Resolusi Tahun 2020

Image
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di awal tahun 2020. Tahun yang dulu saya pikir sangat 'sophisticated' seperti film The Matrix dan Science Fiction lainnya yang mengumbar kecanggihan tahun 2020. Atau malah awal dari apocalypse dunia.
Ternyata tahun 2020 tidak seheboh bayangan masa kecil saya, dimana dunia sudah sedemikian canggih dan penuh robot. Walau memang lebih canggih untuk beberapa inovasi, tapi ya masih tidak terlalu signifikan. 
"Yang canggih mah canggih. Yang terbelakang ya tetap terbelakang, susah listrik apalagi jaringan internet."
Lalu apa resolusi tahun barumu? Masihkah target-target dunia masuk dalam list?
Al-Qur’an surat al-Anbiyâ’ (21): 35 dan al-Ankabût (29): 57 menyebutkan bahwa semua yang bernyawa akan mati. Bahkan dalam surat al-A’râf (7): 34 ditegaskan bahwa semua umat mempunyai ajal (batas waktu) yang telah ditentukan oleh Allah. Ketika ajal tersebut sudah tiba, maka tidak bisa ditunda ataupun dipercepat barang sesaatpun. Namun demikian, kematian bu…

Flashback: Pilu


Catatan harian bertanggal 16 Juni 2017, ini sudah merupakan tanda awal kedukaan yang memutuskan akhirnya 15 Oktober 2018 Saya mundur dari Rumah Quran Ar Rahman:


Belakangan ini saya diserang kegalauan akut. Semakin hari, terasa perpisahan saya dengan anak-anak kian dekat. 

Ketika spanduk "Rumah Quran Ar Rahman" itu terpasang di halaman basecamp kami. Saya terharu. Saya tidak membayangkan bisa seperti sekarang. Dukungan luar biasa dari banyak pihak yang membuat akhirnya kita benar-benar punya wadah.

Saya mengomentari mitra saya di rumah quran saat dia memotret spanduk kami, "berjanjilah denganku, spirit rumah quran Ar Rahman tetap menyala walau aku pergi".

Matanya mendelik, "mau kemana lo? Jangan bercanda ya bu Risma. Kamu tidak pergi secepat itu bukan?"

Saya menunduk menahan tangis. 

"Lihatlah... bukankah ini yang kita semua impikan. Anak-anak semua mencintai ibu. Juga orang tua mereka. Ibu mau pergi meninggalkan semua ini?"

Padahal saya belum bilang dengan jelas apa maksud saya. Namun dia sudah memberondongnya dengan kata-kata yang semakin mempertanyakan pilihan saya.

Lain waktu saya bilang ke sahabat setia saya bu Eko yang juga murid saya. Perempuan hampir setengah baya itu menangis saat saya bilang, "Yuk, kita atur waktu pikniknya segera. Takutnya ini sekalian farewell party".

"Apa sih? Jangan bercanda ya bu. Kamu tidak akan pergi secepat itu kan?" dia menyelidik. Saya hanya menangis dan menangis. Tanpa bisa menjelaskan.

Hingga saat selepas subuh, saat saya suruh dia mengaji, dia malah nangis sesenggukan. Air mata saya juga menetes pilu. Namun buru-buru saya hapus karena takut ibu-ibu lain melihatnya. Si ibu Eko dengan lirih berkata, "biar giliran yang lain dulu ngajinya". 

Setelah itu kami saling diam, dengan mata kami yang sama-sama sembab. Ibu-ibu yang lain hanya memandang heran.

Ah sudahlah.... Semoga ada jalan lain, agar saya tidak perlu meninggalkan semua ini.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak

'Excellent Services' ala Rumah Sakit Hermina