Perempuan itu Bernama Kartini

Image
(repost pernah dimuat di jakartakita.com)

Hari ini (21/4/2019), 140 tahun lalu lahirlah seorang Kartini yang dianggap sebagai tokoh wanita pengusung emansipasi wanita. Begitu istimewanya Raden Ajeng Kartini, hingga hari lahirnya setiap tahun selalu diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Tak hanya sekedar dijadikan hari khusus setiap tanggal 21 April. Sejumlah seremonial simbolis pun menjadi bagian dari peringatan ini. Dari pawai keliling anak-anak yang berpakaian adat nasional, lomba kebaya, lomba memasak, dan lain-lainnya.
Seminar seputar peran serta perempuan di era modern yang katanya terinspirasi oleh perjuangan Kartini pun selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap peringatan. Kartini pun menjadi simbol dari sebuah pergerakan feminisme. Entah apakah mereka tahu apa sebenarnya arti feminisme. Apakah demikian yang dicita-citakan seorang Kartini?
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Lahir sebagai perempuan dari kalangan ningrat yang me…

Flashback: Pilu


Catatan harian bertanggal 16 Juni 2017, ini sudah merupakan tanda awal kedukaan yang memutuskan akhirnya 15 Oktober 2018 Saya mundur dari Rumah Quran Ar Rahman:


Belakangan ini saya diserang kegalauan akut. Semakin hari, terasa perpisahan saya dengan anak-anak kian dekat. 

Ketika spanduk "Rumah Quran Ar Rahman" itu terpasang di halaman basecamp kami. Saya terharu. Saya tidak membayangkan bisa seperti sekarang. Dukungan luar biasa dari banyak pihak yang membuat akhirnya kita benar-benar punya wadah.

Saya mengomentari mitra saya di rumah quran saat dia memotret spanduk kami, "berjanjilah denganku, spirit rumah quran Ar Rahman tetap menyala walau aku pergi".

Matanya mendelik, "mau kemana lo? Jangan bercanda ya bu Risma. Kamu tidak pergi secepat itu bukan?"

Saya menunduk menahan tangis. 

"Lihatlah... bukankah ini yang kita semua impikan. Anak-anak semua mencintai ibu. Juga orang tua mereka. Ibu mau pergi meninggalkan semua ini?"

Padahal saya belum bilang dengan jelas apa maksud saya. Namun dia sudah memberondongnya dengan kata-kata yang semakin mempertanyakan pilihan saya.

Lain waktu saya bilang ke sahabat setia saya bu Eko yang juga murid saya. Perempuan hampir setengah baya itu menangis saat saya bilang, "Yuk, kita atur waktu pikniknya segera. Takutnya ini sekalian farewell party".

"Apa sih? Jangan bercanda ya bu. Kamu tidak akan pergi secepat itu kan?" dia menyelidik. Saya hanya menangis dan menangis. Tanpa bisa menjelaskan.

Hingga saat selepas subuh, saat saya suruh dia mengaji, dia malah nangis sesenggukan. Air mata saya juga menetes pilu. Namun buru-buru saya hapus karena takut ibu-ibu lain melihatnya. Si ibu Eko dengan lirih berkata, "biar giliran yang lain dulu ngajinya". 

Setelah itu kami saling diam, dengan mata kami yang sama-sama sembab. Ibu-ibu yang lain hanya memandang heran.

Ah sudahlah.... Semoga ada jalan lain, agar saya tidak perlu meninggalkan semua ini.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset