Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Hujan, Angin dan Rindu


Hujan mengibaskan badannya yang kuyup. Hujan mulai menggigil kedinginan, giginya bergemeratak. Wajahnya pucat pasi.

"Kau baik-baik saja?" Angin cemas.


"Tidak terlalu baik, Angin", wajah hujan memelas.

"Bisa kubantu?"

"Terima kasih, Angin. Aku hanya perlu sedikit hangat." Hujan tersenyum menghangatkan. Namun, hujan menggigit bibirnya perlahan.

"Kamu yakin? Kau tak butuh bantuanku?" Angin tak percaya.

"Iya... lagipula aku tak yakin apakah bantuanmu tidak malah membuatku hanyut dalam nestapa yang tak berkesudahan."

"Nestapa?"

"Iya Angin, layaknya angin lalu, tiupannya malah membuat hujan semakin terasa dingin."

"Oh baiklah", angin pilu merasa tertolak untuk kesekian kalinya.

"Yah aku hanya angin lalu yang tak dianggap ada oleh siapapun. Bahkan oleh rindu yang menghujam ulu hati sekalipun." Angin terdengar sedih.

"Ada apa dengan Rindu?" tanya hujan.

"Rindu bukan milikku... dan tak akan pernah jadi milikku. Rindu yang membara hanya milik kekasih Rindu."

Hujan memandang penuh empati pada angin lalu yang sedang sedih. "Mengapa kau bilang tak mungkin?"

"Karena Rindu sudah lebih lama makan asam garam kehidupan. Sedang aku hanyalah bocah ingusan yang baru merasakan cinta...", Angin menatap hampa.

"Lalu?"

"Biar saja aku jadi angin lalu yang selalu ada untuk Rindu...", ujar Angin pada Hujan.

"Ah kamu gila Angin. Aku bingung!"

"Hujan, sejak kapan orang yang sedang jatuh cinta bisa normal seratus persen?" timpal Angin.

"Lalu apa maksud perhatianmu padaku Angin?" tanya Hujan.

"Hujan, itu semua tulus untukmu..." jawab Angin.

"Lalu?"

"Biar kubantu kau menghapus basahnya air matamu", Angin tersenyum menatap Hujan yang bimbang.

"Biar kubantu mengeringkan segala luka di masa lalu. Biar kubantu membawamu ke bagian lain di bumi ini..." lanjut Angin.

"Lalu Rindu?" tanya Hujan.

"Rindu sudah punya kekasih.... baginya aku hanya angin lalu meski aku punya cinta..." ujar Angin terdengar pahit.

"Maaf Angin.... aku tak bisa... Aku sedang menanti Surya bukan kamu. Aku membutuhkan hangat sang Surya, bukan kamu..." Hujan tak enak hati.

"Karena aku hanya angin lalu yang tak pernah dianggap orang!" Angin marah.

"Bukan begitu Angin", hujan menenangkan.

"Sudahlah hujan! Aku lelah!"

"Aku sudah lelah menjadi angin lalu." Angin menangis sesenggukan. Tekad Hujan sudah bulat, dia menolak Angin.

Angin melesat pergi meninggalkan hujan, sambil membawa luka tak berperi.

P.S: Angin aku cemburu pada hujan....(Rindu)

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak