Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Ubeth Si Santri Kucing


Catatan harian bertanggal 30 Maret 2017:

Ubeth, kucing grey tabby itu selalu menyapa saya ketika saya menyambangi rumah keluarga engkong Ali yang sudah resmi jadi basecamp mengaji kami hampir sebulanan ini. Biasanya dia sudah duduk di teras menanti saya. 

"Assalamualaikum Ubeth!"

Dan Ubeth pun menjawab "meong". 

"Apakabar Ubeth?"

Lagi-lagi dia mengeong kegirangan. 

Setelah itu Ubeth dengan sabar menanti saya membenahi meja-meja untuk mengaji sebelum bocah-bocah datang. Mata Ubeth yang hijau kecoklatan mengamati saya sambil sesekali mengeong.

"Tenang saja Ubeth, saya bisa mengangkatnya...", Tukje pun diam.

Sebelum kelar membenahi meja biasanya bocah-bocah sudah berdatangan. Bocah-bocah mulai mengaji, Ubeth duduk di meja paling depan seperti ikut menunggu giliran mengaji.

Ketika saya mengajarkan satu demi satu ayat hafalan Quran. Ubeth duduk diam sambil mengamati saya. Hikmat sekali.

Bila bocah-bocah mulai berisik, Tukje akan mendesis kesal. Biasanya dia akan berputar-putar seakan ingin memberi tahu para bocah untuk berhenti gaduh.

Tak sehari pun, Ubeth absen menemani saya dan para bocah mengaji. Terkadang Ubeth mengajak temannya sesama kucing. Namun hanya Ubeth yang duduk tenang dan mengamati dengan hikmat.

Sore ini Ubeth datang telat. Dia tidak menyapa saya saat saya tiba di basecamp. Ubeth datang tergopoh-gopoh dan langsung duduk di depan. Para bocah sudah pulang, tinggal ibu-ibu yang ingin belajar mengaji. 

Saya pun menyuruh salah satu santri memotret Ubeth yang tekun belajar mengaji. Beginilah ekspresi Ubeth. 

Jangan-jangan Ubeth ini pangeran tampan nan soleh yang dikutuk jadi kucing. Ubeth baru akan kembali jadi manusia kalau ada gadis solehah yang mencium Ubeth  dengan penuh kasih. 

Ada yang mau coba?

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya