Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Rumah Quran Ar Rahman On The Street


Catatan harian bertanggan 13 Mei 2018:

Hari ini adalah hari yang gembira buat kami. Pasalnya selepas ashar kami pawai berkeliling kampung untuk menyambut Ramadhan 1439 H.
Berbeda dengan pawai tahun sebelumnya, tahun ini ada agenda baru yaitu "Rumah Quran on The Street". Mengajak preman atau tukang ojek ikut menghafal bersama dengan metode menghafal quran semudah tersenyum.
Saat kami menghampiri pangkalan preman agak kecut juga hati kami. Pasalnya Bang Badai, preman yang paling ditakuti di wilayah itu sedang mangkal.
Qadarallah, dia ikut menjajal menghafal quran surah Ar Rahman. Kelar menghafal, Bang Badai dan tangan kanannya Bang Tile tak bisa menahan haru. Ia buru-buru melipir bahkan tak mau menerima hadiah yang kami tawarkan. Sampai ustadz Sobari mengejarnya. Bang Badai bilang, dia ingin anak-anaknya ikut menghafal di Rumah Quran Ar Rahman.
Pak Sobari menawarkan untuk ikut serta juga. Bang Badai, preman berbadan kekar yang paling ditakuti seantero Jombang tak bisa menahan haru. Ia mengangguk sambil melipir.
Mari kita doakan ayat-ayat Quran yang baru saja dihafalnya menjadi pintu hidayah untuk Bang Badai.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan singgah di lapangan tempat para tukang ojek, preman biasa mangkal. Kebetulan lagi ada acara Persija, jadi banyak orang.
Para santri duduk melingkar, saya dan tim pun beraksi. Kali ini ada 4 orang laki-laki dewasa yang biasa nongkrong di tempat itu dan 4 anak-anak.
Karena keterbatasan waktu kami pun segera beringsut sebelum Maghrib. Alhamdulillah, pawai jelang Ramadhan usai.
Kami kembali ke Rumah Quran Ar Rahman 15 menit jelang maghrib. untuk minum dan makan snack.
Alhamdulillah! Masya Allah Tabarakallahu!

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya