Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Ketika Angin dan Rindu, Saling Merindu



Angin berdiri terpekur memandang rinai hujan. 

"Pergilah angin...tinggalkan aku sendiri!" ujar hujan pada angin.

"Tolonglah hujan beri aku satu kesempatan lagi!"

"Tidak angin, kesempatan itu tak pernah ada. Sudah kubilang aku menanti surya bukan kamu!"

"Apa yang kau nanti darinya?" Angin mulai kesal.

"Kehangatan yang memberi kehidupan", jawab hujan sekenanya.

"Arggh! Ini semua tak adil. Bahkan aku tak pernah bisa memiliki Rindu yang telah melabuhkan cinta pada kekasihnya. Dan kini hujan pun hendak menyeretku dari labirin kehidupan".

"Apa salahku? apa?" Angin kesal dia menangis sesenggukan menahan amarah.

Hujan mulai iba, "pergilah angin! Temui api! Siapa tahu dia mampu membakar nestapa".

"Hujan...jika aku pergi menemui api, siapa yang bisa memastikan rindu baik-baik saja tidak ada angin lalu yang membuatnya melupakan pedih?" Angin memelas.

"Waktu yang akan memastikan rindu baik-baik saja. Berapa lama rindu akan bertahan?" ujar Hujan. 

Sementara Angin patah arang, di belahan bumi sana, rindu sekuat tenaga menepis sepi. Rindu mulai kehilangan angin. Ternyata tanpa angin di sisinya, Rindu tersiksa.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak