Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: The Show Must Go On!



Catatan harian ini bertanggal 28 Agustus 2016:

Semenjak kepergian Adam, bocah Amrik yang jadi murid ngaji kesayangan saya. Tentu saja saya tidak serta-merta menutup kelas mengaji di rumah. Apalagi ikatan saya dengan lima bocah yang tiap petang menyambangi rumah saya untuk mengaji sudah terlampau dekat. 

Setelah masa-masa kesedihan lewat, Najwa salah satu murid saya sengaja mengunjungi rumah saya untuk menanyakan kapan kelas mengaji akan dimulai lagi. Saya waktu itu agak ragu-ragu menjawab. Mengingat kesibukan lain sudah menanti. Namun akhirnya saya iyakan saja. "Ok, Insya Allah besok ya". 

"Beneran bu?" Mata Najwa menatap tajam ke arah saya untuk mencari dusta di mata saya. Saya mengangguk pasti.

Najwa pun berteriak girang sambil berlari pulang. Namun keesokan harinya, saya ternyata mangkir. Saya baru pulang 'ngantor' selepas Isya. Dengan rasa bersalah, saya yang capek dan bau kecut menyambangi rumahnya di luar komplek hanya untuk minta maaf, "maaf tadi mangkir karena baru pulang meeting. Besok
Insya Allah kita mulai lagi ngajinya".

Keesokan harinya, selepas shalat Maghrib saya sudah standby di ruang tamu. Duduk manis menanti murid-murid ngaji. Dalam benak saya, lima orang dikurangi Adam, maka tinggal empat bocah. Sip gampang, sejam kelar.

Ternyata, yang datang adalah belasan bocah dari umur 3 tahun hingga 12 tahun. Saya pun bengong saat buka pintu. Saya pun segera menarik Najwa dari kerumunan.

"Kamu yang undang mereka semua?" 

"Iya bu... Mereka juga mau mengaji bu..." Jawab Najwa polos. Dan saya rasanya mau nangis campur ketawa, bagaimana caranya mengajar semuanya. Dan kebanyakan dari mereka buta huruf Arab.

Saya tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Bismillahirrahmanirrahim! Saya pun mulai.

Akhirnya saya harus membagi kelas menjadi dua sesi. Jam 18.15-19.15 untuk pemula dan 19.15-20-30 untuk yang sudah rada jago. 

Setiap sesi, masing-masing murid bergantian membaca iqra atau Al quran. Setelah itu hafalan Surat Pendek, tajwid dan menulis Arab, sedikit cerita nabi atau pengetahuan keislaman.

Sesi pertama adalah yang paling capek. Ada bocah 3 tahun yang maunya saya pangku sepanjang sesi. Dan tentu saja ini memancing iri Sydney anak saya. 

Ada dua murid istimewa yang saya kehabisan cara bagaimana mentransfer ilmu ke mereka.Membaca syahadat saja belum lancar-lancar padahal sudah sebulanan ini. Ketika yang lain hafalannya sudah lewat surat Qul, mereka berdua masih stuck di dua ayat pertama Al fatihah. Sepertinya mereka punya masalah konsentrasi juga. Tapi salutnya dia menjadi murid yang paling semangat datang. Dengan baju koko cingkrang yang sudah lusuh dia datang ke rumah saya saban senja.

Setiap mau pulang biasanya saya kasih pertanyaan ke mereka. Murid yang bisa menjawab bisa pulang duluan. Dan mereka selalu pulang belakangan. Itupun setelah saya kasih pertanyaan paling gampang, "Siapa tuhan kamu?". 

Setiap hari selalu ada cerita tentang dua anak ini. Tapi suami saya selalu bilang, "siapa tahu dari dua anak ini yang bisa bawa kamu ke surga".

Kelas senior tak kalah seru. Mereka rata-rata sudah kenal
IQRA. Saya tak terlalu banyak tenaga. Bahkan dari 7 orang, 3-nya sudah Al Quran. Jadi saya hanya perlu memoles sedikit.

Kalau ditanya mengapa saya mau capek-capek meluangkan waktu untuk mengajar ngaji gratisan padahal waktunya juga lumayan sempit. Terlepas dari suratan takdir, saya ingat sebuah hadits, "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Itu juga cara saya mengajar Sydney. Saya yakin sekali walaupun Sydney sepanjang sesi kelas selalu petakilan, hingga saya sering sekali meminta bantuan si daddy untuk menenangkan Sydney yang jadi biang keributan. Sydney mencerna semua yang saya sampaikan. Hafalan surat pendek dia, lebih banyak karena mendengar. Anggap saja, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. 

Sekarang Sydney lagi suka menghafal surat Ar Rahman, karena kebetulan si mommy juga sedang menghafal itu. Tetapi sepertinya dia lebih cepat hafal dari saya. Maklum, anak kecil space otaknya masih sangat lapang. Hatinya pun masih bersih tidak seperti kita para orang tua yang sudah kebanyakan dosa.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya