Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Surat Cinta Guru Ngaji yang Error


Catatan harian ini bertanggal 21 September 2017:

Begini nih surat pengumuman dari guru yang semacam rada error ke muridnya yang lebih error:
Sayang....

Mulai minggu depan kalau mau ngaji quran sama buku tulis bawa pulang ya. Jadi tiap hari membawa quran dan alat tulis kalau mau ke TPA. Bajunya juga yang layak buat ngaji, terutama buat perempuan.

Kalau perempuan itu baiknya jangan ngaji pake celana jins ketat, apalagi robek-robek. Gak pantes dan gak cantik. Udah itu ke TPA cuma bawa hape, gak bawa quran apalagi buku tulis.

Atuh si neng, "mau ngaji apa mau mejeng?"

Makanya saya 'jatuh hati' nih sama Asni. Dia tiap hari datang pakai baju koko sambil membawa tentengan isi Al Quran dan buku tulis. Ini beneran niat mau ngaji.

Sebetulnya, grup pengajian ibu-ibu dan kelas Iqra malah keren nih. Mereka kalau ngaji bawa tas isi Iqra/Quran dan alat tulis. Bajunya yang perempuan dress atau rok. Sambil menggendong tas, niat sekali ngajinya.

Tiada yang lebih membahagiakan saya yang lumayan lelah full jadwal selain melihat wajah kalian yang manis, penuh senyum lengkap dengan peralatan tempur menyambut saya yang tak kalah manis. Aihhh....

Jadi semacam ada energi tersendiri untuk mengajar. Bete dan capeknya hilang seketika.

Kalau mengaji dan bahasa Arab baiknya pakaiannya ala santri. Kalau bahasa Inggris boleh deh santai dikit tapi ya tetep ya jangan ketat dan robek-robek. heheheh....

Jumat malam besok tidak ada makan-makan tapi ada kelas mengaji. Kan semalam sudah makan malam bersama. Murojaah Quran dan Hadits plus materi tambahan ya. Ini materi gabungan di malam hari, dari kelas pagi hingga malam.

Jumat malam depan baru kita makan malam bersama sekaligus nonton bareng film G30S/PKI. Pasti ada tausyiah sejarah juga ya.

Jumat barokah siang, Insya Allah selalu ada ya.

Ok deh, kurang-kurangin lah itu "nge-gebet" sesama santri apalagi sama ustadz-nya. Haduh tepok jidat deh.

Jaga pandangan sayang! Pandangan pertama berkah tak ternilai, pandangan berikutnya bisa jadi bencana.

Jadi nanti atau besok, Quran sama buku tulis di basecamp tolong dibawa pulang. Tiap hari sekarang bawa quran dan alat tulis ya! Biar di rumah diulang bacaan dan hafalannya. Kalau semuanya ditinggal dibasecamp. Nah terus hasil saya cuap-cuap hampir dua jam apa dong? Jangan-jangan saya lelah saja, tak berbekas di otak apalagi hatimu.

"Yang kamu lakukan itu jahat!" Ala adegan Cinta sama Rangga sambil mencucu. Saya jadi Cinta-nya, Rangganya si Ubeth (kucing Rumah Quran Ar Rahman yang soleh).

"Tapi kan berat bu".

Aih nak.... beratnya Quran dan buku tulis tidak seberat beban hidup saya.

"Tapi bu kan jadi kayak santri?"

Lah kan emang mau ngaji. Nah terus kalau pakai baju gaul gitu trus di jalan ketemu layar tancep dan gebetan, langsung putar haluan gitu?

"Sungguh terlalu! Jadi saya dicampakkan begitu saja?"

Okelah, pengumuman sekali lagi hari ini ada silat jam 9 pagi ya. Insya Allah....

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya