Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Menunggu Godot



En Attendant Godot merupakan sebuah naskah drama karya Samuel Beckett yang sudah beberapa kali dipentaskan. Naskah ini pertama kali dipentaskan di Paris pada tanggal 5 januari 1953. Naskah berbahasa Prancis itu kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa termasuk bahasa Indonesia "Menunggu Godot". 

Naskah fenomenal yang ditulis sebelum tahun 1950-an ini terdiri dari dua babak. Babak I dan babak II menunjukkan setting tempat dan waktu yang sama, yaitu di suatu jalan di desa pada suatu senja. Pada jalan itu terdapat sebuah pohon. 

Pada babak I, pohon itu tanpa daun, dan pada babak II sudah muncul beberapa helai daun. Tokoh yang terdapat dalam naskah ini hanya lima orang, yakni Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky, serta Boy. Namun dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh tersebut muncul nama Godot, ialah tokoh yang mereka nantikan. Godot tidak muncul dalam teks drama secara konvensional dalam artian hanya ada nama tokoh dan dialog tetapi hanya dalam ucapan tokoh tokoh yang membicarakannya. 

Justru sosok misterius Godot yang tak pernah muncul telah menjadikannya sebagai pusat perhatian dan dengan cara yang demikian itulah ia menunjukkan kekuasaannya dalam hal daya paksanya terhadap Vladimir dan Estragon untuk tetap menunggunya datang.

Seperti kata Samuel Beckett, kita ini barangkali dikutuk dan dihukum untuk jadi penunggu, seperti Vladimir dan Estragon yang menanti Godot di bawah pohon di tepi sebatang jalan. Mereka menunggu, menunggu dan menunggu tetapi Godot tak pernah datang. 

Semua orang pasti pernah menunggu. Menanti kepastian dengan harap-harap cemas sepertinya menjadi bagian dari episode hidup semua orang.

Dari hal sepele, menunggu bus di halte bus, menunggu teman di tempat janjian yang sudah disepakati tetapi hingga sejam setelah waktu janjian dia belum datang juga. Atau menanti kepastian kapan surat lamaran kerja kita akan direspon oleh perusahaan yang diincar. Atau bahkan menunggu jodoh yang tak kunjung tiba. 

Saat menunggu, level kesabaran kita pun diuji. Dan saya yakin Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kesabaran.

Ada hamba-Nya yang cuma diuji kesabarannya sekedar menunggu angkot, taksi, atau pesawat terbang. Ada yang diuji kesabarannya saat menanti tanggal gajian datang padahal beras sudah habis.

Ada juga yang diuji dengan seberapa sabar dia tabah menanti kekasih yang terpisah ribuan mil dalam jangka waktu tertentu.

Ada juga yang diuji dengan kesabaran menanti jodoh yang tak kunjung tiba. Padahal teman-teman sebaya satu persatu sudah melepas masa lajang dan beroleh anak-anak lucu. Penantian semakin diperparah dengan pertanyaan "kapan kawin?" 

Ada juga yang tak putus harap menunggu kehadiran buah hati meski sudah belasan atau puluhan tahun menikah. 

Tidak ada penantian yang benar-benar enak!

Apalagi menanti Godot yang tak pernah tahu kapan akan datang....

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya