Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Flashback: Ubeth Si Santri Kucing


Catatan harian bertanggal 30 Maret 2017:

Ubeth, kucing grey tabby itu selalu menyapa saya ketika saya menyambangi rumah keluarga engkong Ali yang sudah resmi jadi basecamp mengaji kami hampir sebulanan ini. Biasanya dia sudah duduk di teras menanti saya. 

"Assalamualaikum Ubeth!"

Dan Ubeth pun menjawab "meong". 

"Apakabar Ubeth?"

Lagi-lagi dia mengeong kegirangan. 

Setelah itu Ubeth dengan sabar menanti saya membenahi meja-meja untuk mengaji sebelum bocah-bocah datang. Mata Ubeth yang hijau kecoklatan mengamati saya sambil sesekali mengeong.

"Tenang saja Ubeth, saya bisa mengangkatnya...", Tukje pun diam.

Sebelum kelar membenahi meja biasanya bocah-bocah sudah berdatangan. Bocah-bocah mulai mengaji, Ubeth duduk di meja paling depan seperti ikut menunggu giliran mengaji.

Ketika saya mengajarkan satu demi satu ayat hafalan Quran. Ubeth duduk diam sambil mengamati saya. Hikmat sekali.

Bila bocah-bocah mulai berisik, Tukje akan mendesis kesal. Biasanya dia akan berputar-putar seakan ingin memberi tahu para bocah untuk berhenti gaduh.

Tak sehari pun, Ubeth absen menemani saya dan para bocah mengaji. Terkadang Ubeth mengajak temannya sesama kucing. Namun hanya Ubeth yang duduk tenang dan mengamati dengan hikmat.

Sore ini Ubeth datang telat. Dia tidak menyapa saya saat saya tiba di basecamp. Ubeth datang tergopoh-gopoh dan langsung duduk di depan. Para bocah sudah pulang, tinggal ibu-ibu yang ingin belajar mengaji. 

Saya pun menyuruh salah satu santri memotret Ubeth yang tekun belajar mengaji. Beginilah ekspresi Ubeth. 

Jangan-jangan Ubeth ini pangeran tampan nan soleh yang dikutuk jadi kucing. Ubeth baru akan kembali jadi manusia kalau ada gadis solehah yang mencium Ubeth  dengan penuh kasih. 

Ada yang mau coba?

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset