Lelaki Dayuts

Image
ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya (dayuts).” (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Lalu siapakah lelaki Dayuts itu? Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu tetap menganggap baik pada keluarganya (padahal ada kemungkaran yang nyata -pen), kita berlindung kepada Allâh dari hal itu. [Al-Kabâ-ir, hlm. 137] Imam Ibnul Manzhûr berkata, “Dayûts adalah orang yang tidak cemburu kepada keluarganya”. [Lisânul ‘Arab, 4/456] Sedang Imam ‘Ali al-Qâri rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu dengan mendiamkannya. Yang masuk dalam ketagoeri keluarganya yaitu istriny…

Flashback: Sopan


Catatan harian bertanggal 20 Juli 2018:

"Bu risma makasih ya bu telah mengajak saya jalan-jalan. Jalan-jalan kali ini memberi memberi banyak pelajaran untuk saya dan teman-teman yang lain..." Saya terpana menatap layar ponsel di whatsapp saya.
Baru saja saya mau bertanya siapa dia. Sebuah nama muncul di situ.
Saya tersenyum. Masya Allah...Anak muda itu.
Saya mengenalnya di program Sukabakti Menghafal. Bocah ABG dengan tatapan mata berbinar-binar setiap mengikuti kelas saya. Binar matanya memperlihatkan betapa dia sangat fokus dan konsentrasi menghafal.
Kelebihan lainnya. Dia salah satu santri paling sopan yang saya tahu. Tata bahasanya pun tersusun rapih, meski bukan basa-basi.
Saya pikir hubungan kami bakal kelar saat program Sukabakti Menghafal usai. Tetapi tidak, selepas jalan-jalan untuk para santri tergigih di Sukabakti Menghafal. Dia memutuskan untuk bergabung.
"Bu risma..... Insya allah nanti saya ikut mengaji bareng ya bu"
Saya jawab, "ok... semoga betah..."
Dan seperti waktu program Ramadhan. Bocah itu tetap dengan tekun memperhatikan saya. Dia bahkan tak mengobrol.
Di luar Rumah Quran pun dia tetap sopan. Dan saya tahu, dia tak hanya berlaku sopan kepada saya tetapi juga orang lain. Saya penasaran bagaimana sang ayah dan ibunya mendidiknya dengan baik di rumah.
Dan siang tadi, saat kami kerepotan membagikan makanan dan minuman karena kekurangan kru. Dia tak sungkan menawarkan bantuan, "boleh saya bantu ibu?"
Tentu saja dengan suka cita saya menyodorkan keranjang berisi makanan dan minuman. Dan masih banyak cerita lain tentang dia.
Sampai saya tulis di memoar, "Kamu sopan... Tapi saya belum jatuh cinta, gak tahu nanti sore atau besok."
Mengingat semakin kesini, kita semacam kehilangan generasi yang punya sopan-santun. Dan perilaku 'tak sopan' seseorang itu bisa menular seperti virus. Apalagi zaman sekarang seseorang yang sopan dibilang tidak gaul.
Mari kita doakan yang sopan menularkan kesopanannya kepada orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019