Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Pilu


Catatan harian bertanggal 16 Juni 2017, ini sudah merupakan tanda awal kedukaan yang memutuskan akhirnya 15 Oktober 2018 Saya mundur dari Rumah Quran Ar Rahman:


Belakangan ini saya diserang kegalauan akut. Semakin hari, terasa perpisahan saya dengan anak-anak kian dekat. 

Ketika spanduk "Rumah Quran Ar Rahman" itu terpasang di halaman basecamp kami. Saya terharu. Saya tidak membayangkan bisa seperti sekarang. Dukungan luar biasa dari banyak pihak yang membuat akhirnya kita benar-benar punya wadah.

Saya mengomentari mitra saya di rumah quran saat dia memotret spanduk kami, "berjanjilah denganku, spirit rumah quran Ar Rahman tetap menyala walau aku pergi".

Matanya mendelik, "mau kemana lo? Jangan bercanda ya bu Risma. Kamu tidak pergi secepat itu bukan?"

Saya menunduk menahan tangis. 

"Lihatlah... bukankah ini yang kita semua impikan. Anak-anak semua mencintai ibu. Juga orang tua mereka. Ibu mau pergi meninggalkan semua ini?"

Padahal saya belum bilang dengan jelas apa maksud saya. Namun dia sudah memberondongnya dengan kata-kata yang semakin mempertanyakan pilihan saya.

Lain waktu saya bilang ke sahabat setia saya bu Eko yang juga murid saya. Perempuan hampir setengah baya itu menangis saat saya bilang, "Yuk, kita atur waktu pikniknya segera. Takutnya ini sekalian farewell party".

"Apa sih? Jangan bercanda ya bu. Kamu tidak akan pergi secepat itu kan?" dia menyelidik. Saya hanya menangis dan menangis. Tanpa bisa menjelaskan.

Hingga saat selepas subuh, saat saya suruh dia mengaji, dia malah nangis sesenggukan. Air mata saya juga menetes pilu. Namun buru-buru saya hapus karena takut ibu-ibu lain melihatnya. Si ibu Eko dengan lirih berkata, "biar giliran yang lain dulu ngajinya". 

Setelah itu kami saling diam, dengan mata kami yang sama-sama sembab. Ibu-ibu yang lain hanya memandang heran.

Ah sudahlah.... Semoga ada jalan lain, agar saya tidak perlu meninggalkan semua ini.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak