Perempuan itu Bernama Kartini

Image
(repost pernah dimuat di jakartakita.com)

Hari ini (21/4/2019), 140 tahun lalu lahirlah seorang Kartini yang dianggap sebagai tokoh wanita pengusung emansipasi wanita. Begitu istimewanya Raden Ajeng Kartini, hingga hari lahirnya setiap tahun selalu diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Tak hanya sekedar dijadikan hari khusus setiap tanggal 21 April. Sejumlah seremonial simbolis pun menjadi bagian dari peringatan ini. Dari pawai keliling anak-anak yang berpakaian adat nasional, lomba kebaya, lomba memasak, dan lain-lainnya.
Seminar seputar peran serta perempuan di era modern yang katanya terinspirasi oleh perjuangan Kartini pun selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap peringatan. Kartini pun menjadi simbol dari sebuah pergerakan feminisme. Entah apakah mereka tahu apa sebenarnya arti feminisme. Apakah demikian yang dicita-citakan seorang Kartini?
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Lahir sebagai perempuan dari kalangan ningrat yang me…

Flashback: RQ Ar Rahman Goes to Picnic 3

Catatan harian bertanggal 1 Juli 2018:

Dari 150 peserta Sukabakti Menghafal, akhirnya hanya 86 orang yang ikut ujian. Yah begitulah seleksi alam. Ada sejak di pertengahan sudah mengundurkan diri karena ‘tidak kuat’. Ada yang sebenarnya ikut sampai akhir program tapi tidak cukup pede untuk ikut ujian lisan dan tertulis.
Akhirnya dari sekian banyak santri, kami memilih 32 santri saja yang bakal ikut piknik kali ini. Jadi total ada 40 orang yang bakal ikut seru-seruan bareng termasuk pembimbing.
Rencananya kali ini kita mau ‘mondok’ di salah satu pesantren di Ciomas, Bogor selama 3 hari 2 malam dari hari Kamis (5 Juli 2018) hingga Sabtu (7 Juli 2018). Semuanya gratis!
Petualangan kali ini Insya Allah lebih seru dari yang sebelumnya. Menjajal hidup sederhana di desa sambil ngaji. Sengaja kami tidak ambil pesantren yang modern. Pesantren ini salah satu yang minim dana.
Bagi warga Bogor yang mau intip keseruan kami yuk! Boleh banget datang. Apalagi sambil bawa makanan, beras, dan lain-lain.
Selama kami 'mondok', giliran kami yang memasak untuk santri Rumah Quran Ar Rahman dan santri pesantren An Nuur. Ini semacam hadiah dari kami biar sesekali makannya beda. Sesekali makan enak.
Mungkin nanti saya juga bakal butuh teman jalan orang Bogor untuk belanja-belanja sembako kebutuhan pesantren. Maklum, kami berempat puluh, berpetualang ke Bogor tidak menyewa mobil/bus yang standby selama 3 hari 2 malam.
Rencananya malah naik kereta, selain ngirit juga seru. Turun di stasiun Bogor tinggal carter 3 angkot. Pulangnya bisa carter bus pusaka sampai ciputat.
Di sana kami ‘mondok’ sesekali berpetualang keliling desa. Syukur-syukur kami dapat hafalan baru, atau teknik memperbaiki bacaan Quran kami.

Masya Allah Tabarakallah!

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset