Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Flashback: Yang Tersisa dari Sukabakti Menghafal

Catatan harian bertanggal 1 Juli 2018:

Hampir sebulan lebih tidak menulis, maaf kalau ada yang menunggu kabar berita dari saya. Isss GR!
Walau rasanya agak telat, tapi masih bulan Syawal jadi masih boleh lebaranan. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengucapkan mohon maaf lahir batin atas segala khilaf baik disengaja maupun tidak. Taqoballahu minna wa minkum, semoga selepas Ramadhan, kita semua jadi pribadi yang lebih baik lagi.
Ramadhan kemarin adalah Ramadhan terindah sepajang hidup saya selama ini yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya berharap masih ada Ramadhan yang lebih indah di tahun-tahun berikutnya.
Mungkin awal-awal Ramadhan adalah hal yang paling berat untuk saya dan tim Rumah Quran Ar Rahman, terutama partner saya @Lisda dan keluarga besar engkong Ali.

Bagaimana tidak? Sebelum adzan Subuh, mereka sudah harus merapihkan basecamp agar tepat jam 5 pagi, sudah bisa dipakai mengaji para santri. Kerepotan semakin bertambah ketika kelas usai selepas buka puasa bersama. Yang paling capek, sewaktu beberapa hari hujan sangat besar hingga ‘menenggelamkan’ kelas kami. Karpet kami basah kuyup, sehingga kami para kru harus buru-buru mengangkut karpet di rumah untuk mengaji. Dan yah teh Lisda Diana dan engkong Ali yang mencuci dan menjemur manual.
Butuh setidaknya 10 karpet ukuran besar untuk menampung para santri. Dan Qadarallah, suatu hari bahkan kesepuluh karpet plus karpet cadangan juga basah. Kami para kru tidak punya karpet lagi di rumah, sampai saya harus mengontak salah seorang teman yang kebetulan sudah sounding mau nyumbang karpet untuk dipercepat. Namun kebetulan saat itu dia belum sempat beli karpet baru, karena mendesak, sore harus sudah bisa dipakai. Dia menyumbangkan karpet peninggalan orang tuanya untuk kami. Alhamdulillah, semoga jadi amal jariyah untuk orang tuanya yang sudah meninggal.

Setiap hari, memulai aktifitas super padat dari Subuh hingga malam. Plus dalam keadaan puasa tetapi kurang memperhatikan asupan gizi, karena saking sibuknya, membuat saya dan asisten, tumbang satu persatu. Dalam setiap sesi idealnya, saya dibantu paling tidak 5 asisten. Tapi adakalanya kami cuma bertiga saja. Saya berdoa agar saya diberi kesehatan untuk menyelesaikan program.
Minggu kedua Ramadhan, saya mulai sakit-sakitan. Tenggorokan sakit, karena teteriakan plus dihajar es sewaktu berbuka. Cuap-cuap sepanjang sesi, terkadang di cuaca yang terik membuat saya sudah kehausan luar biasa sebelum bedug maghrib. Biasanya saya dan pak sobari, bagi tugas. Biar sama-sama haus.
Lima hari menjelang program menghafal berakhir, saya benar-benar kehilangan suara, tenggorokan sakit, demam, plus mag kambuh karena tidak sempat makan yang benar saat buka dan sahur. Tapi
Alhamdulillah...setiap giliran ngajar selalu bugar. Kelar ngajar, demamnya kambuh dan bahkan muntah-muntah karena mag.
Bagaimana saya masih bisa bugar saat mengajar walau sedang tidak fit? Ini semua karena ridha Allah, para kru dan santri. Saya tahu persis bagaimana para kru sudah berkorban waktu, tenaga dan bahkan uang demi program itu. Kekuatan lain muncul setelah melihat sendiri pengorbanan para santri. Banyak santri yang mesti menempuh jarak sangat jauh setiap hari demi masuk kelas Subuh. Santri dari Cisauk malah mesti menumpang sahur di kampung kami.

Dan yang paling mengharukan adalah Yulia Febriyanti. Sewaktu ikut program ini, dia sedang hamil tua. Saban subuh, ibu luar biasa ini memboyong 3 anak naik motor menuju Rumah Quran. Saya yang melihat tiap hari, ngilu. Takut si ibu lahiran di jalan. Apalagi perjalanan dari rumahnya ke rumah quran cukup jauh. Saya sendiri tidak yakin akan sesemangat itu kalau rumahnya sejauh itu. Masya Allah pahalanya!
Tekad si ibu cuma satu, dia ingin si jabang bayi yang dikandungnya juga anak-anaknya jadi penghafal Quran kelak. Dan benar saja dugaan saya, saat program berakhir si Ibu melahirkan. Si ibu tidak sempat ikut ujian tahfiz. Tetapi kegigihan sang bunda menghafal Quran menjadi inspirasi kami. Dia mendapatkan hadiah sebagai santri tergigih.
Pada ayat terakhir yang saya sampaikan pada program itu, saya mendadak terharu. Mata memerah dengan bulir bening . Suara saya bergetar, bahkan saya harus menghela nafas beberapa kali untuk menahan tangis yang ingin meledak. Baru di rumah saya puaskan untuk menangis.
Alhamdulillah ada 12 santri terbaik dari 4 kategori yang kami beri hadiah. Ada titipan jam swatch dari Unilever yang kami berikan juga uang dan bingkisan.
Alhamdulillah Allah mempercayakan kami untuk menjadi perpanjangan tangan dari para donatur yang hendak beramal jariyah. Kami para pengurus Rumah Quran Ar Rahman menangis haru, tak percaya. Dari hasil patungan kami para pengurus yang Cuma belasan juta, yang awalnya diprediksi hanya cukup membiayai program ala kadarnya plus jatah buka puasa 200-300 ribu perhari. Bisa sesempurna itu.
Dari uang donasi, kami bisa menyiapkan santunan ke yatim dan dhuafa untuk 50 orang dengan total nilai belasan juta. Belum termasuk THR untuk para guru ngaji di sekitar kita (di luar RQ Ar Rahman). Jatah buka puasa saja bahkan pernah sampai 2 juta per hari, yang cukup untuk memberi makan besar dan takjil untuk ratusan orang termasuk santri kami.
Belum lagi untuk bingkisan buat para preman yang ikut mengaji sepanjang program. Kami tak berharap hidayah bisa secepat itu sih. Tetapi saya lihat ada preman yang ikut kelas perdana, sekarang lebih memilih sibuk narik ojek online. Alhamdulillah!
Terima kasih ya semua!
Masya Allah Tabarakallahu

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset