Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Hujan, Angin dan Rindu


Hujan mengibaskan badannya yang kuyup. Hujan mulai menggigil kedinginan, giginya bergemeratak. Wajahnya pucat pasi.

"Kau baik-baik saja?" Angin cemas.


"Tidak terlalu baik, Angin", wajah hujan memelas.

"Bisa kubantu?"

"Terima kasih, Angin. Aku hanya perlu sedikit hangat." Hujan tersenyum menghangatkan. Namun, hujan menggigit bibirnya perlahan.

"Kamu yakin? Kau tak butuh bantuanku?" Angin tak percaya.

"Iya... lagipula aku tak yakin apakah bantuanmu tidak malah membuatku hanyut dalam nestapa yang tak berkesudahan."

"Nestapa?"

"Iya Angin, layaknya angin lalu, tiupannya malah membuat hujan semakin terasa dingin."

"Oh baiklah", angin pilu merasa tertolak untuk kesekian kalinya.

"Yah aku hanya angin lalu yang tak dianggap ada oleh siapapun. Bahkan oleh rindu yang menghujam ulu hati sekalipun." Angin terdengar sedih.

"Ada apa dengan Rindu?" tanya hujan.

"Rindu bukan milikku... dan tak akan pernah jadi milikku. Rindu yang membara hanya milik kekasih Rindu."

Hujan memandang penuh empati pada angin lalu yang sedang sedih. "Mengapa kau bilang tak mungkin?"

"Karena Rindu sudah lebih lama makan asam garam kehidupan. Sedang aku hanyalah bocah ingusan yang baru merasakan cinta...", Angin menatap hampa.

"Lalu?"

"Biar saja aku jadi angin lalu yang selalu ada untuk Rindu...", ujar Angin pada Hujan.

"Ah kamu gila Angin. Aku bingung!"

"Hujan, sejak kapan orang yang sedang jatuh cinta bisa normal seratus persen?" timpal Angin.

"Lalu apa maksud perhatianmu padaku Angin?" tanya Hujan.

"Hujan, itu semua tulus untukmu..." jawab Angin.

"Lalu?"

"Biar kubantu kau menghapus basahnya air matamu", Angin tersenyum menatap Hujan yang bimbang.

"Biar kubantu mengeringkan segala luka di masa lalu. Biar kubantu membawamu ke bagian lain di bumi ini..." lanjut Angin.

"Lalu Rindu?" tanya Hujan.

"Rindu sudah punya kekasih.... baginya aku hanya angin lalu meski aku punya cinta..." ujar Angin terdengar pahit.

"Maaf Angin.... aku tak bisa... Aku sedang menanti Surya bukan kamu. Aku membutuhkan hangat sang Surya, bukan kamu..." Hujan tak enak hati.

"Karena aku hanya angin lalu yang tak pernah dianggap orang!" Angin marah.

"Bukan begitu Angin", hujan menenangkan.

"Sudahlah hujan! Aku lelah!"

"Aku sudah lelah menjadi angin lalu." Angin menangis sesenggukan. Tekad Hujan sudah bulat, dia menolak Angin.

Angin melesat pergi meninggalkan hujan, sambil membawa luka tak berperi.

P.S: Angin aku cemburu pada hujan....(Rindu)

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset