Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Tentang Mr. X

ilustrasi

Catatan harian tertanggal 26 Februari 2017:

Beberapa hari ini hati saya dihinggapi kegalauan luar biasa. Bukan karena persoalan pribadi tetapi karena keisengan saya yang kini 'beyond expectation'.

Alkisah setelah hampir setahun belakangan ini saya membuka kelas mengaji plus-plus gratis di rumah. Saya dihadapkan pada keputusan sulit. Mau tidak mau saya harus pindahkan ruang belajar. Karena lantai bawah rumah saya yang mungil sudah tidak bisa menampung jumlah murid yang banyak.

Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah saya takut tetangga-tetangga di komplek saya yang kecil merasa terganggu karena anak-anak yang hilir mudik dari siang hingga malam hari. Pertanyaannya kemana saya harus pindah?

Sebenarnya beberapa minggu sebelum kami menggelar pentas sekaligus wisuda hafalan surah Ar Rahman, sudah ada beberapa yang mendekati saya untuk ikut memfasilitasi rumah belajar gratis ini. Salah satunya adalah salah seorang warga paling tajir di 'kampung' kami.

Sebut saja namanya Mr X. Mr X yang tinggal tak jauh dari rumah saya ini punya rumah seperti istana. Rumah utama dikelilingi oleh dua pavilion, mushola yang mirip masjid, dua kolam renang, satu danau buatan, track perbukitan untuk jogging, taman bermain, dan deretan mobil-mobil mahal di garasinya. Belum lagi, puluhan pegawai dan sekuriti yang tugasnya mengurus rumah.

Singkat cerita setelah mendengar sepak terjang saya dan anak-anak, Mr X yang dermawan menawarkan salah satu pavilionnya yang paling bagus untuk saya gunakan untuk belajar mengaji bersama anak-anak. Mr X juga akan membayari sejumlah asisten hafiz quran untuk membantu saya mengajar hampir 40 anak, termasuk semua fasilitas alat belajar mengajar, bahkan untuk kegiatan outing. 

Alternatif lain adalah sebuah rumah wakaf milik warga yang terbengkalai. Sedianya beberapa tahun lalu rumah itu sempat menjadi madrasah namun kemudian 'mati suri' hingga beberapa ahli waris 'nakal' berniat menjualnya. Namun masih banyak warga yang mempertahankannya dan terus berharap suatu hari ada yang menghidupkan rumah itu. 

Hari ini pun akhirnya saya memutuskan untuk melihat kedua tempat itu bersama suami dan anak-anak. 

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah rumah tua di dekat pemakaman warga. Rumah tanpa sekat kamar dengan ukuran 150meter persegi itu tampak suram. Dindingnya berlumut, pintunya 'somplak', atap yang mulai roboh, kamar mandi tanpa atap, dan tampak mengerikan. Butuh dana tak kurang 100juta untuk membuatnya layak huni, termasuk akses jalan setapak menuju lokasi lewat pemakaman. Dan tentu saja butuh waktu hingga pembangunan kelar.

Lokasi kedua yang kami kunjungi adalah pavilion Mr X yang sudah dibersihkan untuk menyambut kedatangan kami. Sungguh pavilion yang cantik dengan luas 200meter persegi yang dinding terbuat dari kayu jati asli, lantainya pun kayu. Pavilion itu terdiri dari teras, ruang utama yg luas, dan ruang belakang terdiri dari mini kitchen, kamar mandi/toilet, jacuzzi. 

Secara kasat mata, tawaran Mr X tampak menggiurkan. Namun sekali lagi saya tidak tahu apakah status 'numpang' itu bisa jadi fitnah di masa datang. Soal independensi sebenarnya rumah wakaf itu lebih baik. Hanya saja PR sekali untuk memulai semuanya dari NOL, mengubah 'rumah hantu' jadi rumah yang nyaman untuk belajar, meskipun konon dananya sudah siap.

Sebenarnya saya tidak mau pindah. Tetapi saya harus, agar kami punya ruang yang cukup luas untuk semua. Dan dengan beberapa guru tambahan sepertinya bukan ide yang buruk. Jadi saya bisa fokus di satu bidang saja. 

Azan maghrib berkumandang, kami pun beringsut pulang. Dalam hati saya berkecamuk beragam pertanyaan di antara dua pilihan sulit. Dan saya harus segera memutuskan, karena sudah seminggu kelas diliburkan. Dan saya masih punya satu minggu lagi untuk memastikan ini kelasnya mau ditaruh dimana.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya