Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Apakabar luka?


“People come and go. Everyone that’s been in your life has been there for a reason, to teach you, to love you, or to experience life with you.” 

Sepanjang hidup, entah sudah berapa banyak orang yang datang, singgah, dan kemudian pergi lagi. Ada yang singgah dengan membawa segala kenangan indah, ada juga yang pergi sambil menorehkan luka yang tak akan sembuh kecuali keajaiban.

Dan saya yakin, saya adalah bagian dari orang-orang yang datang dan pergi di dalam kehidupan orang lain. Ada yang tetap mengingat saya sebagai orang baik. Dan mungkin ada juga, segelintir yang mengingat saya sebagai orang jahat yang sukses meninggalkan luka menganga.

Saya bukan tipe orang yang gampang terluka, tetapi juga bukan berarti saya tak pernah terluka. Bila saya terluka, maka butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkannya. Dan biasanya butuh banyak sekali luka, hingga akhirnya saya mengaduh dan mengakui kalau saya benar-benar terluka. 

Orang-orang di dekat saya tahu persis, betapa saya terlalu kuat untuk dilukai. Tetapi sekalinya terluka, maka seluruh dunia bisa tahu. Walau sisi baik saya seringkali mengingatkan saya untuk tidak terlalu mengingat luka. Tetapi sisi buruk saya, mendorong saya untuk memberikan pembalasan yang setimpal atas luka menganga. Akhirnya yang menang adalah, saya diam setelah menyelesaikan seperempat dari pembalasan dendam. 

Bukan untuk membalas luka orang yang melukai saya. Bukan! Tetapi lebih kepada untuk menyelamatkan kewarasan saya. Toh, sekuat-kuatnya cermin juga bisa retak. Bila didiamkan, mungkin akan hancur berantakan.

Untuk kamu yang melukai saya...Tolong jangan meminta lebih dari maaf saya. Izinkan saya pergi, menghapus rentetan luka, dan memulai hidup baru. 




Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset