Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Sinopsis "Si Mirah Singa Betina dari Marunda"



Catatan harian bertanggal 16 Agustus 2017:

Alkisah di jaman Belanda keadaan Marunda teramat kacaunya. Daerah pesisir Betawi ini sering didatangi perampok baik dari laut maupun dari darat. Para perampok datang merampas harta benda dan memperkosa perempuan, lalu pergi begitu saja setelah merasa puas. Jika ada yang berani melawan dibunuhnya.

Selain itu, Marunda juga sering didatangi jagoan dari tempat lain. Jagoan-jagoan itu menakut-nakuti penduduk, lalu memeras dan merampas hartanya.

Pihak penjajah Belanda kurang memperhatikan keamanan Marunda. Bahkan para kaki tangan Belanda justru lakukan pemerasan. Mereka adalah penguasa lokal, terdiri dari tuan-tuan tanah, demang dan opas yang kerap resahkan penduduk dengan menarik pajak yang memberatkan.

Syahdan, tersebutlah Bang Bodong seorang jagoan yang tinggal di Marunda. Lelaki itu dikenal pemberani dan penolong rakyat, namun tidak pernah sombong, meskipun tidak sedikit lawan yang dibuatnya pecundang. Bang Bodong mempunyai seorang anak perempuan, Mirah namanya.

Saat teman-teman lain sepantaran Mirah sudah menikah dan memiliki anak. Mirah malah makin asyik menekuni silat.

Padahal Mirah bukanlah gadis sembarangan. Siapa yang tak kenal dengan Mirah, gadis cantik anak Bang Bodong, jawara sakti dari Kampung Marunda. Pesona kecantikan Mirah jadi pembicaraan orang-orang tak hanya di dalam Kampung Marunda tetapi juga kampung-kampung tetangga. Tak ada lelaki yang tak mendambakannya.



Sebagai anak jawara sakti yang tak terkalahkan. Mirah sang kembang desa pun mewarisi kemampuan beladiri yang tinggi. Maklum saja, Mirah hampir tak pernah absen dalam setiap sesi latihan silat yang diadakan oleh Bang Bodong dan anak buahnya.

Bahkan Mirah jadi tangan kanan Bang Bodong dalam menjaga keamanan kampung Marunda. Para penjahat sering dibuat kocar-kacir oleh kemampuan silat Mirah pun tak terkalahkan.

Meski Bang Bodong terlihat bangga kepada kemampuan anak satu-satunya. Namun sejatinya, dalam hati Bang Bodong merasa khawatir kalau anak perawannya bakal susah mendapatkan jodoh. Apalagi Mirah sudah sesumbar bersumpah, bakal menikah cuma dengan pemuda yang mampu mengalahkannya bermain silat.

Kekhawatiran Bang Bodong pun terbukti. Saat teman sebayanya sudah memiliki anak keturunan. Mirah anaknya yang merupakan kembang desa belum juga beroleh jodoh.

Pasalnya, belum ada lelaki yang sepadan kemampuan bela dirinya dengan Mirah. Setiap lelaki yang datang melamar Mirah, selalu dibuat ‘keok’ saat diajak tanding silat.

Hingga takdir membawa Mirah pada dua pilihan kakak beradik Tirta dan Asni yang sama-sama mencintai Mirah. Tirta bajingan tengik, perampok yang ditakuti kala itu. Sedang Asni pemuda soleh, jawara dari Kemayoran.

Bagaimana akhir dari kisah Mirah? Rahasia deh!

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak