Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Flashback: Si Joni

Catatan harian bertanggal 16 Juni 2017:


Namanya Joni, dia salah satu murid saya yang sudah ABG. Perawakannya tinggi besar dengan suara yang ngebas maksimal. Awal dia masuk, wajahnya terbilang menyeramkan bagi saya. 

Saya selalu membayangkan yang tidak-tidak tentang dia. Apalagi gayanya benar-benar seperti kebanyakan preman yang terbiasa mabuk miras atau koplo. Terus-terang saya takut.

Setiap dia datang ke kelas, saya tidak berharap banyak. Apalagi dia berteman dengan salah seorang murid yang dahulu terpaksa saya keluarkan karena sudah keterlaluan. 

Ketika saya memulai hafalan An Naba pun dia masih acuh. Ketika anak-anak lain sudah di ayat 20. Dia masih setia dengan ayat 8. Hingga akhirnya Ramadhan saya dan tim guru sepakat akan memberikan hadiah piknik bareng bagi yang sudah hafal An Naba, hadiah THR buat yang hafalannya paling oke, bahkan bisa melafalkan Arab dan artinya bolak-balik di luar kepala.

Saya pikir Joni acuh dengan challenge itu. Tidak! Joni gigih menghafal. Dia datang di kelas Subuh, mencuri waktu di siang dn sore untuk setoran hafalan di rumah saya. Bolak-balik pula dia saya suruh pulang untuk hafalkan lagi. 

Pada yang ke sekian kalinya dengan wajah memelas setelah saya bilang, hafalannya belum lulus. Dia bilang, "bu saya kok susah hafal..."

Saya tersenyum, "sering-sering bilang Astaghfirullahaladzim!"

Hingga akhirnya pada kali ke enam dia setoran, dia akhirnya lulus. Mata-matanya berkaca-kaca, "Jadi saya boleh ikut piknik bu?"

Saya tersenyum dan mengangguk. 

"Alhamdulillah", dia kegirangan.

Bagi Joni yang penting dia ikut piknik. Joni memahami kekurangannya yang susah hafal. Dia tak bermimpi berebut THR bagi penghafal terbaik.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset