Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Sopan


Catatan harian bertanggal 20 Juli 2018:

"Bu risma makasih ya bu telah mengajak saya jalan-jalan. Jalan-jalan kali ini memberi memberi banyak pelajaran untuk saya dan teman-teman yang lain..." Saya terpana menatap layar ponsel di whatsapp saya.
Baru saja saya mau bertanya siapa dia. Sebuah nama muncul di situ.
Saya tersenyum. Masya Allah...Anak muda itu.
Saya mengenalnya di program Sukabakti Menghafal. Bocah ABG dengan tatapan mata berbinar-binar setiap mengikuti kelas saya. Binar matanya memperlihatkan betapa dia sangat fokus dan konsentrasi menghafal.
Kelebihan lainnya. Dia salah satu santri paling sopan yang saya tahu. Tata bahasanya pun tersusun rapih, meski bukan basa-basi.
Saya pikir hubungan kami bakal kelar saat program Sukabakti Menghafal usai. Tetapi tidak, selepas jalan-jalan untuk para santri tergigih di Sukabakti Menghafal. Dia memutuskan untuk bergabung.
"Bu risma..... Insya allah nanti saya ikut mengaji bareng ya bu"
Saya jawab, "ok... semoga betah..."
Dan seperti waktu program Ramadhan. Bocah itu tetap dengan tekun memperhatikan saya. Dia bahkan tak mengobrol.
Di luar Rumah Quran pun dia tetap sopan. Dan saya tahu, dia tak hanya berlaku sopan kepada saya tetapi juga orang lain. Saya penasaran bagaimana sang ayah dan ibunya mendidiknya dengan baik di rumah.
Dan siang tadi, saat kami kerepotan membagikan makanan dan minuman karena kekurangan kru. Dia tak sungkan menawarkan bantuan, "boleh saya bantu ibu?"
Tentu saja dengan suka cita saya menyodorkan keranjang berisi makanan dan minuman. Dan masih banyak cerita lain tentang dia.
Sampai saya tulis di memoar, "Kamu sopan... Tapi saya belum jatuh cinta, gak tahu nanti sore atau besok."
Mengingat semakin kesini, kita semacam kehilangan generasi yang punya sopan-santun. Dan perilaku 'tak sopan' seseorang itu bisa menular seperti virus. Apalagi zaman sekarang seseorang yang sopan dibilang tidak gaul.
Mari kita doakan yang sopan menularkan kesopanannya kepada orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya