Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Rindu dan Angin


Aku masih ingat bagaimana Rindu menyapaku syahdu. 

"Kamu baik-baik saja kan angin?"


Aku tersenyum jengah sambil mengalihkan pandang, "iya.... aku baik-baik saja Rindu...".

"Kamu marah padaku, angin?" tanya Rindu lagi karena melihat aku memalingkan wajah.

"Tidak Rindu... mengapa aku harus marah?" aku memandang bulu mata Rindu yang lentik sambil tersenyum.

"Aku hanya...", aku mengalihkan pandang pada rerumputan.

"Hanya apa?" Rindu penasaran.

"Hanya..." aku memandang Rindu memastikan semuanya akan baik-baik saja bila aku mengatakan yang sesungguhnya.

"Hanya apa Angin?" Rindu makin penasaran. Sejenak kami beradu pandang, kemudian aku kembali menunduk.

"Aku mencintaimu Rindu..." bibirku bergetar mengucap kata keramat. Mata Rindu membelalak.

"Cinta katamu?" Mata Rindu memandangiku seakan ingin menguliti dusta di sana. Tapi percuma, sampai kapanpun Rindu tak akan menemukan dusta akan cintaku di sana. Rindu menyerah, aku menangis haru.

"Angin.... Bila kau mencintaiku, bagaimana aku menyampaikan rinduku pada kekasihku?" tanya Rindu polos.

"Aku... aku yang akan menyampaikannya... walau sakit... sakit rasanya. Tapi aku tahu rasanya jatuh cinta. Biarlah kusampaikan rindumu padanya asal kamu bahagia".

Mata Rindu memerah, satu persatu bulir air matanya menetes. "Maaf angin..."

Aku tersenyum penuh luka, "tidak mengapa Rindu...kamu tak salah. Aku yang salah telah mencintaimu padahal aku hanya angin lalu."

"Maaf angin..." aku tahu dada Angin bergetar hebat mengucap itu.

"Aku cinta kamu Rindu", dengan gagah aku mengatakannya, membuang segala luka atas cinta yang mungkin tak pernah terbalas.

"Maaf angin..." matanya yang sendu menatapku.

"Aku cinta kamu rindu..." aku membalasnya dengan senyum yang menghangatkan hati Rindu yang merasa bersalah.

Aku cinta kamu, Rindu! meskipun aku hanya angin lalu yang harusnya menyampaikan rindumu pada siapapun yang kau anggap kekasih.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset