Kesibukan Ramadhan Tahun Ini

Image
Masih lama dari deadline pendaftaran 1 Mei 2018. Tapi panitia sudah mulai sibuk, cetak-cetak yang perlu dicetak, video editing dan narasi sudah mulai digarap oleh tim ahli.  Karena Insya Allah, tahun ini BEDA. 
Hafalan tahun ini didukung dengan audio visual yang mumpuni untuk mempermudah proses hafalan ala metode Kauny ini. Insya Allah menggunakan 'fun theory' tapi tetap syar'i. 
Memang cuma 2 hari tapi 'full schedule'. Meski ada target hafalan, peserta juga akan mendapatkan materi lain untuk pemahaman surah Al Kahfi. Ada juga games untuk memudahkan proses hafalan dengan menggunakan flash card khusus, makanya workshop menghafal ini cocok dari anak-anak, sampai dewasa. 
Tim kami tak hanya digawangi oleh Majelis Al Kahfi, ibu-ibu yang sudah duluan menghafal Al kahfi, juga ada para profesional lulusan universitas dan pesantren ternama.
Kami sebetulnya hanya kumpulan orang fakir ilmu yang masih akan terus belajar sampai mati, sambil mentransfer sedikit ilmu kami. Kala…

Flashback: The Show Must Go On!



Catatan harian ini bertanggal 28 Agustus 2016:

Semenjak kepergian Adam, bocah Amrik yang jadi murid ngaji kesayangan saya. Tentu saja saya tidak serta-merta menutup kelas mengaji di rumah. Apalagi ikatan saya dengan lima bocah yang tiap petang menyambangi rumah saya untuk mengaji sudah terlampau dekat. 

Setelah masa-masa kesedihan lewat, Najwa salah satu murid saya sengaja mengunjungi rumah saya untuk menanyakan kapan kelas mengaji akan dimulai lagi. Saya waktu itu agak ragu-ragu menjawab. Mengingat kesibukan lain sudah menanti. Namun akhirnya saya iyakan saja. "Ok, Insya Allah besok ya". 

"Beneran bu?" Mata Najwa menatap tajam ke arah saya untuk mencari dusta di mata saya. Saya mengangguk pasti.

Najwa pun berteriak girang sambil berlari pulang. Namun keesokan harinya, saya ternyata mangkir. Saya baru pulang 'ngantor' selepas Isya. Dengan rasa bersalah, saya yang capek dan bau kecut menyambangi rumahnya di luar komplek hanya untuk minta maaf, "maaf tadi mangkir karena baru pulang meeting. Besok
Insya Allah kita mulai lagi ngajinya".

Keesokan harinya, selepas shalat Maghrib saya sudah standby di ruang tamu. Duduk manis menanti murid-murid ngaji. Dalam benak saya, lima orang dikurangi Adam, maka tinggal empat bocah. Sip gampang, sejam kelar.

Ternyata, yang datang adalah belasan bocah dari umur 3 tahun hingga 12 tahun. Saya pun bengong saat buka pintu. Saya pun segera menarik Najwa dari kerumunan.

"Kamu yang undang mereka semua?" 

"Iya bu... Mereka juga mau mengaji bu..." Jawab Najwa polos. Dan saya rasanya mau nangis campur ketawa, bagaimana caranya mengajar semuanya. Dan kebanyakan dari mereka buta huruf Arab.

Saya tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Bismillahirrahmanirrahim! Saya pun mulai.

Akhirnya saya harus membagi kelas menjadi dua sesi. Jam 18.15-19.15 untuk pemula dan 19.15-20-30 untuk yang sudah rada jago. 

Setiap sesi, masing-masing murid bergantian membaca iqra atau Al quran. Setelah itu hafalan Surat Pendek, tajwid dan menulis Arab, sedikit cerita nabi atau pengetahuan keislaman.

Sesi pertama adalah yang paling capek. Ada bocah 3 tahun yang maunya saya pangku sepanjang sesi. Dan tentu saja ini memancing iri Sydney anak saya. 

Ada dua murid istimewa yang saya kehabisan cara bagaimana mentransfer ilmu ke mereka.Membaca syahadat saja belum lancar-lancar padahal sudah sebulanan ini. Ketika yang lain hafalannya sudah lewat surat Qul, mereka berdua masih stuck di dua ayat pertama Al fatihah. Sepertinya mereka punya masalah konsentrasi juga. Tapi salutnya dia menjadi murid yang paling semangat datang. Dengan baju koko cingkrang yang sudah lusuh dia datang ke rumah saya saban senja.

Setiap mau pulang biasanya saya kasih pertanyaan ke mereka. Murid yang bisa menjawab bisa pulang duluan. Dan mereka selalu pulang belakangan. Itupun setelah saya kasih pertanyaan paling gampang, "Siapa tuhan kamu?". 

Setiap hari selalu ada cerita tentang dua anak ini. Tapi suami saya selalu bilang, "siapa tahu dari dua anak ini yang bisa bawa kamu ke surga".

Kelas senior tak kalah seru. Mereka rata-rata sudah kenal
IQRA. Saya tak terlalu banyak tenaga. Bahkan dari 7 orang, 3-nya sudah Al Quran. Jadi saya hanya perlu memoles sedikit.

Kalau ditanya mengapa saya mau capek-capek meluangkan waktu untuk mengajar ngaji gratisan padahal waktunya juga lumayan sempit. Terlepas dari suratan takdir, saya ingat sebuah hadits, "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Itu juga cara saya mengajar Sydney. Saya yakin sekali walaupun Sydney sepanjang sesi kelas selalu petakilan, hingga saya sering sekali meminta bantuan si daddy untuk menenangkan Sydney yang jadi biang keributan. Sydney mencerna semua yang saya sampaikan. Hafalan surat pendek dia, lebih banyak karena mendengar. Anggap saja, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. 

Sekarang Sydney lagi suka menghafal surat Ar Rahman, karena kebetulan si mommy juga sedang menghafal itu. Tetapi sepertinya dia lebih cepat hafal dari saya. Maklum, anak kecil space otaknya masih sangat lapang. Hatinya pun masih bersih tidak seperti kita para orang tua yang sudah kebanyakan dosa.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset