Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Tentang Angin


Catatan harian bertanggal 3 September 2017:

Dua hari selepas pementasan, saya masih dirundung galau. Kegalauan yang membuat saya jadi semangat untuk menulis novel lagi.
Sungguh dua hari lalu adalah puncak keharuan yang saya lupa kapan terakhir kali saya pernah sedemikan haru hingga menangis meraung-raung seperti anak kecil. Kejadian dua hari lalu benar-benar luar biasa, bagaimana mungkin semuanya menangis hanyut dalam keharuan, anak-anak, laki perempuan, tua dan muda.
Anak-anak lelaki yang biasanya acuh dan konyol, tak canggung lagi ikut berlinang air mata. Padahal beberapa dari mereka berbadan bongsor yang tingginya hampir dua kali dari tinggi saya, meski usianya jauh dari 17 tahun.
Kalau anak perempuan tidak sungkan-sungkan menubruk dan memeluk saya. Maka anak lelaki canggung dan memilih untuk berdiri di posisinya sambil terus mengusap air mata dengan bahu yang bergoyang-goyang karena sesenggukan.
Kami tidak peduli dengan riasan wajah yang porak-poranda oleh banjir air mata dan ingus. Bahkan hingga panggung usai ada beberapa anak yang nangisnya tidak kelar-kelar, anak laki dan perempuan.
Terdengar celetuk salah satu emak pada anaknya, "Ya elah Tong! Mangkanya kalo disuruh ngaji yang rajin. Giliran bu guru mau pergi baru dah mewek. Dah diem....". Wajah emak pun basah oleh air mata.
Saya menghampiri anak-anak lelaki. Saya tepuk punggungnya pelan sambil berkata, "udah ah malu, laki-laki harus tegar".
Saya melihat salah satu anak lelaki yang paling cengeng. Dia pemeran utama yang tempo hari saya daulat untuk diwawancara wartawan. Lelaki yang belum genap 15 tahun dan bertubuh bongsor itu saya lihat paling dahulu meninggalkan panggung karena dia yang paling payah menahan banjir air mata. Dan dia masih sesenggukan di pojok ruang rias. Saya dekati dia. Dia seperti ingin memeluk saya. Saya pun hampir memeluknya, namun saya sadar. Buru-buru saya tepis. "Haduh bang, bajunya basah banget.... bau banget deh".
Bajunya basah kuyup
oleh keringat karena bermain laga plus untuk melap air mata dan ingus. Pipinya bersemu merah karena malu. Dia pun beringsut sambil tersenyum. Tangisnya terhenti.

"Saya pulang dulu ya mau ganti baju!" ujarnya sambil terburu-buru pergi.
Kelar dengannya ada Umay yang masih sesenggukan. Saya peluk gadis sepuluh tahun itu, "Mommy masih di sini, tidak pergi kemana-mana". Welahdalah! Bocah wedok ini malah makin memperkeras tangisnya sambil mempererat pelukan.
Joni, santri bertampang preman yang tempo hari saya ceritakan pun banjir air mata.
Ah, sebegitu istimewakah saya hingga mereka mesti menangis sedemikian. Saya bilang kepada mereka, "tidak ada yang abadi di dunia ini. Cintai saya karena Allah, biar Allah yang menjaga cinta kita untuk lebih mencintai Allah".
Insya Allah, mau menulis episode hidup yang ini dalam sebuah novel berjudul "Angin". Semoga bisa membagi waktu dengan seabreg kegiatan lainnya.
Kata orang mimpi yang diucapkan dan divisualisasikan lebih mudah terealisasi karena tanpa sadar kata-kata itu akan mensugesti diri supaya mencapai mimpinya. Insya Allah di novel ini saya akan menggandeng santri yang ternyata punya bakat terpendam dalam menulis.
Ah Manusia cuma bisa berencana, akhirnya Tuhan juga yang memilihkan rencana yang terbaik untuk kita. Tidak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah. Jadinya ya, di balik ujian saya tempo hari, Allah sudah menyiapkan pelipur. Alhamdulillah!
Masya Allah Tabarakallahu!

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya