Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Ulang tahun


Catatan harian bertanggal 21 Maret 2018:

Terlepas dari konsep tasyabuh, saya memang tidak membiasakan diri untuk menganggap hari ulang tahun sebagai hal yang luar biasa selain sebagai pengingat kematian. Malam kelahiran biasanya saya gunakan untuk merenung dan kontemplasi. Bahkan terkadang saya hendak mengabaikan hari lahir.
Tetapi ada yang istimewa di ulang tahun saya tanggal 19 Maret lalu.
19 Maret pagi seperti biasa saya memulai hari dengan mengajar. Pagi yang lenggang kelas yang biasa ramai pun lengang. Di akhir kelas ada satu santri yang menyelamati saya. Saya heran bagaimana bisa tahu, padahal seingat saya, saya sudah menyembunyikannya mati-matian.
Kelas jam 15.30 penuh, dan asisten saya tidak datang! Padahal setengah jam sebelumnya saya sudah mengabari agar datang menemani saya. Dan hari itu ada 2 santri berkebutuhan khusus yang ikut serta. Bisa dibayangkan bagaimana lelah hayati dan mental bercampur jadi satu. Dan saya setelah hafalan, saya sendirian mensupervisi bacaan Iqra hampir 20 anak. Kelas hampir chaos dan tak ada yang membantu. Hampir nangis karena kesal dan lelah.
Jam 17.00 saya sudah siap untuk kelas selanjutnya walau saya sebetulnya sudah kehabisan tenaga dan mau 'ngomel' dengan asisten guru yang bertugas hari itu. Biarpun cuma TPA gratisan kita memang mengadopsi cara belajar montessory. Jadi harus ada guru bantu.
Kelas baru akan dimulai dengan hanya 3 santri yang datang. Tetiba dari arah kiri ada rombongan santri ibu-ibu dan anak-anak berpakaian rapi seperti hendak kondangan dengan membawa tumpeng, kue tart, kado-kado seperti seserahan orang kawinan. Lengkap dengan ondel-ondel dan musik Betawi.
Syok!

Saya sampai sulit berkata-kata. Seumur-umur belum pernah ulang tahun dirayakan seheboh itu bak pesta rakyat. Yang lebih terharu adalah ada anak-anak yang tidak jajan berhari-hari demi untuk memberikan sebuah kado sederhana untuk saya.
Ya Allah! Kadonya sudah seperti kado nikahan. Banyak! Alhamdulillah.
"Kenapa kalian melakukan ini semua? Ya Allah uangnya dari mana?"
Mau tahu apa jawaban dari mereka?
"Ini semua tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang ibu lakukan."
Saya menangis haru. Padahal kalau mereka tahu, justru mereka yang dikirim Allah untuk menemani saya di masa-masa sulit dan menjadikan saya seperti ini.
Masya Allah Tabarakallahu.
Alhamdulillah... Terima kasih sudah menjadi bagian dari episode terindah dalam hidup saya.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya