Perempuan itu Bernama Kartini

Image
(repost pernah dimuat di jakartakita.com)

Hari ini (21/4/2019), 140 tahun lalu lahirlah seorang Kartini yang dianggap sebagai tokoh wanita pengusung emansipasi wanita. Begitu istimewanya Raden Ajeng Kartini, hingga hari lahirnya setiap tahun selalu diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Tak hanya sekedar dijadikan hari khusus setiap tanggal 21 April. Sejumlah seremonial simbolis pun menjadi bagian dari peringatan ini. Dari pawai keliling anak-anak yang berpakaian adat nasional, lomba kebaya, lomba memasak, dan lain-lainnya.
Seminar seputar peran serta perempuan di era modern yang katanya terinspirasi oleh perjuangan Kartini pun selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap peringatan. Kartini pun menjadi simbol dari sebuah pergerakan feminisme. Entah apakah mereka tahu apa sebenarnya arti feminisme. Apakah demikian yang dicita-citakan seorang Kartini?
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Lahir sebagai perempuan dari kalangan ningrat yang me…

Ketika Angin dan Rindu, Saling Merindu



Angin berdiri terpekur memandang rinai hujan. 

"Pergilah angin...tinggalkan aku sendiri!" ujar hujan pada angin.

"Tolonglah hujan beri aku satu kesempatan lagi!"

"Tidak angin, kesempatan itu tak pernah ada. Sudah kubilang aku menanti surya bukan kamu!"

"Apa yang kau nanti darinya?" Angin mulai kesal.

"Kehangatan yang memberi kehidupan", jawab hujan sekenanya.

"Arggh! Ini semua tak adil. Bahkan aku tak pernah bisa memiliki Rindu yang telah melabuhkan cinta pada kekasihnya. Dan kini hujan pun hendak menyeretku dari labirin kehidupan".

"Apa salahku? apa?" Angin kesal dia menangis sesenggukan menahan amarah.

Hujan mulai iba, "pergilah angin! Temui api! Siapa tahu dia mampu membakar nestapa".

"Hujan...jika aku pergi menemui api, siapa yang bisa memastikan rindu baik-baik saja tidak ada angin lalu yang membuatnya melupakan pedih?" Angin memelas.

"Waktu yang akan memastikan rindu baik-baik saja. Berapa lama rindu akan bertahan?" ujar Hujan. 

Sementara Angin patah arang, di belahan bumi sana, rindu sekuat tenaga menepis sepi. Rindu mulai kehilangan angin. Ternyata tanpa angin di sisinya, Rindu tersiksa.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset