Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Sopan


Catatan harian bertanggal 20 Juli 2018:

"Bu risma makasih ya bu telah mengajak saya jalan-jalan. Jalan-jalan kali ini memberi memberi banyak pelajaran untuk saya dan teman-teman yang lain..." Saya terpana menatap layar ponsel di whatsapp saya.
Baru saja saya mau bertanya siapa dia. Sebuah nama muncul di situ.
Saya tersenyum. Masya Allah...Anak muda itu.
Saya mengenalnya di program Sukabakti Menghafal. Bocah ABG dengan tatapan mata berbinar-binar setiap mengikuti kelas saya. Binar matanya memperlihatkan betapa dia sangat fokus dan konsentrasi menghafal.
Kelebihan lainnya. Dia salah satu santri paling sopan yang saya tahu. Tata bahasanya pun tersusun rapih, meski bukan basa-basi.
Saya pikir hubungan kami bakal kelar saat program Sukabakti Menghafal usai. Tetapi tidak, selepas jalan-jalan untuk para santri tergigih di Sukabakti Menghafal. Dia memutuskan untuk bergabung.
"Bu risma..... Insya allah nanti saya ikut mengaji bareng ya bu"
Saya jawab, "ok... semoga betah..."
Dan seperti waktu program Ramadhan. Bocah itu tetap dengan tekun memperhatikan saya. Dia bahkan tak mengobrol.
Di luar Rumah Quran pun dia tetap sopan. Dan saya tahu, dia tak hanya berlaku sopan kepada saya tetapi juga orang lain. Saya penasaran bagaimana sang ayah dan ibunya mendidiknya dengan baik di rumah.
Dan siang tadi, saat kami kerepotan membagikan makanan dan minuman karena kekurangan kru. Dia tak sungkan menawarkan bantuan, "boleh saya bantu ibu?"
Tentu saja dengan suka cita saya menyodorkan keranjang berisi makanan dan minuman. Dan masih banyak cerita lain tentang dia.
Sampai saya tulis di memoar, "Kamu sopan... Tapi saya belum jatuh cinta, gak tahu nanti sore atau besok."
Mengingat semakin kesini, kita semacam kehilangan generasi yang punya sopan-santun. Dan perilaku 'tak sopan' seseorang itu bisa menular seperti virus. Apalagi zaman sekarang seseorang yang sopan dibilang tidak gaul.
Mari kita doakan yang sopan menularkan kesopanannya kepada orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak