Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Flashback: Seto

Momen tuker kado

Catatan harian 7 Juli 2017:

Seto, pemuda tanggung yang belum genap lima belas tahun itu berdiri di hadapan saya. Dia menunduk canggung.

"Pulanglah nak... kamu harus pulang ikut bunda kamu kalau tidak...", saya sambil menahan tangis dan sakit kepala.

"Saya tidak mau bu... saya tidak mau pulang... saya mau di sini sampai piknik kelar", suaranya mulai bergetar. Matanya terlihat memerah.

"Kamu harus pulang... atau....", sebenarnya saya mau bilang saya yang pulang.

Seharusnya Seto tidak pernah ikut rombongan piknik kami kalau tidak atas rekomendasi salah satu santri terbaik Rumah Quran Ar Rahman. Seto tak masuk dalam list karena tidak masuk kualifikasi, tetapi takdir yang membawa dia masuk lewat hak suara santri terbaik.

Tiba-tiba ingatan saya mundur ke sehari menjelang piknik. Sepanjang siang hingga malam saya berkeliling ke seluruh orang tua tentang rencana piknik kami. Saya memang tidak memberi tahu kemana akan pergi tapi saya beritahu apa yang akan kami lakukan di sana juga perkiraan kapan pulang. Seharusnya tidak ada masalah.

Alasan saya tidak memberi tahu detil kemana akan pergi karena ini piknik kejutan. Di zaman internet, orang bisa googling tentang apa saja. Dan siapa yang bisa menjaga rahasia, kalau saya kasih tahu satu ortu sudah pasti anaknya akan tahu dan si anak akan kasih tahu yang lain dan lainnya.

Dengan datangnya saya ikut meminta izin, para orang tua berhak mengizinkan atau tidak. Tak ada masalah, toh saya tidak rugi, malah banyak yang masuk daftar cadangan sangat ingin ikut.

Dan orang tua itu terus mencecar saya pertanyaan yang tidak penting termasuk tentang kenapa orang tua tidak boleh ikut, katanya anaknya yang sekolah di sekolah elit kalau outbound orang tuanya ikut. Saya senyum, dalam hati saya bilang, "aihhh itu kalo di sana kan outbound-nya bayar, di sini. Haduh ini siapa sih yang masukin horang kayah di list. Dan memangnya cuma dia yang bisa sekolah di situ? Saya juga jebolan situ, dan saya juga beberapa kali dipanggil untuk jadi pembicara di sekolah itu.... bla bla bla".

Perasaan saya mulai tak keruan saya sudah berniat mencoret si anak dari daftar kalau tak ingat betapa manisnya tingkah laku si anak dan betapa girangnya dia saat tahu dia masuk dalam daftar. Saya tak mau mengecewakan si anak. Tapi rupanya keputusan saya salah.

Sejak pagi kami tiba di lokasi, saya sudah diberondong whatsapp dan telpon dari si orang tua. Saya tak selalu standby pegang handphone. Saya jawab pendek dan saya langsung masukkan ke grup wali santri agar saya tidak perlu mengulang informasi.

Saya masih diberondong miscalled dan pesan, hingga saya mendengar salah seorang santri memanggil Seto karena ada ibunya. Saya melihat dari kejauhan. Ya Allah, perempuan itu benar-benar datang.

Muka Seto memerah karena malu namun dia menghampiri juga ibunya. Perempuan itu tidak menghampiri saya, padahal dia baru saja memberondong saya dengan miscalled dan pesan.

Akhirnya saya balas dengan kesal di grup, "Maaf bunda Seto, saya tidak selalu available pegang handphone dan membalas pesan. Kalau bunda tidak percaya, baiknya kemarin tidak usah izinkan Seto ikut saya. Saya tidak memaksa Seto ikut, toh Seto aslinya tidak masuk dalam list. Dia masuk karena hak suara dari santri terbaik. Silahkan bunda bawa pulang saja Seto!"

Ibu Seto, marah besar. Dia malah bilang kalau anaknya tidak bodoh dia sekolah di tempat elit yang ada hafalan suratnya juga. Katanya hafalan surat An Naba itu materi kelas satu, cuma karena tidak pernah dipakai lagi jadi lupa. Dia juga menyombongkan kalau Seto hafal surah Al Mudatsir.

Intinya mana ada anak sekampung yang bisa sekolah di tempat elit itu dan hafal surat itu. Hampir saya terpancing dan bilang, "Lah situ horang kayah kenapa ngaji di tempat gratisan. Dan itu balita-balita yang ngaji sudah hafal Ar Rahman loh..."

Saya diam tak merespon. Itu membuat dia makin emosi. Saya diam hingga dia keluar grup dan melanjutkan memaki-maki saya. Tidak hanya dia tapi suaminya.

Awalnya Seto tidak mau pulang. Tapi saya yang memohon agar dia pulang kalau dia sayang saya.

Setelah dia pulang, telepon saya tak berhenti berbunyi. Saya tahu itu dari ayah ibu Seto. Nomer telpon kantor ayah Seto terasa familiar karena saya kan juga pernah sekolah di situ. Ayah Seto meninggalkan pesan whatsapp yang bikin saya makin sakit hati.

Keadaannya saya capek berat, mengurus 27 anak sendirian. Bahkan saya harus naik 3 kali ke wahana flying fox demi menemani anak-anak yang takut tapi ingin mencobanya sambil saya peluk. Dan saya seperti diteror, kepala saya pening antara mau pingsan. Tapi saya pilih menangis. Sudah lama saya tidak menangis, kali itu tangis saya bukan sesenggukan lagi tapi histeris. Anak-anak diam membisu melihat saya menangis.

Hampir sepuluh menit saya menangis hingga lega. Saya sodorkan handphone saya ke salah seorang pendamping agar dia menghapus pesan dan memblokir nomer-nomer itu.

Seharian itu kami bahagia sekali. Hingga kejadian yang merusak mood saya. Akhirnya kami pulang.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset