinggal begitu saja tanpa kepastian. Karena koneksi internet mobile adalah hal yang paling krusial untuk saya. Maka saya terpaksa beralih ke provider lain dahulu. Masih ada modem Andromax M32Z yang nganggur. Koneksi lumayan....


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya