Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Takdir Allah Tak Pernah Salah


Saya masih ingat bagaimana perempuan itu menangis sejadi-jadinya, ketika lelaki cinta pertamanya, justru memilih sahabatnya sendiri ketimbang dia. Padahal sederet rencana tentang sebuah mimpi bernama pernikahan sudah disusun, lengkap dengan bagaimana mereka akan hidup dari tabungan bersama yang sudah mereka persiapkan.

"Padahal orang tuaku dan orang tuanya sudah sangat akrab." Katanya sambil tergugu. Dan memang benar, orang tua lelaki itu ikut menangis tak percaya kalau hubungan itu harus hancur berantakan.

Si perempuan pun meracau tak jelas, mempersalahkan takdir dan rasanya ingin lari dari kenyataan bahwa kekasihnya 'digondol' sahabatnya sendiri. Sedang sahabat yang lain hanya bisa menatap kasihan.

Si perempuan yang terluka, berusaha bangkit dan berjalan tertatih-tatih. Ia pun tak sempat memikirkan masak-masak lagi, ketika satu dua pinangan datang. 

"Buat apa pacaran, kalau akhirnya putus? Lebih baik langsung menikah..." Katanya mantap saat itu.

"Bagaimana dengan cinta?" Tanya saya.

"Cinta? Perempuan bisa dengan mudah jatuh cinta, bila sang lelaki memperlakukannya dengan baik." Katanya lagi seakan hendak membenarkan keputusannya untuk menikah dengan lelaki hasil perjodohan. Lelaki yang bahkan jauh dari kata ideal menurutnya. Lelaki yang bahkan didiagnosa dokter punya kelainan psikologis seumur hidupnya.

"Kamu yakin?" Tanya saya lagi.

Mataku dan matanya beradu pandang, sekelebat saya menangkap keraguan di sana. Namun kemudian dia mengoreksi dengan senyuman, "yakin...Lagipula keluarganya kaya raya, kupikir penyakitnya bisa sembuh dengan pengobatan."

"Tetapi, bahkan dia tak cukup menghibur matamu?" Tanya saya hati-hati, dan dia mendelik.

"Penampilan ternyata bukan segalanya. Buktinya kekasihku yang tampan lari dengan sahabatku." Kamu melengos. Dan akhirnya dia menikah. Kisahnya lebih mirip dongeng, 'Beauty and The Beast'. Sahabat saya yang cantik seperti bidadari dan pandai, harus memasrahkan hidupnya pada lelaki yang ah...

Tak butuh waktu lama, untuknya menyadari bahwa dia harus berkorban seumur hidupnya demi pernikahan itu. Pernikahan yang sejatinya tak pernah ada dalam benaknya. 

"Kalau boleh, aku ingin lari saja. Aku tak sanggup." Katanya suatu saat.

"Sudah terlambat!" Komentar saya sambil menatap orok yang masih merah di pangkuannya. Dan dia pun berusaha larut dalam peran barunya sebagai ibu sambil tetap berkarir. Sejenak ia lupa. 

"Bagaimana kalau aku mundur dari pertaruhan ini? Aku kan juga butuh bahagia." Suatu kali dia menyampaikan niatnya termasuk bila suatu hari dia jatuh cinta lagi.

"Dia yang ada di hidupmu kini adalah pilihanmu. Ayah dari anak lelakimu. Beruntung, dia dengan segala keterbatasannya tak pernah menyakitmu. Dia bahkan terlalu memujamu, bidadari yang rela mempertaruhkan hidupnya demi menemaninya." Kata saya saat itu. Maka dia pun memilih untuk meneruskan perjalanan. Dia makin menyibukkan diri dengan hidupnya, apalagi ketika anaknya sudah cukup besar dan punya kesibukan sendiri.

"Kau tidak ada rencana menambah anak?" Tanya saya suatu kali, melihat anak pertamanya sudah bujang.

Dia mendelik, "kamu gila! Tidak! Aku tidak mau! Cukup!" Jawabnya tegas.


Dia pun memilih untuk melanjutkan kuliah di salah satu universitas negeri bergengsi. Dengan kesibukannya bekerja dan berumah tangga, dia masih bisa meraih gelar Cum Laude untuk gelar master di universitas yang terkenal paling sulit mendapat nilai A.

Dia memang sudah bisa berdamai dengan hidupnya. Dia pikir, bila bahagia terlalu mustahil untuk diraih di dunia, maka dia akan berupaya mendapatkannya di surga. 

Ah, padahal secara kasat mata, dia di atas rata-rata bahagia bagi kebanyakan orang. Manusia yang terlihat tanpa beban. Ternyata, standar bahagianya justru terlalu sederhana buat kebanyakan orang. Ia hanya ingin menikah dengan cinta bukan demi sebuah pertaruhan.

Kini dia memulai karirnya sebagai dosen tetap almamater universitas tempat dia menimba ilmu. Perempuan cerdas itu akhirnya mulai berdamai pada takdirnya. 

Dia yang dahulu ingin bertukar tempat dengan posisi saya, dia memeluk saya betapa tidak mudah untuk tegar seperti saya. Maka dia merasa takdir yang dulu sempat 'dikutuknya' masih lebih baik dari takdir saya dan takdir siapapun yang dikenalnya.

Takdir Allah tak pernah salah. Dia memeluk saya, dan mengingatkan lagi bahwa:

"Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al An'am: 59)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset