Lelaki Dayuts

Image
ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya (dayuts).” (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Lalu siapakah lelaki Dayuts itu? Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu tetap menganggap baik pada keluarganya (padahal ada kemungkaran yang nyata -pen), kita berlindung kepada Allâh dari hal itu. [Al-Kabâ-ir, hlm. 137] Imam Ibnul Manzhûr berkata, “Dayûts adalah orang yang tidak cemburu kepada keluarganya”. [Lisânul ‘Arab, 4/456] Sedang Imam ‘Ali al-Qâri rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu dengan mendiamkannya. Yang masuk dalam ketagoeri keluarganya yaitu istriny…

Flashback: Rindu Masjid


Catatan harian bertanggal 22 Juli 2018:

Pada masa Rosululloh SAW masjid tidak hanya digunakan untuk sholat dan tempat beribadah saja tetapi juga untuk pertumbuhan dan perkembangan Islam dalam berbagai aspek.
Salah satu peran masjid yang utama adalah sebagai pusat pendidikan Islam. Masjid adalah madrasah bagi seorang muslim. Rosululloh SAW bersabda:
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّـهِ تَعَالَى يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّـهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّـهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah diantara rumah-rumah Alloh, mereka membaca kitab Alloh (Al-Quran) dan saling mempelajarinya diantara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka akan diliputi oleh rahmat serta diliput para malaikat dan Alloh menyebut-nyebut mereka di kalangan malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Abu Daud)

Sebenarnya jauh sebelum Rumah Quran pindah ke rumah kosong milik keluarga besar Engkong Ali. Saya sudah merindukan masjid.
"Kayaknya enak, kalau azan tinggal sholat berjamaah di masjid, setelah kelar bisa langsung menyelesaikan kegiatan belajar mengajar yang belum usai. Setidaknya tak perlu terburu-buru menyelesaikan kelas atau malah terpaksa mengejar materi hingga tidak sempat mengejar shalat jamaah di masjid/mushola karena jaraknya yang agak jauh."
Lokasi Rumah Quran Ar Rahman kini diapit oleh 2 tempat shalat yang jaraknya kira-kira 200-300 meter. Bila Ramadhan tempat shalat bertambah 1, yaitu masjid Al Barkah, Mushola Al Barkah dan Mushola di paviliun salah satu orang terkaya di kampung kami.
Saat azan Ashar, Maghrib berkumandang. Maka saya harus menghentikan kelas sementara waktu untuk shalat. Laki-laki di masjid/mushola, perempuan di RQ Ar Rahman. Karena jaraknya agak jauh, maka alhasil setelahnya jadwal kelas jadi molor. Bahkan terkadang ada anak laki-laki yang tidak kembali ke kelas karena 'nyasar' ke rumah atau malah 'nongkrong'.
Maka kadang saya dan guru lain harus mengambil langkah meneruskan kelas malam walau Azan Isya sudah berkumandang. Otomatis kami tak bisa shalat berjamaah, laki-laki tidak bisa ke masjid. Karena kami berpatokan pada dalil yang mengatakan bahwa shalat Isya waktunya panjang, bahkan hingga menjelang Subuh.
Tapi pertanyaannya adalah apakah yakin anak-anak akan shalat Isya sepulang dari ngaji? Wallahu'alam bisshawab. Masih di pandangan mata saja kadang saya mesti ngomel menyuruh anak-anak shalat apalagi di luaran sana.
Hal yang paling ironis adalah banyak yang senang datang ke pengajian tapi ogah shalat berjamaah ke masjid, terutama untuk laki-laki. Karena kewajiban shalat berjamaah di masjid/mushola itu untuk laki-laki. Bagi kaum perempuan lebih utama di rumah.
Dari pengalaman program Sukabakti Menghafal kemarin, azan maghrib langsung berbuka puasa. Kebanyakan dari kami terlalu mager untuk shalat berjamaah di masjid/mushola selepas membatalkan puasa dengan ala kadarnya sebelum makan besar. Alhasil, banyak yang shalat Maghrib-nya mepet Isya. Astaghfirullahal 'azhim
Ramadhan kemarin, Rumah Quran Ar Rahman, ramai dari Shubuh menjelang Isya. Tetapi malah masjid/mushola di kampung kami kurang ramai. Padahal seharusnya Ramadhan adalah saat terbaik untuk meramaikan masjid/mushola dan surau.
Dengan lokasi kami yang bukan di masjid/mushola juga membuat kami kadang seenaknya saja memperlakukan majlis ilmu itu. Kami para pengajar masih gagal mengajarkan bahwa ada batasan antara laki-laki dan perempuan dalam berinteraksi. Terkadang malah, selepas mengaji para santri 'nongkrong' di sekitar Rumah Quran sambil cekakak-cekikikan antara laki dan perempuan sampai larut malam padahal masih menenteng Quran. 🤦🏻‍♀️
Mungkin kalau semuanya masih di area masjid, akan lebih canggung berlaku yang tidak-tidak. Karena sejatinya belajar mengaji itu tidak hanya supaya ngajinya bagus, tapi akhlak dan lainnya juga mesti dibenahi.
Percuma pandai mengaji tapi tidak punya akhlak yang baik. Dan suatu hari nanti, kami para guru ngaji juga akan dimintai pertanggung-jawaban mengapa ayat-ayat yang kami ajarkan tak mampu memperbaiki akhlak kami dan para santri.
Makanya setiap pesantren atau sekolah Islam pasti punya masjid/mushola sendiri agar anak didik selain belajar agama juga belajar shalat berjamaah dengan baik. Walaupun adanya mushola/masjid di lingkungan belajar tidak selalu menjamin santri paham esensi masjid sebagai pusat pergerakan Islam. Setidaknya hati mereka sudah terpaut dengan masjid.
Lokasi yang ideal untuk Rumah Quran (tempat belajar quran) menurut saya adalah berada di lingkungan masjid/mushola. Berada di pinggir jalan, sehingga aktivitas apapun di Rumah Quran yang terlihat oleh lalu-lalang orang bisa menjadi pintu hidayah untuk siapapun yang melintas.
Semoga suatu saat nanti, sebelum saya tutup usia, berkesempatan menjadi bagian dari pergerakan masjid. Dimana saya bisa menimba
dan berbagi ilmu sambil beribadah di rumah suci umat Islam agar hatinya makin terpaut dengan masjid. Aamiin...

Comments

Popular posts from this blog

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019