Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Surprise Show


Catatan harian bertanggal 2 September 2017:

Tiga bulan lalu, tekad saya sudah bulat untuk hijrah ke negeri seberang. Walau harus memunguti serpihan hati yang retak. Saya hendak memulai hidup baru.
Tiga bulan yang teramat berat buat saya. Rasanya saya ingin menghentikan detik jam agar saya bisa berpikir sejenak. Berpacu dengan waktu saya sempat memutuskan akan meninggalkan Indonesia 1 September 2017. Stay for good!
Hingga Qadarallah, saya masih di sini, di hari seharusnya
saya berangkat. Di hari anak-anak unjuk kebolehan.

Padahal 3 bulan lalu, saya hampir yakin pertunjukan "Si Mirah Singa Betina dari Marunda" tidak akan terjadi. Karena saya akan pergi. Namun sepanjang hampir 3 bulan itu saya gamang. Dan Allah memberi jawaban, saya harus tinggal lebih lama di sini.
Saya tidak bercerita tentang rencana saya. Tidak ada yang tahu kecuali keluarga dekat. Tapi saya beberapa kali mengirim sinyal kepada partner saya mengajar di Rumah Quran, juga beberapa santri kesayangan bahwa mereka harus mulai membiasakan diri tanpa saya.
Mungkin karena muka saya galau parah sepanjang tiga bulan ini. Jadi ya aura sedihnya terbawa. Hingga ada salah seorang anak bilang,"Saya gak ingin ibu pergi tapi kalau itu untuk kebahagiaan ibu. Pergilah sebelum terlambat."
Hingga hari ini, akhirnya saya menyaksikan anak-anak pentas. Yang membahagiakan adalah akhirnya anak-anak bisa masuk TV beneran. Penampilan mereka sangat luar biasa keren!
Dan selepas operet menurut rencana awal yang sudah disepakati, acara usai. Tapi kok, anak-anak malah berbaris rapih di panggung dan menyanyikan lagu "Terima Kasih guruku" lengkap dengan slideshow foto-foto saya di "layar tancep", saya yang cengeng sudah mewek duluan.
Itu belum usai, hingga Faras membaca puisi cinta untuk saya. Kemudian satu lagi gubahan yang membuat saya makin histeris nangisnya. Saya sudah tidak bisa mendengar dengan jelas. Anak-anak satu persatu mulai sesenggukan. Tak hanya anak-anak tapi juga ibu-ibu yang juga mengaji plus para penonton yang larut dalam keharuan.
Hingga giliran saya berpidato, dengan suara parau dan air mata yang masih bercucuran. Saya bilang, "Insya Allah saya akan terus di sini, hingga Allah menakdirkan episode lain untuk saya."
Anak-anak malah berlarian memeluk saya yang sudah jatuh melantai. Kami berpelukan dan menangis bersama. Semua larut dalam keharuan.
Ya Allah, itu bukan bagian dari skenario yang saya susun. Mereka sendiri yang merancang surprise show yang dramatis. Tangisan alami bukan akting.
Ini jawaban Allah! Saya masih di sini dengan orang-orang yang mencintai saya entah sampai kapan.
Masya Allah Tabarakallahu.
Fabiayyi Alaai Rabbikuma
Tukadzdziban!

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya