Perempuan itu Bernama Kartini

Image
(repost pernah dimuat di jakartakita.com)

Hari ini (21/4/2019), 140 tahun lalu lahirlah seorang Kartini yang dianggap sebagai tokoh wanita pengusung emansipasi wanita. Begitu istimewanya Raden Ajeng Kartini, hingga hari lahirnya setiap tahun selalu diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Tak hanya sekedar dijadikan hari khusus setiap tanggal 21 April. Sejumlah seremonial simbolis pun menjadi bagian dari peringatan ini. Dari pawai keliling anak-anak yang berpakaian adat nasional, lomba kebaya, lomba memasak, dan lain-lainnya.
Seminar seputar peran serta perempuan di era modern yang katanya terinspirasi oleh perjuangan Kartini pun selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap peringatan. Kartini pun menjadi simbol dari sebuah pergerakan feminisme. Entah apakah mereka tahu apa sebenarnya arti feminisme. Apakah demikian yang dicita-citakan seorang Kartini?
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Lahir sebagai perempuan dari kalangan ningrat yang me…

Kenapa Saya 'Nge-Blog'?



Sewaktu kecil, saya menderita dyslexia. Bagi yang belum tahu apa itu dyslexia, itu adalah salah satu jenis gangguan yang membuat seseorang sulit membaca dan menulis. Saya ingat betul betapa saya kesulitan melewati awal-awal masa SD saya, karena meskipun tahu huruf saya sama sekali tak bisa membaca. Membaca dan menulis adalah hal yang mengerikan buat saya, makanya tak heran setahun pertama prestasi sekolah saya buruk, karena setiap mengerjakan ulangan saya hanya menebak.

Seiring dengan waktu saya bisa membaca. Itupun dengan perjuangan keras ibu saya. Namun, tulisan saya masih jauh dari sempurna. Ejaan yang kebolak-balik ciri khas kaum dyslexia masih tertinggal. Termasuk kesulitan mengenali hal sepele, seperti kiri dan kanan.

Setelah saya bisa membaca dan menulis, tiba-tiba prestasi sekolah saya yang semula masuk dalam deretan ranking terbawah langsung melesat menjadi nomer 1 di kelas, begitu terus hingga SMA. Sayangnya di SMA saya yang unggulan itu ada banyak anak berbakat yang membuat saya kesulitan masuk di deretan 3 besar.

Singkat cerita, sejak bisa membaca dan menulis saya tahu persis kalau passion saya adalah menulis karena saya suka membaca. Entah sudah berapa ratus sajak yang saya tulis sejak SD hingga SMP. Di bangku SMA, imajinasi saya pun mulai liar, saya mulai menulis cerpen. Saya pun sudah meniatkan langkah menjadi penulis. Masuk kelas bahasa dan melanjutkan S1 Sastra. Namun, sayang sekali saat itu di SMA saya tak ada kelas bahasa. Lagipula nilai pelajaran eksakta saya tidak buruk, seperti kebanyakan orang yang dipaksa masuk bahasa karena nilai eksakta jeblok. Sebaliknya saya ngotot masuk bahasa dengan nilai-nilai eksakta yang cemerlang. Orang bilang saya bodoh, karena di luar sana banyak orang yang sangat ingin masuk kelas IPA dengan nilai yang pas-pasan sedangkan saya?

Ah sudahlah, saya pun akhirnya masuk IPA dan keluar dengan cemerlang. Namun cita-cita saya untuk menjadi mahasiswa sastra pun kandas karena orang tua saya menginginkan saya jadi PNS atau pekerja kantoran. Nilai saya yang cemerlang lebih baik jadi modal untuk jadi insinyur pertanian di IPB. Menurut mereka menulis dan menjadi seniman tidak menghasilkan uang.

Berkuliah bukan di tempat yang saya inginkan, membuat saya mulai ‘nakal’. Saya malas kuliah, sering bolos dan melarikan diri ke perpustakaan untuk membaca. Meski malas kuliah, saya tergolong rajin mengerjakan paper atau esai. Karena cuma di tugas itu saya bisa bersenang-senang mengolah kata, menulis sepanjang yang saya mau. Makanya tidak mengherankan kalau esai saya selalu paling panjang di kelas. Kalau kebanyakan mahasiswa hanya menulis 1-2 halaman saja. Maka saya mengetik rapih belasan halaman.

Lulus kuliah saya berhasil kerja kantoran. Namun, keinginan saya untuk menulis semakin menggebu-gebu. Novel perdana saya “Surat Cinta Saiful Malook” mengawali sepak-terjang saya di dunia kepenulisan. Akhirnya orang tua saya pun yakin kalau menulis adalah jalan hidup saya. Setelah itu ada 5 buku, ratusan artikel dan cerpen yang nangkring di media online, cetak atau pun blog-blog saya yang bertebaran di internet.

Jadi kalau ditanya, mengapa saya 'nge-blog'? Bagi saya, 'nge-blog' lebih dari terapi jiwa agar tetap waras menjalani hari. Menulis membantu saya mengekspresikan perasaan dengan lebih jujur. Karena bagi saya, blog itu seperti online diary. Dan suatu hari, bila saya tiada. Tulisan ini akan tetap dibaca oleh siapapun. Makanya saya berupaya agar tulisan saya bisa jadi amal jariyah bukan dosa jariyah.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset