Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Tahan Lapar

Catatan harian 9 Juli 2018:

Kesan pertama saya dengan kehidupan pesantren adalah. Santri harus tahan lapar. Bagaimana tidak? Mereka baru sarapan jam 8 pagi. Makan siang jam 2 siang, dan makan malam jam 8 malam. Saya saja yang dewasa merasa lapar bukan main! Apalagi santri?
Dan dibalik perjuangan santri menahan lapar, ada tim memasak yang bekerja hampir nonstop dari pagi sampai malam. Memang sudah kesepakatan kami untuk memasak dan menyediakan makan seluruh santri ponpes, agar kami tidak merepotkan. Kami yang belanja dan menyusun menu.
Sebagian perbekalan beli di Jakarta. Rafika Afriani dan beberapa wali santri bahkan memasak ayam dan tempe ungkep.
Kata Umi, istri Abi, santri biasa makan hanya dengan tahu/tempe. Makan telur jarang sekali, apalagi ayam atau daging. Itupun satu baki, mereka hanya dijatah tempe 3 potong, tahu 3 potong.
Padahal minimal ada 4 yang makan.
Maka kami merancang menu sebaik-baiknya yang cukup enak dan sudah pasti bergizi. Selama kami di sana, santri akhirnya merasakan makan telor, ayam, daging, sosis, nugget, camilan, teh manis dan buah.

Saya bisa lihat bagaimana wajah mereka terlihat sumringah saat melihat baki-baki mereka berisi makanan yang tergolong mewah untuk mereka. Mereka jarang makan sayur berkuah, karena tak ada mangkok. Katanya kalau sesekali masak sayur asam, para santri mencari gelas aqua bekas untuk diisi kuah sayur asem dengan sedikit ampas. Jadi mereka makan sambil minum kuah sayur asem.
Makanya waktu Umi tahu kami masak sop daging, Umi bilang, “biar santri kami makan sop-nya di baki saja.”
Tentu saja kami bengong, bu Mia salah satu tim masak kami bilang, “Gak usah umi, kami beli mangkok dan sendok, jadi biar kali ini santri makan sop daging di mangkok masing-masing.”
Umi pun tersenyum. Waktu makan tiba, santri menyerbu mengambil sop daging dan baki berisi bakwan, sosis, kerupuk dan sambal. Mereka girang.
Sarapan pagi, kami membuat teh manis hangat. Para santri pun menyerbu dengan heboh, maklum mereka hampir tidak pernah minum teh manis hangat di pondok.

Hari Jumat kami sengaja menambah menu buah dan es. Dan tentu saja para santri pesantren gembira.
Sebenarnya kami dari Rumah Quran Ar Rahman sudah biasa masak banyak, tetapi hanya sekali dalam seminggu yaitu di hari Jumat. Dan kali ini kami harus memasak 3 kali sehari dengan porsi hampir 2 kali lipat Jumat berkah.
Mau tahu bagaimana sibuknya kami memasak? Hanya ada 4 perempuan dewasa yang ikut rombongan kami, yaitu Ibu Eko, Ibu Mia, Lisda dan saya. Maka Cuma kami yang harusnya bertanggung jawab atas masakan. Tapi pada kenyataannya hanya Ibu Mia yang paling banyak berjibaku di dapur, dibantu santri perempuan. Saya lebih banyak keliaran.

Sejak subuh, tim dapur sudah sibuk memasak. Memasak nasi menggunakan panci kukusan yang besar butuh lebih dari 4 kali masak. Sekali masak butuh 45 menit. Ya Allah lama banget! Padahal sudah dibantu rice cooker juga. Belum masak yang lain, dengan kondisi kompor gas yang sudah ‘oleng’, panci terbatas.
Alhasil, selepas sarapan tim dapur sudah harus masak untuk makan siang, kelar makan siang harus sudah siap masak untuk makan malam. Capek tapi menyenangkan… Insya Allah berkah.
Kebayangkan bagaimana kami harus menahan lapar pada saat yang sama harus bekerja keras supaya makanan siap. Makanya saya sempat marah besar ketika salah seorang santri tak mau mencuci baki bekas makan karena sedang sibuk makan jajanan, padahal kami sedang buru-buru menyiapkan makan siang. Semakin marah ketika santri menolak juga waktu saya suruh mengangkat sop di panci besar.
Saya yang sedang lapar dan capek karena habis berbelanja marah. Saya bilang ke semua santri agar semua saling bantu tak peduli laki atau perempuan karena ini untuk kepentingan bersama.
Alhamdulillah sepanjang 3 hari 2 malam kami semakin belajar bagaimana saling berbagi, dan bekerja sama untuk ke pentingan bersama.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya