Perempuan itu Bernama Kartini

Image
(repost pernah dimuat di jakartakita.com)

Hari ini (21/4/2019), 140 tahun lalu lahirlah seorang Kartini yang dianggap sebagai tokoh wanita pengusung emansipasi wanita. Begitu istimewanya Raden Ajeng Kartini, hingga hari lahirnya setiap tahun selalu diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Tak hanya sekedar dijadikan hari khusus setiap tanggal 21 April. Sejumlah seremonial simbolis pun menjadi bagian dari peringatan ini. Dari pawai keliling anak-anak yang berpakaian adat nasional, lomba kebaya, lomba memasak, dan lain-lainnya.
Seminar seputar peran serta perempuan di era modern yang katanya terinspirasi oleh perjuangan Kartini pun selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap peringatan. Kartini pun menjadi simbol dari sebuah pergerakan feminisme. Entah apakah mereka tahu apa sebenarnya arti feminisme. Apakah demikian yang dicita-citakan seorang Kartini?
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Lahir sebagai perempuan dari kalangan ningrat yang me…

Rindu dan Angin


Aku masih ingat bagaimana Rindu menyapaku syahdu. 

"Kamu baik-baik saja kan angin?"


Aku tersenyum jengah sambil mengalihkan pandang, "iya.... aku baik-baik saja Rindu...".

"Kamu marah padaku, angin?" tanya Rindu lagi karena melihat aku memalingkan wajah.

"Tidak Rindu... mengapa aku harus marah?" aku memandang bulu mata Rindu yang lentik sambil tersenyum.

"Aku hanya...", aku mengalihkan pandang pada rerumputan.

"Hanya apa?" Rindu penasaran.

"Hanya..." aku memandang Rindu memastikan semuanya akan baik-baik saja bila aku mengatakan yang sesungguhnya.

"Hanya apa Angin?" Rindu makin penasaran. Sejenak kami beradu pandang, kemudian aku kembali menunduk.

"Aku mencintaimu Rindu..." bibirku bergetar mengucap kata keramat. Mata Rindu membelalak.

"Cinta katamu?" Mata Rindu memandangiku seakan ingin menguliti dusta di sana. Tapi percuma, sampai kapanpun Rindu tak akan menemukan dusta akan cintaku di sana. Rindu menyerah, aku menangis haru.

"Angin.... Bila kau mencintaiku, bagaimana aku menyampaikan rinduku pada kekasihku?" tanya Rindu polos.

"Aku... aku yang akan menyampaikannya... walau sakit... sakit rasanya. Tapi aku tahu rasanya jatuh cinta. Biarlah kusampaikan rindumu padanya asal kamu bahagia".

Mata Rindu memerah, satu persatu bulir air matanya menetes. "Maaf angin..."

Aku tersenyum penuh luka, "tidak mengapa Rindu...kamu tak salah. Aku yang salah telah mencintaimu padahal aku hanya angin lalu."

"Maaf angin..." aku tahu dada Angin bergetar hebat mengucap itu.

"Aku cinta kamu Rindu", dengan gagah aku mengatakannya, membuang segala luka atas cinta yang mungkin tak pernah terbalas.

"Maaf angin..." matanya yang sendu menatapku.

"Aku cinta kamu rindu..." aku membalasnya dengan senyum yang menghangatkan hati Rindu yang merasa bersalah.

Aku cinta kamu, Rindu! meskipun aku hanya angin lalu yang harusnya menyampaikan rindumu pada siapapun yang kau anggap kekasih.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset