Perempuan itu Bernama Kartini

Image
(repost pernah dimuat di jakartakita.com)

Hari ini (21/4/2019), 140 tahun lalu lahirlah seorang Kartini yang dianggap sebagai tokoh wanita pengusung emansipasi wanita. Begitu istimewanya Raden Ajeng Kartini, hingga hari lahirnya setiap tahun selalu diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Tak hanya sekedar dijadikan hari khusus setiap tanggal 21 April. Sejumlah seremonial simbolis pun menjadi bagian dari peringatan ini. Dari pawai keliling anak-anak yang berpakaian adat nasional, lomba kebaya, lomba memasak, dan lain-lainnya.
Seminar seputar peran serta perempuan di era modern yang katanya terinspirasi oleh perjuangan Kartini pun selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap peringatan. Kartini pun menjadi simbol dari sebuah pergerakan feminisme. Entah apakah mereka tahu apa sebenarnya arti feminisme. Apakah demikian yang dicita-citakan seorang Kartini?
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Lahir sebagai perempuan dari kalangan ningrat yang me…

Apakabar luka?


“People come and go. Everyone that’s been in your life has been there for a reason, to teach you, to love you, or to experience life with you.” 

Sepanjang hidup, entah sudah berapa banyak orang yang datang, singgah, dan kemudian pergi lagi. Ada yang singgah dengan membawa segala kenangan indah, ada juga yang pergi sambil menorehkan luka yang tak akan sembuh kecuali keajaiban.

Dan saya yakin, saya adalah bagian dari orang-orang yang datang dan pergi di dalam kehidupan orang lain. Ada yang tetap mengingat saya sebagai orang baik. Dan mungkin ada juga, segelintir yang mengingat saya sebagai orang jahat yang sukses meninggalkan luka menganga.

Saya bukan tipe orang yang gampang terluka, tetapi juga bukan berarti saya tak pernah terluka. Bila saya terluka, maka butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkannya. Dan biasanya butuh banyak sekali luka, hingga akhirnya saya mengaduh dan mengakui kalau saya benar-benar terluka. 

Orang-orang di dekat saya tahu persis, betapa saya terlalu kuat untuk dilukai. Tetapi sekalinya terluka, maka seluruh dunia bisa tahu. Walau sisi baik saya seringkali mengingatkan saya untuk tidak terlalu mengingat luka. Tetapi sisi buruk saya, mendorong saya untuk memberikan pembalasan yang setimpal atas luka menganga. Akhirnya yang menang adalah, saya diam setelah menyelesaikan seperempat dari pembalasan dendam. 

Bukan untuk membalas luka orang yang melukai saya. Bukan! Tetapi lebih kepada untuk menyelamatkan kewarasan saya. Toh, sekuat-kuatnya cermin juga bisa retak. Bila didiamkan, mungkin akan hancur berantakan.

Untuk kamu yang melukai saya...Tolong jangan meminta lebih dari maaf saya. Izinkan saya pergi, menghapus rentetan luka, dan memulai hidup baru. 




Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset