Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Jodoh Terbaik dari Allah


Bertahun-tahun menjadi penulis roman, ternyata tidak membuat saya pandai mendefinisikan apa arti cinta. Sebagai perempuan dewasa, saya tidak lagi menafsirkan cinta hanya sebatas ketertarikan secara emosi dan fisik kepada lawan jenis. Bagi saya di dalam cinta, ada tanggung jawab, empati, kasih sayang, toleransi, pengorbanan, kepatuhan, dan saling menghormati.

Lelaki baik tidak hanya akan menawarkan cinta, tetapi juga tanggung jawab dunia akhirat. Lelaki yang baik akan memastikan bahwa istri dan anaknya kelak akan selamat dari api neraka. Lelaki yang baik tentunya hanya berjodoh dengan perempuan baik. Begitupun perempuan baik hanya akan berjodoh dengan laki-laki baik.

“Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa fitnah yang menimpa Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Bahwa beliau telah dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka pastilah beliau perempuan yang baik, sebagaimana Rasulullah adalah laki-laki yang baik. Nabi tak mungkin beristri dengan wanita yang keji (melakukan pelanggaran seksual). Tak pernah ada istri Nabi mana pun yang seperti itu.

Tetapi pada kenyataannya, agak susah bagi seorang perempuan yang punya masa lalu tidak baik untuk bersanding dengan laki-laki baik. Lebih mudah bagi laki-laki dengan masa lalu tidak baik untuk bersanding dengan perempuan baik-baik.

"Sebrengsek-brengseknya Cowok, Dia Tetap Akan Nyari Cewek Baik-Baik Untuk Dijadikan Masa Depannya."

Laki-laki sebajingan apapun tahu mana perempuan yang pantas untuk dijadikan 'mainan' dan mana yang pantas untuk dijadikan ratu. Dan laki-laki bajingan pun akan memilih perempuan baik-baik yang bisa menjaga kehormatannya. Karena suatu hari nanti, perempuan itu yang akan melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Biar bagaimanapun, laki-laki itu masih berharap anak-anaknya tidak sebrengsek dirinya.

Allah itu Maha Baik. Bahkan doa-doa para laki-laki bajingan yang ingin mengakhiri petualangan cintanya bila bertemu  perempuan baik-baik yang akan menjadi ibu untuk anak-anaknya pun dikabulkan.

Dan biasanya laki-laki yang sudah berniat memperistri perempuan baik-baik mulai memantaskan diri menjadi laki-laki baik walau hanya pencitraan. Hingga akhirnya mereka menikah.

Ada laki-laki bajingan yang benar-benar bertobat dan mengakhiri petualangan cintanya. Karena baginya sudah cukup memiliki istri yang shalihah dan anak-anak.

Ada pula yang kembali brengsek dengan berselingkuh namun tetap mempertahankan istri sholihah dan anaknya. Beberapa laki-laki 'brengsek' bahkan memakai alibi agama untuk poligami. Asal kawin syiri' hanya demi melegalkan perzinahannya.

Dalam doktrin Islam baik itu Alquran maupun Hadis, poligami memang disebutkan secara terang benderang. Tapi saya malah memahaminya perilaku ini dilarang karena syaratnya sangat berat yaitu harus bisa bersikap adil. Bahkan karena sulitnya berlaku adil maka Alquran menyarankan agar beristri satu saja.

Juga dalam kenyataannya, kebanyakan suami yang melakukan poligami dimulainya dengan melakukan kebohongan sehingga mengakibatkan kekerasan kepada anggota keluarga baik istri maupun anak-anaknya.

Walau ada juga poligami yang benar-benar 'nyunnah'. Biasanya ini poligami yang dilakukan oleh para alim ulama yang tahu persis hukum poligami. Mereka tidak serta merta menikah lagi dengan mencari 'daun muda' tetapi mereka mencari istri yang bisa menjadi partner dakwahnya. Sama sholehahnya dengan istri sebelumnya. Jadi pernikahannya membawa berkah.

Sebenarnya gampang saja melihat apakah seorang laki-laki yang berpoligami itu benar-benar sholeh atau cuma alibi. Lihat keseharian hidupnya, apakah dia sudah mengikuti Al Quran dan Hadits atau cuma Islam KTP. 

Apakah istri barunya meskipun siri sama sholehahnya dengan istri sebelumnya atau malah lebih sholeh. Kalau istri pertama sholehah, hafal Quran, menutup aurat, dan istri keduanya berpakaian seksi, masih suka dugem atau meminum minuman keras?

"Lalu bagaimana nasib perempuan baik yang terjebak laki-laki brengsek?"

Seperti janji Allah dalam “Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

Allah yang mempertemukan dan Allah juga yang akan memisahkan. Allah akan menjodohkan lagi perempuan baik itu dengan laki-laki baik. Begitu juga sebaliknya.

Maka jika hari ini engkau mengharapkan pasangan hidup yang baik, maka prasyarat yang harus kau penuhi adalah menjadikanmu sebagai orang yang baik. Jika engkau memimpikan jodoh yang sholeh/sholehah, maka prasyarat yang harus kau penuhi adalah mempersiapkan dirimu menjadi orang yang sholeh/shalihah.
Perempuan sekualitas Hawa mendapatkan jodoh sekualitas Adam. Perempuan sekaliber Hajar mendapatkan jodoh sekaliber Ibrahim. Perempuan selevel Aisyah mendapatkan jodoh selevel Muhammad Rasulullah. Perempuan sehebat Fatimah mendapatkan jodoh sehebat Ali.
Jangan risau! Jangan bersedih hati! Jika dirimu saat ini masih sendiri atau baru saja mengalami kegagalan dalam pernikahan. Insya Allah jodohmu yang sebenarnya tengah menanti. Meminjam istilah Sayyid Qutb- adil untukmu. La tahzan! Teruslah memperbaiki diri. Teruslah mentarbiyah diri. Ingatlah, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Begitu juga sebaliknya.



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya