Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Pendakwah Kecil


Malam tadi, ustadzah-nya anak saya (Sydney) memastikan lagi bahwa hari ini, Sydney akan berdakwah. Tentu saja dahi saya berkernyit beberapa detik kemudian tersenyum.

"Mohon bantuannya untuk menyiapkan Sydney..." Kata sang ustadzah lagi. 

Lagi-lagi kata-kata tadi membuat saya terdiam beberapa menit. Rasanya kok seperti hendak melepas Sydney ke medan laga. 

"Baik....Insya Allah." Jawab saya singkat.

Saya pandangi wajah Sydney yang masih asyik murojaah sambil merancang legonya. Aih... apa dia tahu bahwa dia besok akan berdakwah? Apa dia tahu artinya berdakwah?

Hampir setahun lalu, Sydney memang pernah 'ngotot' untuk tampil di panggung lengkap dengan gamis putih, kopiah dan sorbannya. Padahal dia tak masuk dalam agenda malam itu. Dan sepertinya terlalu beresiko kalau menyelipkan Sydney di dalam acara 'tabligh akbar' yang dihadiri para tokoh dan alim ulama. Namun Sydney gigih memaksa. Akhirnya yeah...Bocah yang baru jalan lima tahun itu tampil di panggung dengan salah satu ustadz, Pak Sobari untuk menyampaikan sebuah hadits di depan ratusan penonton. It was great!

Dan setahun kemudian, Sydney mulai rutin berdakwah dengan caranya sendiri. Masya Allah Tabarakallahu.

Sejak masih gadis, salah satu doa yang senantiasa saya panjatkan adalah

 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami dari pasangan-pasangan hidup kami dan anak keturunan kami penyejuk hati dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)
Dan kalau akhirnya, Qadarallah, hanya anak sholeh yang dititipkan kepada saya. Alhamdulillah. Karena kelak anak sholeh itu yang akan menggandeng lengan saya untuk ke surga. 

Dan tentu saja, di balik kesholehan anak ada seorang ibu yang demikian gigih mempersiapkannya. Saya mungkin tidak bisa memberikan hidup yang sempurna untuknya di dunia. Tetapi saya berjanji akan mempersiapkan kehidupannya yang sempurna di akhirat nanti.

Seperti pagi ini dalam perjalanan kami ke sekolah Sydney. Kami mengulang kembali hafalan ayat-ayat dan doa-doa. Menurut jadwal yang kami sepakati, setidaknya juz 30 bisa kelar dari persiapan hingga sampai di sekolah. Makanya kami berusaha disiplin. Sekalipun hari ini kami mesti menumpang, Go-jek. Murojaah jalan terus.

Sebetulnya bukan kali ini saja, kami muroja'ah di Go-jek yang mengantar kami pergi atau pulang sekolah. Dan setiap kami murojaah, biasanya abang Go-Jek malah melambatkan motornya. Waktu saya tanya, "Alhamdulillah, jarang-jarang dengar murottal gratis...teruskan bu...semoga dapat berkah rezeki saya hari ini."

Suatu hari nanti, pasti kami akan mengenang masa-masa sulit ini dengan penuh syukur. Allah adalah sebaik-baik perencana. Satu hal yang harus dipahami bahwa, "Tokoh istimewa tidak akan ditakdirkan untuk alur yang biasa-biasa saja."

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya