Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Si Joni

Catatan harian bertanggal 16 Juni 2017:


Namanya Joni, dia salah satu murid saya yang sudah ABG. Perawakannya tinggi besar dengan suara yang ngebas maksimal. Awal dia masuk, wajahnya terbilang menyeramkan bagi saya. 

Saya selalu membayangkan yang tidak-tidak tentang dia. Apalagi gayanya benar-benar seperti kebanyakan preman yang terbiasa mabuk miras atau koplo. Terus-terang saya takut.

Setiap dia datang ke kelas, saya tidak berharap banyak. Apalagi dia berteman dengan salah seorang murid yang dahulu terpaksa saya keluarkan karena sudah keterlaluan. 

Ketika saya memulai hafalan An Naba pun dia masih acuh. Ketika anak-anak lain sudah di ayat 20. Dia masih setia dengan ayat 8. Hingga akhirnya Ramadhan saya dan tim guru sepakat akan memberikan hadiah piknik bareng bagi yang sudah hafal An Naba, hadiah THR buat yang hafalannya paling oke, bahkan bisa melafalkan Arab dan artinya bolak-balik di luar kepala.

Saya pikir Joni acuh dengan challenge itu. Tidak! Joni gigih menghafal. Dia datang di kelas Subuh, mencuri waktu di siang dn sore untuk setoran hafalan di rumah saya. Bolak-balik pula dia saya suruh pulang untuk hafalkan lagi. 

Pada yang ke sekian kalinya dengan wajah memelas setelah saya bilang, hafalannya belum lulus. Dia bilang, "bu saya kok susah hafal..."

Saya tersenyum, "sering-sering bilang Astaghfirullahaladzim!"

Hingga akhirnya pada kali ke enam dia setoran, dia akhirnya lulus. Mata-matanya berkaca-kaca, "Jadi saya boleh ikut piknik bu?"

Saya tersenyum dan mengangguk. 

"Alhamdulillah", dia kegirangan.

Bagi Joni yang penting dia ikut piknik. Joni memahami kekurangannya yang susah hafal. Dia tak bermimpi berebut THR bagi penghafal terbaik.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak