Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Hujan, Angin dan Rindu


Hujan mengibaskan badannya yang kuyup. Hujan mulai menggigil kedinginan, giginya bergemeratak. Wajahnya pucat pasi.

"Kau baik-baik saja?" Angin cemas.


"Tidak terlalu baik, Angin", wajah hujan memelas.

"Bisa kubantu?"

"Terima kasih, Angin. Aku hanya perlu sedikit hangat." Hujan tersenyum menghangatkan. Namun, hujan menggigit bibirnya perlahan.

"Kamu yakin? Kau tak butuh bantuanku?" Angin tak percaya.

"Iya... lagipula aku tak yakin apakah bantuanmu tidak malah membuatku hanyut dalam nestapa yang tak berkesudahan."

"Nestapa?"

"Iya Angin, layaknya angin lalu, tiupannya malah membuat hujan semakin terasa dingin."

"Oh baiklah", angin pilu merasa tertolak untuk kesekian kalinya.

"Yah aku hanya angin lalu yang tak dianggap ada oleh siapapun. Bahkan oleh rindu yang menghujam ulu hati sekalipun." Angin terdengar sedih.

"Ada apa dengan Rindu?" tanya hujan.

"Rindu bukan milikku... dan tak akan pernah jadi milikku. Rindu yang membara hanya milik kekasih Rindu."

Hujan memandang penuh empati pada angin lalu yang sedang sedih. "Mengapa kau bilang tak mungkin?"

"Karena Rindu sudah lebih lama makan asam garam kehidupan. Sedang aku hanyalah bocah ingusan yang baru merasakan cinta...", Angin menatap hampa.

"Lalu?"

"Biar saja aku jadi angin lalu yang selalu ada untuk Rindu...", ujar Angin pada Hujan.

"Ah kamu gila Angin. Aku bingung!"

"Hujan, sejak kapan orang yang sedang jatuh cinta bisa normal seratus persen?" timpal Angin.

"Lalu apa maksud perhatianmu padaku Angin?" tanya Hujan.

"Hujan, itu semua tulus untukmu..." jawab Angin.

"Lalu?"

"Biar kubantu kau menghapus basahnya air matamu", Angin tersenyum menatap Hujan yang bimbang.

"Biar kubantu mengeringkan segala luka di masa lalu. Biar kubantu membawamu ke bagian lain di bumi ini..." lanjut Angin.

"Lalu Rindu?" tanya Hujan.

"Rindu sudah punya kekasih.... baginya aku hanya angin lalu meski aku punya cinta..." ujar Angin terdengar pahit.

"Maaf Angin.... aku tak bisa... Aku sedang menanti Surya bukan kamu. Aku membutuhkan hangat sang Surya, bukan kamu..." Hujan tak enak hati.

"Karena aku hanya angin lalu yang tak pernah dianggap orang!" Angin marah.

"Bukan begitu Angin", hujan menenangkan.

"Sudahlah hujan! Aku lelah!"

"Aku sudah lelah menjadi angin lalu." Angin menangis sesenggukan. Tekad Hujan sudah bulat, dia menolak Angin.

Angin melesat pergi meninggalkan hujan, sambil membawa luka tak berperi.

P.S: Angin aku cemburu pada hujan....(Rindu)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya