Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Flashback: Preman Belajar Ngaji


Catatan harian bertanggal 19 Mei 2018:

Sore ini kami kembali menyambangi pangkalan preman dan ojek untuk mengajarkan hafalan quran. Tak lupa membawa aneka takjil untuk dibagikan kemasyarakat.
Kami tak melihat bang Badai, tapi ada Bang Tile yang sedang sibuk jadi pengatur jalan raya yang macet jelang maghrib.
Kami melanjutkan hafalan surah Ar Rahman. Alhamdulillah kali ini kami menghafal sampai ayat 6 beserta arti selama hampir 1 jam.
Sebenarnya mereka ingin menambah sampai ayat 10, tetapi waktu yang sudah tidak memungkinkan.
Dengarkan bacaan qurannya deh...! Baguskan? Insya Allah jadi pintu hidayah buat mereka.
Kami sudah kepikiran sih membuat platform bisnis halal untuk para preman insaf yang ingin memulai hidup baru yang 'lurus'. Hal paling masuk akal yang bisa dilakukan dalam waktu dekat sih kayaknya, memberikan modal dagang. Tidak dalam bentuk uang, tapi barang dagangan. Tentu saja harus diseleksi dahulu. Wallahu'alam bisshawab
Saya sebagai penanggung jawab program, iseng bertanya pada bendahara di perjalanan pulang menuju Rumah Quran Ar Rahman. "Uang kita tinggal berapa?"
maklum kemarinan kita sempat deg-degan karena budget ifthar jadi 3 kali budget. Jadi amplop-amplop yang sudah disiapkan untuk perhari sepanjang Ramadhan "maju terus". Hari pertama ambil 3 amplop, begitu selanjutnya.
pak ustadz Ahmad Sobari bilang, "tenang aja, tar juga diganti Allah."
Baru bilang aamiin, whatsapp saya berbunyi, seorang teman mantan Metro TV yang suka membaca postingan ini mengirim pesan, "titip ya buat Rumah Quran". Alhamdulillah!!! Terharu sambil lonjak-lonjak kegirangan.
Insya Allah sebagian sembako, parsel alat sholat sudah dibeli. Saking banyaknya sampai ruang tamu rumah saya sesak. Bahkan uang untuk santunan anak yatim dan dhuafa sudah disiapkan. Dan sepertinya akan terus bertambah jumlahnya hingga mendekati lebaran.
terima kasih ya seksi repot yang rela bercapek-capek meski tidak dibayar, bahkan kadang kena omelan ☺️🤦🏻‍♀️

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset