Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Sepatu Baru untuk Rahma



Catatan harian bertanggal 8 Februari 2017:

Sudah tiga bulanan ini hampir 30 anak yang mengaji gratis di rumah saya juga ikut menghafal surah Ar Rahman. Hasilnya lebih dari setengah anak usia 3-13 tahun hafal 78 ayat beserta arti perkata.

Setiap 4 bulan sekali saya biasanya kasih ujian tulis seputar materi yang diberikan plus ujian lisan untuk hafalan. Hasilnya berupa lembaran semacam rapor untuk para orang tua, agar mereka tahu selama ini si anak "ngapain" aja.

Iseng-iseng berhadiah, saya yang sempat ikutan teater di waktu sekolah dahulu dan pernah menulis skenario akhirnya mengajak anak-anak ikut menjajal sensasi bermain peran. Dengan mengajak sedikit memaksa adek-adekku widya dan Novan untuk jadi juru foto plus tukang desain, akhirnya kelar poster ini. 

Ini pertama kali anak-anak saya ajak masuk dapur rekaman. Meski rada kacau karena perdana dubbing, namun lumayan lah ya,

Operet ini rencananya bakal dipentaskan di panggung minggu depan. Kalau okey, mau dibikin film pendeknya ah. 

Kisahnya rada terinspirasi dengan film "Children of Heaven" sih tapi plotnya beda banget.

Biarpun operet, ini tidak joget-jogetnya kok.... Tapi tetap anak-anak banget!

Inilah ringkasan ceritanya:

Tersebutlah Rahma, seorang gadis 10 tahun lahir dari keluarga miskin pasangan Karta dan Humairah. Rahma memiliki adik yang masih balita namanya,  Aisha. Rahma dianugerahi otak yang cerdas, baik hati, sopan dan disukai banyak orang.

Sepatu satu-satunya milik Rahma sudah nyaris jebol. Itulah yang membuat Rahma sering menjadi olokan temannya, terutama Tasya. Rahma sebenarnya ingin punya sepatu baru, tetapi Rahma tahu diri orang tuanya tidak punya uang lebih. Untuk makan sehari-hari saja, mereka kesulitan.

Tasya, adalah anak semata wayang Pak Rahman. Ibu Tasya meninggal  saat melahirkan Tasya. Sehari-hari Tasya tinggal di rumah bersama pembantu karena Pak Rahman sibuk bepergian untuk urusan pekerjaan.

Tasya satu sekolah dengan Rahma. Tasya saingan berat Rahma di bidang akademik. Karena kurang perhatian Tasya jadi anak yang arogan, sombong dan hal-hal menyebalkan lainnya. Tasya benci Rahma. Menurut Tasya hidup Rahma terlalu sempurna. Punya keluarga harmonis yang selalu memperhatikannya.

Suatu hari, bu guru di sekolah Rahma dan Tasya mengumumkan adanya lomba menghafal surat Ar Rahman berhadiah uang 10 juta. Rahma sangat bersemangat untuk mengikutinya, karena dipikirnya uang sebanyak itu lebih dari cukup untuk membeli sepasang sepatu baru, membayar kontrakan dan juga modal dagang ayahnya.
Rahma pun bersemangat untuk mengikuti lomba itu. Waktu dua bulan dipergunakan Rahma untuk menghafal surat Ar Rahman. Semua teman-teman Rahma pun bersemangat untuk ikut serta. Tak terkecuali Tasya. Tasya ingin ikut lomba itu hanya untuk menyaingi Rahma.

Hari yang ditunggu pun tiba. Rahma sudah hafal 100 persen. Guru Rahma pun yakin kalau Rahma bisa memenangkan perlombaan itu. Namun, dalam perjalanan Rahma menuju tempat lomba, ia melihat Tasya diserempet motor, dan motornya kabur. Rahma pun tanpa ragu menolong Tasya dan membawanya ke Puskesmas. Beruntung Tasya tidak apa-apa hanya memar dan lecet, namun Rahma gagal mengikuti lomba Ar Rahman itu.

Suatu hari, Pak Rahman dan Tasya mengunjungi rumah Tasya. Sebelumnya Pak Rahman sudah mendengar banyak soal Rahma dari Tasya. Juga kegagalan Rahma ikut lomba menghafal Ar Rahman dan hadiah jutaan rupiah yang sangat diinginkannya untuk membayar uang kontrakan dan sebuah sepatu baru .

Sebagai ucapan terima kasih Pak Rahman karena Rahma telah menolong Tasya sewaktu Pak Rahman pergi dinas ke luar kota. Pak Rahman pun menghadiahkan rumah kontrakan untuk Rahma, asal Rahma mau murojaah Ar Rahman sampai selesai di depannya. Rahma berhasil memukau Pak Rahman, Tasya, ayah dan ibunya. Tasya menyodorkan bingkisan kecil sebuah sepatu cantik untuk Rahma. Pak Rahman juga berjanji akan menyekolahkan Rahma hingga lulus kuliah.


Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya