Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Namaku Bobby...


Namaku Bobby Kertanegara, biasa dipanggil Bobby. Siapa yang kenal aku sekarang? Kucing sang jenderal yang kesohor di negeri ini. Siapa yang sangka pula, kalau aku yang dulu hanya dipanggil 'meong' dan dipandang sebelah mata bahkan oleh si Manis, kucing gebetanku kini jadi kucing penghuni istana Kertanegara no. 4.

Aku masih ingat persis, bagaimana dahulu aku dan emak berjalan beriringan mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah. Aku yang polos, melonjak kegirangan ketika menemukan tulang paha ayam dengan secuil daging dan terigu crispy dalam kardus merah bergambar kakek tua. 

"Emak...lihat apa yang aku temukan? Ayam....ayam goreng crispy!" Teriak aku saat itu.

Emak yang sedang sibuk mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah lain sampai menongolkan kepalanya melihatku. Emak tersenyum, dan kembali sibuk. Sedang aku dengan tergesa menggigit tulang itu dan membawanya ke luar tempat sampah. Aku ingin merasakan kelezatan ayam itu di luar tempat sampah.

Dan ya...Masya Allah. Ayamnya enak! Gigiku yang belum sempurna berusaha melumat tulang-tulang itu sampai habis.

"Hati-hati, nak kamu nanti keselek!" teriak emak, tentu saja dengan bahasa yang hanya bisa dipahami oleh kami para kucing.

Dan aku tak menjawab, karena aku asyik menikmati setiap milimeter tulang ayam itu, menyisakan secuil daging dan terigu crispy-nya untuk aku makan belakangan. 

Itu hari keberuntunganku. Lain kali aku tidak menemukan apa-apa yang bisa kumakan. Emak sebenarnya menangkap tikus. Tetapi aku tidak suka tikus. Seumur-umur aku belum pernah makan tikus. Bagiku makan daging mentah itu menjijikkan.

Suatu hari kala kami berjalan-jalan di komplek perumahan elit, aku melihat kucing berbulu panjang yang sedang tertidur di bangku teras rumah. Tak jauh dari tempatnya ada piring dan gelas makannya. Aku sempat memperhatikan kucing itu, yang bangun tidur langsung makan. 

"Mak, enak ya....jadi kucing orang kaya. Gak usah capek-capek cari makan di tempat sampah. Gak usah ditendang manusia waktu kita mengendus-endus bau ikan. Gak usah tidur di lantai, kehujanan dan kepanasan. Gak usah..."

"Sssstt..." Emak mendelik

"Tidak boleh menggerutu. Allah Maha Baik. Ini sebaik-baik takdir untuk kita, kucing kampung." Kata Emak bijak.

"Memang kucing kampung seperti kita gak boleh tinggal di rumah orang kaya?" Tanyaku.

"Bukan begitu nak. Kita tidak tahu takdir apa yang sudah dipersiapkan Allah untuk kita. Yang jelas, nikmati saja setiap detik yang terlewat. Karena inilah sebaik-baik takdir."

Aku cemberut. Emak mendekatiku dan memeluk.

"Tetapi emak yakin, suatu hari nanti nasibmu akan baik. Jauh lebih baik dari nasib emak dan moyangmu."

Mataku membulat mendengar kalimat itu.

"Benarkah mak?" Tanyaku memastikan.

"Insya Allah...emak yakin itu. Kamu anak baik. Dan emak terus berdoa untuk kamu. Emak yakin entah kapan, kamu akan jadi sesuatu."

Siapa nyana, setahun kemudian aku ada di sini. Di rumah besar milik salah seorang politisi yang juga calon presiden. 

Tentang bagaimana aku bisa sampai di sini. Itu sungguh skenario terkeren dari Sang Maha Hebat, Allah. 

Setahun lalu, aku sedang berduka kehilangan emak, sandaran hidupku. Kepergian emak selama-lamanya saat aku sedang butuh emak. Aku sebatang kara, dan tak tahu harus bagaimana meneruskan hidup sendirian. 



Hingga Allah menunjukkan langkahku ke rumah ini. Aku yang kelaparan dan kedinginan memberanikan diri untuk menyelinap masuk ke halaman rumah besar itu, untuk berteduh. Rupanya aku ketiduran cukup lama. Saat bangun, di hadapanku sudah ada piring berisi makanan yang seumur-umur belum pernah aku rasakan. Enak! Aku makan dengan sangat lahap hingga ludes. Masya Allah, ternyata gelas di sebelah piring makanku tadi berisi susu. Amboi lezatnya...

Kelar menghabiskan susu, sebenarnya aku hendak beranjak pergi. Namun tiba-tiba, sesosok pria bertubuh kekar datang menghampiri seperti hendak menangkapku. Aku ketakutan setengah mati. Aku berusaha lari, tetapi tidak bisa. Lelaki itu sudah menangkapku. Aku memejamkan mata, tak berani membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi. 

"Mau kemana sayang? Kamu tidak suka tinggal di sini?"

Apa tadi kudengar? Seketika aku membuka mata, mendongakkan kepala ke arah lelaki yang membelai kepalaku lembut. Tak percaya.

"Kamu boleh tinggal di sini selamanya." Lelaki itu terlihat tulus. Aku pun menitikkan air mata. Tetiba teringat dengan doa emak, bahwa suatu hari nanti aku akan hidup enak.  Allahu Akbar.

Dan di sinilah aku. Kucing kesayangan Bapak Prabowo Subianto. Bahkan boleh dibilang, akulah tuan di rumah ini. Aku bisa tidur di mana saja aku mau. Aku bahkan dipersilahkan tidur di atas meja sepanjang rapat konsolidasi partai atau rapat penting pemegang saham perusahaan Bapak Prabowo. 

Aku juga yang kadang menerima tamu-tamu penting, termasuk para wartawan. Aku ikut menyeleksi, mana tamu yang berhati tulus dan mana yang busuk. 

Takdirku hari ini adalah hasil doa emakku. Sayang, emak belum sempat melihat bagaimana aku kini. 

Namaku Bobby, kucing penghuni rumah Kertanegara no.4. Dan aku tak henti-hentinya bersyukur atas takdirku hari ini. Allah adalah sebaik-baik perencana. Tak ada yang sulit buat Allah, untuk mengubah nasib aku si kucing kampung, menjadi kucing seorang calon presiden. Dan bukan mustahil, kalau suatu hari nanti aku jadi kucing kepresidenan. 

Siapa tahu aku bernasib mujur seperti Larry, kucing penghuni Downing Street no. 10 di Britania Raya. Tempat kediaman para perdana menteri Kerajaan Inggris. 

Namaku Bobby, kucing penghuni rumah Kertanegara no. 4. Kamu bisa intip keseharian aku di instagrambobbythek4t

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya