Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Tempat Sampah untuk Abi

Catatan harian bertanggal 9 Juli 2018:

Di hari kedua menjelang sore, saya dan Lisda kembali berkeliaran. Tujuan kami kala itu adalah untuk membeli kebutuhan pesantren.
Kompor gas pesantren sudah tidak berfungsi dengan baik, tentu saja itu memperlambat proses memasak. Dan sepertinya pesantren juga butuh rice cooker baru yang cukup besar tapi kalau bisa pancinya tidak terbuat dari Teflon, jadi meski dicuci dengan serampangan tidak akan 
membahayakan karena lapisan teflon ngelotok.

Akhirnya pilihan kami untuk kompor gas jatuh pada merek Rinai, sedangkan rice cooker merek Sanken.
Santri di pesantren biasa minum pakai gelas aqua bekas diminum bergantian. Airnya pakai air dispenser berisi air kangen water. Kata Abi, mesin kangen water adalah donasi dari pimpinan Bank Mandiri Bogor. Abi juga masih aktif memberikan taushiyah kepada karyawan Bank Mandiri Bogor.
Makanya Lisda mengusulkan agar kita juga membeli gelas dan mangkok plastikyang bagus, walau tidak semahal Tupperware.
Kami juga membeli teko untuk memasak air, karena kami pikir mungkin kendala mengapa tidak ada teh manis adalah karena tidak ada teko-nya. Mereka kalau memasak air pakai panci biasa, jadi agak ribet menuangnya.
Sempat berdebat dengan Lisda soal warna teko. Saya yang suka biru, minta warna biru. Dan ternyata tidak ada. Sampai Lisda bilang, “Lah kan tekonya buat pesantren, gak harus biru kan?” Saya pun ngikik.
Akhirnya pilihan jatuh kewarna ungu, warna favorit Rafika Afriani, salah satu sahabat kami yang sempat ngambek dan kebetulan tak bisa ikut. “Ini untuk mengenang dia…” Saya sambil cekikikan.

Tak dapat teko warna biru, tapi saya memilih gelas/mangkok, dan pisau warna biru muda.
Kelar berbelanja, sudah hampir maghrib. Kami hampir pulang, kalau saya tidak tiba-tiba ingin hunting tempat sampah besar untuk pesantren. Keluar masuk peralatan rumah tangga di Pasar Bogor tidak menemukan tempat sampah yang saya inginkan. Sampai Lisda bilang, “sudahlah…gak usah beli… udah maghrib nih…”
“Tapi saya mau…” saya pun ngotot, dan akhirnya pada toko kelima kami menemukan tempat sampah bertutup yang bahkan cukup besar untuk dihuni saya dan Lisda di dalamnya. Saya langsung beli 4.
Dan kami pun pulang, sambil menyeret barang belanjaan yang besarnya dua kali lipat besar badan kami.
Pesan grab car, mobil datang, kami kesulitan memasukan tempat sampah raksasa itu. Hahahah Tapi akhirnya bisa masuk. Saya berdoa agar supir Grab tidak nge-dumel setelah kejadian sempat diomelin pemakai jalan yang lain karena kami berhenti lama di pinggir jalan yang macet saat loading barang. Dan tujuan kami adalah Ciomas ujung, sepi seperti tempat ‘jin buang anak’ yang hanya cukup 1 mobil kecil, jalanan jelek.
Alhamdulillah abangnya baik, makanya tarif 28 ribu saya paksa Lisda bayar 60 ribu. Sudah capek, dapat abang supir yang tak mengeluh itu adalah nikmat.
Sampai di pesantren kami langsung mandi agar tidak ketinggalan shalat maghrib berjamaah. Walau akhirnya ketinggalan juga.

Selepas Isya kami jumpa dengan Abi, karena itu malam terakhir kami di sana. Abi bilang, “terima kasih banyak untuk semuanya. Abi maunya kalian lamaan dikit…”
Kata Abi, beliau senang banget dikasih tempat sampah. Doanya dijawab Allah, karena beberapa bulan belakangan Abi pengen tempat sampah besar, tapi belum sempat beli. Kalau punya uang lebih baik untuk kebutuhan santri.
Masya Allah…Qadarallah. Allah menjawab doa Abi dengan menggerakkan hati kami untuk ke pesantren dan di malam terakhir, menggerakan saya untuk beli tempat sampah walau Lisda sempat melarang. Kok bisa ya?
Kata Abi, “Allah malu kalau tidak mengabulkan doa hamba-nya yang hatinya terpaut dengan Al Quran, walau doa itu tidak sempat terucap.” Ya Allah, itu semacam teguran juga buat saya yang sedang galau.
Malam itu kami juga menyerahkan bingkisan berisi sarung, sajadah, baju koko dan sembako. Dan tumpukan kado-kado kecil dari para santri Rumah Quran Ar Rahman untuk santri ponpes.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya