Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Malaikat Tanpa Sayap Itu Ada!



Sepanjang kehidupan saya, orang-orang berhati  malaikat datang dan pergi silih berganti. Satu-persatu dari mereka datang saat saya sedang kepayahan melangkah, kemudian kembali pergi setelah saya mampu berdiri dengan tegak dan tersenyum. Para malaikat tanpa sayap dalam bentuk manusia ini seperti dikirim Tuhan untuk menemani masa-masa sulit saya. Mereka dikontrak dengan periode kontrak yang telah ditentukan. Setelah waktunya berakhir, maka dia juga akan segera pergi dan pindah ke kontrak barunya dengan menjadi ‘guardian angel’ untuk orang yang berbeda.


Saya tak pernah bisa menerka kapan Tuhan akan mengirimkan malaikatnya untuk saya. Bahkan terkadang saya baru bisa mengenali malaikat saya di penghujung waktu atau malah setelah takdir memisahkan kami dan membawa saya pada malaikat lain yang berbeda. 



Beberapa waktu lalu saya kembali dalam posisi yang tidak menguntungkan. Saya dirundung kesedihan setelah mengalami beberapa ujian, dan ketika saya mencoba memahaminya. Tuhan mengirimkan malaikat lagi untuk menemani saya.

Beberapa dari sekian banyak manusia berhati malaikat di Kampung Sukabakti, tempat dimana episode "Angin Rindu" berlangsung adalah Pipik, Lisda dan Mia. Ketiganya adalah emak-emak yang juga pernah jadi santri saya di Rumah Quran. 

Saya melewati masa-masa sulit bersama ketiga orang ini. Ketika bahkan saya tak tahu harus bicara pada siapa. Mereka datang tanpa saya perlu menjelaskan apa-apa. Datang saja dengan lapang dada menawarkan pelukan hangatnya.

Walau mereka tak terlalu tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan masih terus menyesali mengapa saya pergi dari Kampung Sukabakti yang telah memberikan saya cinta yang tulus. Tetapi mereka bahagia akhirnya saya mulai menemukan kebahagiaan yang lain. 

Saya lupa kapan terakhir kali saya pulang ke rumah. Rumah itu sudah mirip rumah hantu tak bertuan. Saya sempat bilang kalau saya tak akan kembali ke rumah itu dengan penuh emosi. Dan mereka hanya diam.

Dan ketika akhirnya kemarin saya bilang, mungkin saya akan pulang. Tapi tidak untuk menetap. Dan saya tidak menyangka kalau semalaman mereka sibuk membersihkan rumah saya agar saya nyaman, pada saat saya tertidur lelap. Dan mereka tidak hanya bertiga, tetapi membawa suami mereka untuk bergotong royong membersihkan rumah yang setengah mati ingin saya hapus dari memori saya, hanya demi membuat saya nyaman pulang. Allahu  Akbar!

Ah ya Allah...Guru ngaji saya yang hafizah hanya berkomentar, "Allah tidak pernah tidur ukhti. Allah ingat persis bagaimana dahulu kamu tanpa pamrih mengajar kan ayat-ayatnya kepada mereka dan banyak orang. Allah dan para malaikat mencatat bagaimana kamu telah memberikan hidayah kepada mereka. Dan Allah tahu persis bahwa apa yang kamu lakukan hingga mencuri hati mereka bukanlah sekedar pencitraan. Jadi Allah akan menggerakkan hati-hati makhluknya untuk menjaga dan menyayangimu. Segelintir manusia menyakitimu dan membuat kamu 'hancur berantakan', tapi masih banyak yang punya cinta yang tulus untuk kamu."

Sebenarnya, bukan hanya mereka malaikat tanpa sayap saya di Sukabakti. Saat saya sibuk mengajar dahulu, maka Sydney diurus oleh emak-emak sekampung, yang notabene masih santri saya juga. Selalu ada emak-emak baik yang menyuapi Sydney makan. Ada mama Abith, mama Syafiq, Nenek Arka, Ibu Eko, Mama Radfa dan masih banyak lagi.

Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang hatinya bertaut dengan Al Quran. Apalagi dia yang membuat orang lain ikut menghafal, mencintai dan mengamalkan Al Quran. Ini adalah buah dari bibit yang pernah saya tanam.

Makanya, sesibuk-sibuknya Saya mencari nafkah. Saya masih meluangkan waktu menjadi guru ngaji sukarelawan Askar Kauny yang ikut mengampu santri online Hafiz On The Street. 

” Untuk malaikat-malaikatku, terima kasih telah hadir dan memberi warna dalam kehidupan saya. Saya tidak akan pernah melupakan kalian. ”

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak