Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Secuil Memori Tentang Kamu


Lebih dari 10 tahun lalu, ketika saya masih gadis polos lulusan Institut Pertanian Bogor. Persinggahan pertama saya untuk mengadu nasib adalah Samudera Indonesia Group. Saya ditempatkan di divisi business development bersama satu orang turunan Belanda sebagai GM, manajer yang orang lokal. 

Sebagai fresh graduate, itu adalah senyaman-nyamannya tempat untuk belajar. Saya belajar banyak soal feasibility study yang dahulu saat di kampus cuma sekedar teori. 

Selain soal atasan dan lingkungan kerja yang kondusif. Hal lain yang saya ingat persis adalah sosok Alm. Soedarpo, sang pemilik perusahaan terkuat di Indonesia pada zaman itu, dan sampai sekarang pun masih kokoh berdiri. Dari buku-buku sejarah yang saya baca, Alm. Soedarpo ini salah satu tokoh bangsa.

Zaman penjajahan menjelang Indonesia merdeka beliau sudah menjadi diplomat. Jabatan Duta Besar Indonesia untuk Amerika-nya adalah salah satu jabatan strategis yang membawa nama baik Indonesia di mata dunia. Tak hanya piawai sebagai diplomat, Alm. Soedarpo ternyata juga punya intuisi bisnis yang sangat mumpuni. Makanya tak heran, Samudera Indonesia Group punya lebih dari anak 60 perusahaan.

Jadi orang tajir melintir, tidak membuat Alm. Soedarpo besar kepala dan sok. Masih terekam jelas di ingatan saya, bagaimana Alm. Soedarpo yang waktu itu sudah renta namun tetap gempita datang ke kantor dengan mobil Mercedes Benz tua-nya, menenteng tas koper kulit kesayangan yang juga sudah tua. 

Padahal orang bayarannya, punya mobil dan penampilan yang perlente. Tetapi dia sang pemilik perusahaan dengan duit yang mungkin tak berseri, tetap sederhana.

Setelah melanglang buana ke sana kemari, akhirnya Qadarallah Selasa kemarin, saya harus meeting dengan salah satu direktur unit usaha Samudera Indonesia. Selepas meeting, saya melepas kangen dengan bercerita-cerita soal Samudera Indonesia di mata saya.

Dan, akhirnya saya tahu kalau tampuk pimpinan Samudera Indonesia kini dipegang oleh Bani M. Mulia, cucu kesayangan Alm. Soedarpo. Di tangan pemuda kelahiran 80-an itu, Samudera Indonesia tak hanya kokoh secara duniawi, tetapi juga secara akhirat.

Pak Bani pula yang membuat jadwal tetap kajian Islam, tak pernah absen shalat berjamaah di masjid dekat kantor, dia juga yang membuat code of conduct perusahaan yang sempat saya pikir BUMN, itu jadi lebih syariah. 

Kalau ditanya mengapa? Sang direktur muda itu selalu bilang, "Karena semua akan dipertanggung jawabkan ke Allah. Dunia cuma persinggahan."

Masya Allah Tabarakallahu.

Hal yang lucu ketika saya sounding, sahabat saya yang juga alumni Samudera Indonesia. Tentang sang direktur lajang, yang soleh, pandai dan baik hati.

"Masya Allah, gue pikir bidadara cuma ada di surga." Komentar polos dari seorang wanita.

Dan kami akhirnya malah penasaran, bidadari macam apa yang kelak  akan mendampingi bidadara yang nyasar ke bumi itu.

"Gue kayaknya cuma plankton yang merindukan rembulan..." kata-kata pesimis sahabat saya. 

"Doa aja yang kenceng. Doa itu bertarung dengan takdir di langit. Cuma doa yang merubah takdir. Siapa tahu kan Allah mempertemukan di majelis yang mulia." Sahut saya.

Dan waktu saya bilang, direktur itu gak suka sama pegawainya yang lembur. Dia maunya pulang terakhir. Jadi suatu kali waktu sang direktur keluar kantor, liat atas, masih ada lantai yang nyala lampunya. Langsung urung pulang dan dia naik ke atas, menemani pegawainya yang lembur sampai pulang.

Sahabat saya bergumam, "kalau gitu saya mendingan lembur terus, biar ditemenin."

Saya bilang, "ya nanti kamu dipecat karena dianggap tidak perform. Kerjaan gak kelar tepat waktu."

Dia bilang, "oh iya...". Lalu kamu tertawa cekikikan.

Sungguh obrolan tak penting sepanjang lunch break. Kalau pak direktur baca ini, mohon abaikan ya pak.



Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya