Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Rindu dan Angin


Aku masih ingat bagaimana Rindu menyapaku syahdu. 

"Kamu baik-baik saja kan angin?"


Aku tersenyum jengah sambil mengalihkan pandang, "iya.... aku baik-baik saja Rindu...".

"Kamu marah padaku, angin?" tanya Rindu lagi karena melihat aku memalingkan wajah.

"Tidak Rindu... mengapa aku harus marah?" aku memandang bulu mata Rindu yang lentik sambil tersenyum.

"Aku hanya...", aku mengalihkan pandang pada rerumputan.

"Hanya apa?" Rindu penasaran.

"Hanya..." aku memandang Rindu memastikan semuanya akan baik-baik saja bila aku mengatakan yang sesungguhnya.

"Hanya apa Angin?" Rindu makin penasaran. Sejenak kami beradu pandang, kemudian aku kembali menunduk.

"Aku mencintaimu Rindu..." bibirku bergetar mengucap kata keramat. Mata Rindu membelalak.

"Cinta katamu?" Mata Rindu memandangiku seakan ingin menguliti dusta di sana. Tapi percuma, sampai kapanpun Rindu tak akan menemukan dusta akan cintaku di sana. Rindu menyerah, aku menangis haru.

"Angin.... Bila kau mencintaiku, bagaimana aku menyampaikan rinduku pada kekasihku?" tanya Rindu polos.

"Aku... aku yang akan menyampaikannya... walau sakit... sakit rasanya. Tapi aku tahu rasanya jatuh cinta. Biarlah kusampaikan rindumu padanya asal kamu bahagia".

Mata Rindu memerah, satu persatu bulir air matanya menetes. "Maaf angin..."

Aku tersenyum penuh luka, "tidak mengapa Rindu...kamu tak salah. Aku yang salah telah mencintaimu padahal aku hanya angin lalu."

"Maaf angin..." aku tahu dada Angin bergetar hebat mengucap itu.

"Aku cinta kamu Rindu", dengan gagah aku mengatakannya, membuang segala luka atas cinta yang mungkin tak pernah terbalas.

"Maaf angin..." matanya yang sendu menatapku.

"Aku cinta kamu rindu..." aku membalasnya dengan senyum yang menghangatkan hati Rindu yang merasa bersalah.

Aku cinta kamu, Rindu! meskipun aku hanya angin lalu yang harusnya menyampaikan rindumu pada siapapun yang kau anggap kekasih.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak