Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Si Joni

Catatan harian bertanggal 16 Juni 2017:


Namanya Joni, dia salah satu murid saya yang sudah ABG. Perawakannya tinggi besar dengan suara yang ngebas maksimal. Awal dia masuk, wajahnya terbilang menyeramkan bagi saya. 

Saya selalu membayangkan yang tidak-tidak tentang dia. Apalagi gayanya benar-benar seperti kebanyakan preman yang terbiasa mabuk miras atau koplo. Terus-terang saya takut.

Setiap dia datang ke kelas, saya tidak berharap banyak. Apalagi dia berteman dengan salah seorang murid yang dahulu terpaksa saya keluarkan karena sudah keterlaluan. 

Ketika saya memulai hafalan An Naba pun dia masih acuh. Ketika anak-anak lain sudah di ayat 20. Dia masih setia dengan ayat 8. Hingga akhirnya Ramadhan saya dan tim guru sepakat akan memberikan hadiah piknik bareng bagi yang sudah hafal An Naba, hadiah THR buat yang hafalannya paling oke, bahkan bisa melafalkan Arab dan artinya bolak-balik di luar kepala.

Saya pikir Joni acuh dengan challenge itu. Tidak! Joni gigih menghafal. Dia datang di kelas Subuh, mencuri waktu di siang dn sore untuk setoran hafalan di rumah saya. Bolak-balik pula dia saya suruh pulang untuk hafalkan lagi. 

Pada yang ke sekian kalinya dengan wajah memelas setelah saya bilang, hafalannya belum lulus. Dia bilang, "bu saya kok susah hafal..."

Saya tersenyum, "sering-sering bilang Astaghfirullahaladzim!"

Hingga akhirnya pada kali ke enam dia setoran, dia akhirnya lulus. Mata-matanya berkaca-kaca, "Jadi saya boleh ikut piknik bu?"

Saya tersenyum dan mengangguk. 

"Alhamdulillah", dia kegirangan.

Bagi Joni yang penting dia ikut piknik. Joni memahami kekurangannya yang susah hafal. Dia tak bermimpi berebut THR bagi penghafal terbaik.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya