Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Surat untuk Angin...

Dear Angin,

Bagaimana kabarmu hari ini? Kuharap kamu baik-baik saja.

Kamu ingat tidak, sudah berapa purnama kita tak jumpa? Apa kau menghitungnya? 

Aku pernah menghitungnya, tetapi pada purnama ke sekian aku berhenti menghitungnya. Karena semakin aku menghitungnya, maka rasa pilu akan perpisahan semakin terasa. Dan aku berjanji untuk tak lagi menghitung purnama.

Meski kau tak kasat mata. Aku tahu kamu selalu ada untukku lewat semilir angin yang tanpa permisi, menerpa jiwaku yang resah. Sejuk menikam ingatan. Mengoyak hati yang gersang. Membawa serta bayangan yang terpasung rindu. 

Wahai Angin,

Boleh tidak aku menitipkan sejengkal kerinduan yang lain untuk membasuh letih akan sepi. Lewat hembusanmu yang lembut,  kutitipkan rindu yang membuncah. Dalam syair  sendu yang memenggal kalbu. 

Jika aku tak dapat melihatnya, kutitipkan mataku kepadamu yang dapat melukiskan lembutnya penantian lewat hembusanmu.

Kutitipkan tangan ini untuk mendekap erat tubuhnya, menggandeng setiap langkah tertatihnya.
Kutitipkan bibir ini untuk mengecupnya, membisikkan beribu kata cinta yang dia suka.

Anginku sayang,

Dengarkanlah kisahku yang berliku. Walau aku tahu kamu tak sanggup melukis langit itu menjadi pelangi. Cukuplah menjadi saksi bisu di antara aku dan dia. Dua pasang bola mata yang sudah lama tak bertemu. Hiburlah aku di kala sendu, seperti masa itu.  

Karena hidup tak selalu mulus. Ada dan tanpamu, hidup tetap butuh kerikil dan semak berduri supaya kita berhati-hati dan waspada.  Hidup tetap butuh persimpangan agar kita bijak memilih. Hidup tetap butuh petunjuk jalan supaya kita punya harapan tentang masa depan.

Hidup juga butuh masalah agar kita kuat. Hidup butuh pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras demi satu tujuan. Hidup butuh air mata agar kita tahu merendahkan hati, begitupun kita butuh dicela agar tahu cara menghargai. Butuh tertawa supaya kita tahu persis bagaimana mengucap syukur. Butuh senyum kita tahu kita punya cinta. Butuh orang lain karena kita makhluk sosial dan butuh kearifan supaya kita tahu bahwa Allah lah sang pemilik skenario hidup.

Angin,

Surat ini untukmu. Surat pendek yang mungkin akan jadi pelipur lara dari pedihnya perpisahan. Surat yang mewakili kebisuan yang tercipta di antara kita. 

Maafkan aku ya Angin, aku selalu meminta pertolonganmu dan selalu menitipkan pesan-pesanku untuknya melalui kamu. Tapi, di luar hal itu aku tetap menyayangi kok.

Angin, jika kamu berhembus di bumi hari ini dan kamu bertemu dengannya, tolong katakan padanya bahwa sekarang aku telah menjadi salah satu agen rahasia di langit dan aku baik-baik saja di atas sini.

Aku masih bisa melihatnya dari tempatku saat ini berada. Aku masih bisa melihat ketika ia tersenyum, ketika ia tertawa, ketika ia sedang gundah, jengkel, marah ataupun sedih. Sampaikan juga padanya bahwa aku juga merindukan dirinya.

Angin, tolong sampaikan padanya bahwa tidak ada hal yang harus ia khawatirkan. Karena aku selalu bersama dengannya. Aku tidak pernah kemana-mana. Aku hanya pergi untuk sementara dari sisinya karena aku harus melakukan suatu misi di langit. Katakan padanya bahwa aku selalu melihatnya dan berada disampingnya. Aku selalu berada di dalam hatinya dan aku tidak akan pergi kemanapun.

Angin, tolong katakan padanya bahwa kami hanya terpisah tidak untuk selamanya. Katakan padanya bahwa kita akan kembali bertemu jika waktunya telah tiba. Katakan padanya bahwa perpisahan kita ini, hanya berlangsung sementara. Ia hanya perlu bersabar hingga waktunya tiba dan kita akan kembali bersama. Katakan juga padanya bahwa aku selalu menyayanginya seperti aku menyayangimu.



Salam


Rindu


***Tulisan ini merupakan tema pengganti #BPN30DayBlogChallenge2018 hari ke-11. Sungguh saya tak punya banyak koleksi unik kecuali buku-buku kesayangan yang pernah saya ulas kemarin. Jadi puisi ini untuk Angin, yang mengilhami saya (Rindu) membuat blog berjudul 'Angin Rindu'.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak