Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Flashback: Puasa Perdana Sydney


Catatan harian bertanggal 15 Juni 2017:

"Mom, if i fast until maghrib can i invite Aura and Hafiza break the fast together in the mall?"

Saya menatap bocah 4,5 tahun yang sudah lebih dari setengah perjalanan ini puasa setengah hari. 

"Tapi kenapa kamu ajaknya Aura sama Hafiza?" tanya saya penasaran.

"Because they are my friends and they also fast until maghrib"

Aura dan Hafiza ini memang dua murid saya di kelas iqra. Usia mereka berbeda 2 tahun dengan sydney. Dan dua bocah ini saya tahu memang sudah berpuasa sampai maghrib. 

Sebetulnya Sydney belum wajib berpuasa. Dia masih tahap belajar. Puasa sampai dzuhur saja sepertinya sudah 'wow'. Tapi dia bertekad puasa sampai maghrib.

Akhirnya berangkatlah kami berempat ke mall terdekat dengan penuh perjuangan karena macet parah jelang buka. Semua restoran sudah fully booked. Saya makin panik karena ada 3 bocah yang berpuasa, termasuk Sydney yang perdana puasa sampai maghrib.

Satu-satunya restoran yang masih tersisa satu meja adalah restoran dengan nama Spanyol. Restoran ini menerapkan paket khusus buka puasa, dengan harga per orang yang cukup mahal. Tetapi memang merek menyediakan 'free flow drink' dan aneka takjil gratis.

Baru duduk 10 menit, azan maghrib. Pesanan kami belum sampai bahkan hingga jelang Isya. Anak-anak diganjal dengan takjil gratis dan minuman, plus coklat dan susu yang kami bawa dari rumah. 

Setengah tujuh malam, anak-anak mulai gelisah mau pipis. Aih toiletnya jauh, itu berarti saya mesti mengantar. Dan kalau satu ke toilet, semua harus ikut. Saya panik. 

Saya pun bertanya ke pelayan, "kira-kira pesanan saya berapa lama lagi?"

Pelayan pun mengkonfirmasi, "dua puluh menit lagi". 

Muka saya langsung kecut, "yah mas, saya gak yakin bisa menunggu selama itu dengan anak-anak yang mulai blingsatan. Boleh saya bayar takjil dan minuman saja?"

Saya pun diajak ke kasir. Saya mengulang permintaan saya untuk membatalkan pesanan dan membayar takjilnya saja. Sang kasir bilang, "tapi takjilnya gratis bu...."

"Lalu? saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi.... anak-anak saya sudah gelisah". 

"Sudah tidak usah bayar bu. Mohon maaf ya bu sudah menunggu lama".

Setelah mengucap terima kasih, saya pun permisi dengan menggandeng ketiga anak saya yang sudah heboh ingin pipis dan lapar. Diiringi dengan tatapan bingung plus kasihan tamu restoran yang lain. Jangan-jangan mereka menganggap itu modus operandi bisa makan gratis di restoran. 😃

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset